SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG / serbuiff

HomeAssalamu'alaikum wr.wb.
http://serbuiff.forumotion.com SITUS INI TERBUKA UNTUK UMUM DAN SIAPA SAJA DAPAT BERPARTISIPASI DI SITUS INI..... Terima kasih atas partisipasi dan perhatiannya.Wassalam. Selamat datang di situs ini, untuk netter islam mari kita sama2 bombardir situs2 anti islam yg menyerang Islam. INILAH ISLAM : Al Baqarah: 42 » Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. 2:42) -------- Al Baqarah: 177 » Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:177) ------- Al Baqarah: 215 » Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah:"Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. 2:215) ------- An Nisaa': 36 » Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. 4:36) ------- An Nisaa': 135 » Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. 4:135) -------- Al An'aam: 151 » Katakanlah:"Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu olwh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak,dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS. 6:151)
Glitter Text @ Glitterfy.com
Glitter Text @ Glitterfy.com
Make your own LED Scroller!
Make your own LED Scroller!

Glitter Text @ Glitterfy.com Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*] [url=http://www.glitterfy.com/][img]http://img31.glitterfy.com/247/glitterfy040818T211D33.gif[/img][/url] JUMLAH TAMU : START 31 AGUSTUS 2008 : web counter easy TANGGAL BERAPE YE ? :
LIHAT JAM BUNG...JANGAN LUPA WAKTU ....
JUMLAH TAMU YANG SEDANG ONLINE : web tracker PETA LOKASI TAMU :
Visitor Map
Create your own visitor map!
PENGUMUMAN : SYUKUR ALHAMDULILLAH KINI MP SAYA INI SUDAH PULIH KEMBALI SETELAH DIHECK NETTER KAFIR PENGECUT DAN BISA DIGUNAKAN LAGI.........SAYA PERSILAKAN PARA NETTER UNTUK MENGGUNAKANNYA KEMBALI......... link mp saya yg lain http://serbuiff.multiply.com. .....................TERIMAKASIH SAYA UCAPKAN ATAS KUNJUNGAN DAN PERHATIANNYA.............WASSALAM selamat datang di situs ini, untuk netter islam mari kita sama2 menyerang balik serangan orang2 anti islam ini , dg situs "andalan" mereka ... ... situs http://indonesia.faithfreedom.org.

 ................ Faithfreedom is billion dollar long term program supported by international christian organization and some American ‘non-profit’organization like USAID (this also provide financial support to local liberal ‘Islamic’ organization, but 20 times to Christian organization to make bad information about Islam). It is estimated as high as 1 billion USD to help such activities (online and offline activities in parallel) including proposal in degrading some countries like degrading down Saudi Arabia, Iran, Palestine, Iraq, Yemen, UAE, Qatar, Malaysia. However as usual they didn’t admit this sum of finance and program, they usually promote their support for ‘Islamic’ organization program. They will support to promote their country-link like Israel, Singapore, United States. Their programs are also supported by international oil companies which have interest to seize any chunk of oil resources all around the world. sumber : http://www.answering-faithfreedom.org/ Allah berfirman : يَاأَيُّهَاالَّذِينَآَمَنُواكُونوا أَنصَارَاللَّهِكَمَا قَالَعِيسَىابْنُ مَرْيَمَلِلْحَوَارِيِّينَمَنْ أَنصَارِيإِلَىاللَّهِقَالَالْحَوَارِيُّونَنَحْنُأَنصَارُاللَّهِفَآَمَنَتطَّائِفَةٌمِّن بَنِيإِسْرَائِيلَوَكَفَرَتطَّائِفَةٌفَأَيَّدْنَاالَّذِينَآَمَنُواعَلَىعَدُوِّهِمْفَأَصْبَحُواظَاهِرِينَ ......Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia:` Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? `Pengikut-pengikut yang setia itu berkata:` Kamilah penolong-penolong agama Allah `, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. 61:14)........ Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,(QS. 22:40) .......... saya dulu udah pernah nyerbu kemarkas iff, tetapi ternyata pengelolanya adalah kumpulan orang2 kafir yang pengecut jika ada postingan gue yg dianggap mereka merugikan dan membuat mereka terdesak maka mereka punya senjata andalan alias senjata pemungkas DELETE, LOCK, MASUK KERANJANG SAMPAH, RUANG TERROR,HUMOR........jika netter kafir caci maki mereka cuek bebeksaja,.......juragan bebek kali.........dan .......juragankodok........he,he,he.... memang kebanyakan orang kafir punya watak demikian pengecut,munafik, dan kaga adil / fair, bisanya nyebar fitnah dan bohong belaka,suka cari celah untukmenyerang islam....itu akan sia2saja ..... netter kafir disana kebanyakan pengecut untuk nyebutin apa agamanya aja kaga berani.........takut gue serang tuh agamanya.....karena ajaran agamanya emang pada kaga masuk akal dan merendahkan akal dan logika dan kaga ada apa2nya........bukti lain mereka pengecut yaitu dengan dilocked topic Kristen/Katholik Buddha, Hindu, Spiritualisme - Filsafat - Keyakinan Lain. ........islam dilawan ...... agama paling sempurna dan paling lengkap ajarannya membimbing manusia ke jalan yg lurus hingga hari kiamat kelak......... Firman Allah : 9 قُلْمَا كُنتُبِدْعًامِّنْالرُّسُلِوَمَاأَدْرِي مَايُفْعَلُبِي وَلَابِكُمْ إِنْأَتَّبِعُإِلَّا مَايُوحَىإِلَيَّ وَمَاأَنَاإِلَّانَذِيرٌمُّبِينٌ Katakanlah: `Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepaddaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan`. (QS. 46:9) Untuk para netter antiislam sebelum anda nanggapin saya, TOLONG SEBUTIN DULU NAMA DAN AGAMA ANDA ! jika tidak, saya anggap anda pengecut dan munafik ! OK ?............ .............semua netter dapat memberikan pertanyaan, jawaban , tulisan, bantahan, pendapat / opini, kritik dan saran melalu kolom "comment". Terimakasih saya ucapkan sebelumnya atas perhatian anda semuanya. .............. my link : http://serbuiff.multiply.com, http://blog.360.yahoo.com/pipin234, http://erzal.wordpress.com, http://serbuiff.blogspot.com , DI SITUS ITU NABI MUHAMMAD BENAR2 DIRENDAHKAN, APA MEREKA TIDAK TAHU SIAPA NABI MUHAMMAD ITU ATAU PURA2 TIDAK TAHU , LIHAT INI : Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah oleh Michael H. Hart Indeks Iptek | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota 01. NABI MUHAMMAD (570 SM - 632 SM) Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar. Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia. Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar. Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan. Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan. Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya. Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642. Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol. Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam. Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan. Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama. Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan. Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak. Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Michael H. Hart, 1978 Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982 PT. Dunia Pustaka Jaya Jln. Kramat II, No. 31A Jakarta Pusat Indeks Iptek | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team /////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////// ANDA INGIN COPY ATAU JADIKAN LINK ? 100 % TIDAK ADA MASALAH...... ///////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
.
Photo AlbumPhotos
ddd
dThumbnaild
ddd
Aksi Tolak RUU APP di Bundaran HI Diwarnai Pamer Payudara oleh waria
1 Photo, 17 comments
ddd
dThumbnaild
ddd
IFF STUPID FACTORY
1 Photo, 15 comments
ddd
dThumbnaild
ddd
Hai orang2 kafir !!! GO TO HELL !!! alias pergi ke neraka !!!... jangan ngajak2 ane ye ....pergi aje sendiri ....he,he,he
3 Photos, 18 comments
ddd
dThumbnaild
ddd
TERRORIS
4 Photos, 5 comments

.
Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal IV. DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA Perawakan dan sifat-sifat Muhammad - 75; Penduduk Mekah membangun Ka'bah - 77; Putusan Muhammad tentang Hajar Aswad - 78; Pemikir-pemikir Quraisy... more
Previous blog entries:
Mar 25-Tentang pemindahan arah kiblat dan perintah berkiblat di masjidil haram
Mar 25-Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal BAGIAN KEDUAPULUH EMPAT: PEMBEBASAN MEKAH (1/3)
Mar 5-April Mop Adalah Perayaan Pembantaian Ummat Islam
...
   
bombsai wrote on Nov 13
good luck always..........................!
sama-sama ya...good luck always...
bakulgetuk wrote on Nov 12
good luck always..........................!
serbuiff wrote on Nov 9
totombe said
kayaknya gak nyambung deh... FFI menyerang islam tanpa mbela kristen kok. dan kristen-islam sama gilanya kok.
guoblok, iff itu milik ktristen ....islam nggak gila kok....
serbuiff wrote on Nov 9
Hayo untuk gembong2 IFF mau debat disini ini juga kite layanin..... biar ta' pancungin semuanya ... click : http://www.a-free-guestbook.com/gb/serbuiff/
totombe wrote on Nov 3
kayaknya gak nyambung deh... FFI menyerang islam tanpa mbela kristen kok. dan kristen-islam sama gilanya kok.
bombsai wrote on Oct 20
adm2i2 said
hahahaha....sejak kapan luh dan gerombolan luh berkata baik terhadap yg bukan muslim ?????
liat aja tuh klo luh orang lg ngomong mengenai yahudi..amerika....dll....hahaha...munafik luh
loh mereka memang terroris kok, kalau lu sih memang dari dulu dan seua orang tahu lu hobinya ngomong cabul dan kotor...lu sekolah ape kaga sih ? ...yesus apa ngajarin ngong cabul ? ...jawab aja ini kalau bisa...
adm2i2 wrote on Oct 18
bombsai said
..lihat Islam, ngajarin umatnya untuk berkata baik
hahahaha....sejak kapan luh dan gerombolan luh berkata baik terhadap yg bukan muslim ?????
liat aja tuh klo luh orang lg ngomong mengenai yahudi..amerika....dll....hahaha...munafik luh
bombsai wrote on Oct 17
adm2i2 said
salam dr belanda eh muslim jancok...kowe iku kontolne muhammad da rasul itil
Ngakunya pengikut yesus yg setia tapi kok suka ngomong cabul ya ...apa agama kristen ngajarin begitu ya ? ..lihat Islam, ngajarin umatnya untuk berkata baik. Lihat : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah).
adm2i2 wrote on Oct 16
salam dr belanda eh muslim jancok...kowe iku kontolne muhammad da rasul itil
bombsai wrote on Sep 26
Umur Aishah r.a. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah



Adaptasi dari terjemahan Bahasa Inggeris kertas kerja hasil kajian oleh Maulana Habibur Rahman Siddiqui Kandhalawi. Beberapa pindaan dari teks asal dibuat untuk tujuan menjelaskan fakta.





Audio Penjelasan Berkenaan Umur Aisyah


Sesi 1
Play Mp3
Download MP3 Sesi 2
Play Mp3
Download MP3


Umur Aishah r.a. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah



1. Pengenalan

2. Penghargaan Kepada Penulis

3. Mukaddimah



Hujah Pertama – Bertentangan Dengan Fitrah Manusia



Hujah Kedua – Bertentangan Dengan Akal Yang Waras



Hujah Ketiga – Tiada Contoh Ditemui Di Negeri Arab Atau Di Negeri Panas



Hujah Keempat- Riwayat Ini Bukan Hadis Rasulullah S.A.W.



Hujah Kelima – Riwayat Ini Diriwayatkan Oleh Hisham Selepas Fikirannya Bercelaru



Hujah Keenam – Hanya Perawi Iraq Yang Menukilkan Riwayat Ini



Hujah Ketujuh – Aishah R.A Masih Ingat Ayat Al-Quran Yang Diturunkan Di Tahun Empat Kerasulan



Hujah Kelapan – Aishah R.A Masih Ingat Dengan Jelas Peristiwa Hijrah Abu Bakar R.A. Ke Habshah



Hujah Kesembilan – Aishah R.A. Mengelap Luka Dan Hingus Usamah Bin Zaid R.A. Yang Dikatakan Sebaya Dengannya



Hujah Kesepuluh – Ummul Mu’minin R.A. Turut Serta Di Dalam Peperangan Badar



Hujah Ke-11 – Aishah R.A. Menyertai Perang Uhud Sedangkan Kanak-Kanak Lelaki Berumur Empat Belas Tahun Tidak Dibenarkan Menyertai Perang



Hujah Ke-12 – Aishah R.A. Lebih Muda 10 Tahun Dari Kakaknya Asma, Dan Semasa Peristiwa Hijrah Asma R.A. Berumur 27 Atau 28 Tahun



Hujah Ke-13 – Ahli Sejarah At-Tabari Mengatakan Aishah R.A. Lahir Di Zaman Jahilliyah (Sebelum Kerasulan)



Hujah Ke-14 – Aishah R.A. Adalah Antara Orang-Orang Yang Terawal Memeluk Islam



Hujah Ke-15 – Abu Bakar R.A. Bercadang Mengahwinkan Aishah R.A. Sebelum Berhijrah Ke Habshah



Hujah Ke-16 – Aishah R.A. Disebut Sebagai Gadis Dan Bukan Kanak-Kanak Semasa Dicadangkan Untuk Bernikah Dengan Rasulullah

Hujah Ke-17 – Rasullulah Tidak Tinggal Bersama Aishah R.A. Kerana Masalah Mendapatkan Mahar, Bukan Kerana Umur Aishah Yang Terlalu Muda



Hujah Ke-18 – Hadis Yang Mensyaratkan Mendapat Persetujuan Seorang Gadis Sebelum Dikahwinkan Memerlukan Gadis Tersebut Telah Cukup Umur



Hujah Ke-19 – Kebolehan Luarbiasa Aishah R.A Mengingati Syair Yang Biasa Disebut Di Zaman Jahiliyah Membuktikan Beliau R.A. Lahir Di Zaman Jahiliyah



Hujah Ke-20 – Kemahiran Dalam Sastera, Ilmu Salasilah Dan Sejarah Sebelum Islam



Hujah Ke-21 – Keinginan Mendapatkan Anak Dan Naluri Keibuan Tidak Mungkin Timbul Dari Kanak-Kanak Bawah Umur



Hujah Ke-22- Aishah R.A. Sebagai Ibu Angkat Kepada Bashar R.A. Yang Berumur Tujuh Tahun Selepas Perang Uhud



Hujah Ke-23- Wujudkah Perkahwinan Gadis Bawah Umur Di Tanah Arab Dan Dalam Masyarakat Bertamadun?



Hujah Ke-24 – Kesepakatan (Ijmak) Umat Dalam Amalan

Perbahasan Tentang Usia Sebenar Khadijah R.A. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah S.A.W





1. PENGENALAN



Hazrat Allama Mohammad Habibur Rahman Kandhalwi (almarhum) dikenali sebagai salah seorang ulama yang unggul di India -Pakistan. Dalam satu masa yang sama, dia merupakan seorang hafiz dan qari, ulama yang terkemuka dalam bidang tafsir dan hadis, juga seorang penyusun dan pengarang kepada kajian akademik yang tinggi serta penterjemah bahan-bahan akademik dari Bahasa Arab ke Bahasa Urdu.



Kertas kerja ringkas ini adalah berhubung dengan sesuatu isu yang sangat sensitif dan penting. Ia adalah mengenai umur Ummul Mu’minin Saiditina ‘Aishah Siddiq (r.a), semasa berkahwin dan mula tinggal bersama Rasullullah s.a.w. Isu ini menjadi perbahasan berlarutan di antara ulamak dan penyelidik sejak dahulu. Tuan Allama telah mengemukakan idea baru dalam isu ini dan telah menyelesaikan masalah yang penting dan selalu dipertikaikan ini, dan telah berjaya menentukan ‘umur’ sebenar Saidatina ‘Aishah (r.a) berpandukan kepada Ilmu Rijal dan pernyataan para sahabat r.a., ahli hadis dan ahli tafsir, termasuklah pernyataan mutlak oleh Ummul Mu’minin r.a. sendiri.



Adalah penting untuk kebaikan ummah buku ini yang asalnya di dalam bahasa Urdu, diterbitkan dalam Bahasa Inggeris (dan juga Bahasa Melayu). Dengan rahmat Allah, kami telah mencapai objektif ini dengan jayanya. Usaha ini dan juga khidmat-khidmat agama Almarhum Allama Habibur Rahman Kandhalwi adalah layak mendapat setinggi-tinggi penghargaan dan penghormatan. Semoga Allah taala memberi ganjaran yang tidak terhingga kerana khidmatnya yang tidak pernah mengenal penat dan lelah ini. Aamin!



Akhir kata, saya ingin merakamkan ucapan tahniah kepada En. Nigar Erfaney, seorang wartawan dan juga penulis berpengalaman, yang telah mengalihbahasa kertas kerja yang rumit dari Bahasa Urdu ke dalam Bahasa Inggeris yang ringkas dan jelas, tanpa menghiraukan kesakitan dan kesulitannya yang berpanjangan.



Shafaat Ahmed

Al-Rahman Publishing Trust (Regd)

Nazimabad, Karachi (PC-74600)

Pakistan.



9 Dis 1997





2. PENGHARGAAN KEPADA PENULIS



Ini adalah kertas kerja bertajuk “Umer-e-Aishah” (Umur ‘Aishah), yang asalnya ditulis dalam Bahasa Urdu dan telah diterjemah dalam Bahasa Inggeris (yang kemudiannnya diterjemah ke dalam Bahasa Melayu pula). Ia adalah tentang umur Saidatina ‘Aishah r.a, anak perempuan Saidina Abu Bakar r.a dan isteri kedua Nabi Muhammad s.a.w, ketika berkahwin dengan Rasullullah s.a.w. Buku ini mengupas tiga persoalan penting iaitu : (1) Bilakah beliau dilahirkan? (2) Berapakah umur beliau semasa bekahwin? (3) Bilakah beliau mula tinggal bersama suaminya s.a.w? Tujuan kertas kerja ini ialah untuk menolak daayah dan propaganda tidak berasas yang dipelopori oleh golongan munafik dan Syiah. Dengan berbekalkan sedikit pengetahuan, saya telah menterjemahkan karangan yang berharga ini atas permintaan peneraju “Al-Rahman Publishing Trust” (Karachi, Pakistan). Sungguhpun ianya adalah tugas yang berat namun kecintaan saya terhadap Ummul Mu’minin r.a. telah memberikan peransang dan kekuatan kepada saya. “Al-Rahman Publishing Trust” yang merupakan sebuah institusi sukarela yang bekerja untuk Islam, seharusnya mendapat pujian yang tinggi kerana mengendalikan amanah penting ini.



Penulis telah mengenalpasti beberapa agenda propaganda oleh puak Syiah, berdasarkan kepada riwayat Hisham seperti berikut:



1- Saidatina ‘Aishah r.a. telah berkahwin dengan Nabi Muhammad s.a.w. ketika berumur enam tahun dan mereka mulai tinggal bersama semasa umurnya sembilan tahun, iaitu selepas Hijrah ke Madinah; dan beliau membawa bersama-sama anak patungnya ke rumah suaminya (Nabi s.a.w.).



2- Saidatina Khadijah r.a. berkahwin dengan Nabi Muhammad s.a.w. pada ketika umurnya 40 tahun.



3- Saidatina Fatimah r.a., anak perempuan Nabi s.a.w telah berkahwin dengan Saidina Ali r.a. sewaktu berumur sembilan tahun, di Madinah selepas Hijrah.



Allama Habibur Rahman Kandhalwi telah menolak sekeras-kerasnya pernyataan di atas dengan mengatakannya adalah tidak berasas dan merupakan suatu pengkhianatan. Beliau seterusnya mengatakan bahawa pernyataan tersebut merupakan konspirasi orang Syiah untuk mencemarkan kehormatan Nabi s.a.w., (yang telah diketahui umum semenjak dari Zaman Jahiliyyah). Tidak syak lagi, hasil kajian oleh Allama Habibur Rahman Kandhalwi ini telah menyedarkan Dunia Islam. Ianya unik dan mempunyai nilai akademik yang tinggi. Meskipun ia adalah sebuah kertas kerja yang ringkas, namun ianya lengkap dan tepat. Beliau telah mengemukakan 24 hujah yang kukuh untuk menyokong pendapatnya. Beliau berhujah berdasarkan al-Qur’an, hadis-hadis dan tafsir atau kata-kata sahabat, termasuklah semua pendapat berhubung dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, khususnya dalam bahagian pertama buku ini iaitu daripada hujah pertama hingga hujah kesebelas. Dalam bahagian kedua, daripada hujah ke dua belas sehingga hujah ke dua puluh empat, Allama telah berhujah berdasarkan fakta sejarah, sosiologi, saikologi, seksologi dan statistik. Beliau berjaya membuktikan bahawa cerita yang disebarkan adalah tidak berasas dan direka-reka, dengan tujuan untuk menjatuhkan keperibadian tinggi Nabi s.a.w., isterinya yang soleh iaitu ‘Aishah r.a., dan mereka yang terkemuka dalam Islam, dengan niat jahat dan kempen kotor yang didalangi oleh golongan munafik dan Syiah.



Allama Habibur Rahman Kandhalwi telah didorong oleh kekuatan Iman dan pemahaman yang mendalam orang yang beriman. Beliau telah menyampaikan hujah dan pendapatnya dengan tepat. Pengetahuannya tentang ilmu mantik, sains perubatan, saikologi terutamanya saikologi wanita berkahwin, minatnya kepada prosa dan puisi, dan juga statistik dengan kemahirannya menganalisa fakta-fakta dan perangkaan sepatutnya mendapat sanjungan tinggi. Beliau juga mempunyai kemahiran sebagai seorang guru dalam merumuskan keputusan sebagai seorang pakar statistik.



Dengan izin dan kurnia Allah s.w.t., penulis telah menyelesaikan kekeliruan yang dicipta oleh golongan Syiah di dalam buku-buku yang telah ditulis pada 13 abad yang lalu. Beliau telah membuktikan bahawa:



(1) Saidatina ‘Aishah r.a. telah berkahwin pada usia yang sesuai iaitu 16 tahun (bukannya enam tahun), dan mula tinggal bersama suaminya s.a.w. ketika umurnya 19 tahun (bukannya sembilan tahun) selepas peristiwa Hijrah ke Madinah.



(2) Umur Saidatina Khadijah r.a. adalah 25 tahun (bukannya 40 tahun) semasa beliau mengahwini Nabi Muhammad s.a.w. yang mana pada ketika itu juga turut berumur 25 tahun. Khadijah r.a. bukanlah seorang wanita yang tua semasa berkahwin dengan Rasullullah s.a.w., malah kedua-duanya adalah sebaya. Nabi s.a.w. telah melalui zaman mudanya bersama dengan seorang wanita sebaya di mana mereka memperoleh empat orang anak perempuan dan tiga orang anak lelaki. Mereka saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, dan menikmati kebahagiaan hidup bersama.



(3) Anak perempuan Nabi s.a.w., Saidatina Fatimah r.a. telah dilahirkan di Mekah sebelum Nabi dilantik sebagai rasul, dan telah berkahwin dengan Saidina Ali r.a. di Madinah pada usia yang sesuai iaitu 19 tahun (bukannya sembilan tahun).



Beliau telah berjaya membuktikan bahawa Muhammad s.a.w., rasul terakhir, adalah manusia yang paling agung di alam semesta ini dan juga pembimbing serta guru yang terhebat di kalangan umat manusia, tidak mengahwini seorang wanita tua demi kekayaan, juga tidak mengahwini gadis bawah umur (yang berumur sembilan tahun). Baginda ialah seorang yang tinggi adabnya dan bertamadun dan hidup dalam masyarakat yang bertamadun, di mana perkahwinan di bawah umur adalah sesuatu yang hina. Jadi, bagaimana mungkin baginda s.a.w. mengahwini seorang kanak-kanak yanh masih mentah ? Dan juga beliau berjaya membuktikan bahawa tiada perbezaan umur di antara baginda dan Saidatina Khadijah r.a., sorang janda muda, yang mana menunjukkan bahawa baginda melepasi masa mudanya bersama dengann seorang wanita yang sama padan iaitu seorang bangsawan yang telah mendapat gelaran ‘Wanita Suci’ semasa Zaman Jahiliyah di Mekah.



Penulis juga telah menjelaskan mengapa orang-orang munafik dan Syiah terus menerus mengganggu Islam dan orang-orang Islam. Jelasnya mereka mahu menghalang Islam dari disebarkan dan mahu mencampakkan keraguan orang Islam terhadap Nabi s.a.w., Ummul Mu’minin r.a., dan juga pengikut-pengikut Islam yang mulia. Juga mereka ingin menyediakan alasan rapuh kepada orang bukan Islam supaya menolak Islam. Semoga Allah menimpakan laknat ke atas penipu-penipu itu. Orang-orang munafik dan Syiah telah melampaui batas apabila menyebarkan fitnah bahawa Nabi s.a.w. telah mengahwini seorang janda tua yang kaya untuk mengambil kesempatan ke atas harta kekayaannya. Tidak hairanlah masyarakat Kristian di Eropah dan Amerika, mempersendakan Islam dan nabinya dengan menyindir : “Jika kamu tidak ingin papa, kahwinilah seorang janda kaya.”



Penulis juga mendedahkan bagaimana puak Munafik dan golongan Syiah telah memutarbelitkan fakta mengenai Nabi Muhammad s.a.w., isteri pertama, isteri kedua dan anak perempuannya, Saidatina Fatimah r.a. Mereka menggugurkan angka sepuluh daripada 19 (tahun), menjadikan ianya 9 (tahun) daripada umur sebenar Saidatina Fatimah r.a. dan Saidatina ‘Aishah r.a. (yang mana kedua-keduanya sama usia), dan melancarkan dakyah bahawa kedua-duanya berkahwin pada usia sembilan tahun. Yakni, Saidina Ali r.a. mengahwini Saidatina Fatimah r.a. semasa umurnya sembilan tahun, dan Nabi Muhammad s.a.w. telah mengahwini Saidatina ‘Aishah r.a. semasa usianya sembilan tahun. Apakah tujuannya? Puak munafik dan Syiah mahu menunjukkan bahawa umat Islam adalah kaum bangsawan yang penuh nafsu yang berjuang untuk bangsa Arab sahaja (untuk mewujudkan keamanan, perpaduan dan kuasa untuk bangsa Arab sahaja di mana berabad-abad lamanya sebelum ini telah berperang sesama mereka dengan sia-sia);iaitu mereka itu telah berjuang demi ‘perkauman’ dan bukannya untuk segenap umat manusia; dengan ini menenggelamkan mesej Islam yang sebenar iaitu untuk manusia sejagat dan menyeluruh, untuk setiap zaman dan seluruh negara.



Manusia-manusia munafik ini, telah hidup bersama Rasullullah s.a.w. di Madinah. Allah telah membongkar tentang keadaan, niat dan kegiatan-kegiatan orang Munafik ini di dalam Surah Al-Baqarah. Sejak daripada waktu itu mereka tidak mensia-siakan setiap peluang untuk menghalang Islam dan orang-orang Islam. Mereka terus mengganggu, dan mengukuhkan kedudukan mereka di abad kedua Islam. Mereka telah mencampuradukkan fakta sejarah dan adat resam dengan pembohongan. Dengan berlalunya masa, mereka berjaya mencampur-adukkan pernyataan yang benar dan palsu.



Kepalsuan dan pembohongan ini kekal selama berabad disebabkan oleh faktor-faktor berikut:



Pertama sekali, keadaan geografi di abad Pertengahan telah terbukti menguntungkan puak munafik dan para pendusta itu. Kehidupan pada ketika itu adalah ringkas dan terbatas kepada sesuatu masyarakat tertentu. Manusia mengembara apabila benar-benar perlu. Masyarakat pada ketika itu hidup berjauhan dan berasingan dan tidak banyak berhubung.



Meskipun begitu, ilmu pengetahuan terus berkembang dalam setiap aspek, terutama pengetahuan tentang agama. Seni kaligrafi (khat) telah berkembang pesat, tetapi proses percetakan belum dicipta lagi. Seseorang yang menulis buku mati tanpa mencetak dan menyebarkannya. Apabila masa berlalu, manusia-manusia jahat yang menyedari nilai ilmiah penulisan tersebut mula menokok tambah ke dalam buku-buku tersebut perkara-perkara baru berdasarkan khabar angin, cerita dusta dan rekaan. Kesannya, tulisan-tulisan dan buku-buku palsu banyak tersebar di dalam masyarakat. Amalan ini telah berlanjutan dan terus-menerus berlaku sehingga ke Abad Pertengahan.



Keduanya, keadaan sosio-agama yang mempengaruhi keadaan sosial dan politik. Orang-orang bukan Arab seperti Yaman, Mesir, Turki, Parsi dan India yang telah menerima Islam, mula berpindah ke Kufah. Mereka tidak dapat memahami Islam dan masyarakat Islam dengan benar. Mereka tertarik dan condong kepada polisi pemerintah (yang menyeleweng daripada ajaran sebenar) menyebabkan wujudnya perbezaan yang bersifat agama-politik. Beransur-ansur mereka menjadi golongan yang tersendiri, dengan menunjukkan perbezaan yang ketara dalam semua aspek kehidupan dan kepercayaan. Ini merupakan perpecahan yang besar di dalam Islam. Pengikut kepada golongan baru ini dipanggil ‘Sabaites’, dengan Hasan Bin Sabah sebagai ketuanya. Kemudiannya mereka telah dikenali sebagai “Syi’ah” oleh tokoh-tokoh pemikir Islam, terutamanya golongan ahli Sunnah. Syiah adalah bercanggah dengan Islam. Puak-puak Syiah ini sentiasa berusaha keras untuk meyelinapkan masuk penipuan dan tambahan palsu ke dalam ajaran Islam dan seterusnya dianggap ‘benar’ oleh orang-orang Islam.



Yang ketiganya, Ulama Ahli Sunnah telah gagal melihat peristiwa ini secara rasional dan menganggap apa saja yang berlaku ke atas keluarga nabi sebagai sesuatu yang khusus dan istimewa; tanpa menganalisa secara logik untuk membezakan mana yang benar dan dan mana yang palsu, bahkan ramai di kalangan mereka (yang terperangkap dengan daayah golongan munafik dan Syiah) menerima cerita-cerita palsu ini sebagai ‘benar’ dan seterusnya menyebarkannya di dalam ucapan dan penulisan mereka. Akibatnya golongan awam ahli sunnah, dengan tanpa sedar, telah mengiktiraf perkara-perkara karut yang dicipta oleh golongan Syiah dan ianya kekal hingga ke hari ini.



Bagaimanapun, terdapat ramai juga Ulama’ Sunni dan orang awam Sunni yang tahu untuk membezakan antara yang benar dan yang palsu. Mereka dengan lantangnya menentang cerita-cerita karut yang dicipta oleh golongan Syiah ini samada dalam ceramah atau tulisan mereka. Meskipun mereka tidak berdaya menghapuskan pembohongan yang beracun ini sepenuhnya, mereka telah berjaya menyediakan panduan yang jelas untuk generasi akan datang.



Keempat, telah termaktub dalam sejarah bahawa para pendeta Yahudi telah meminda ayat-ayat suci Taurat dan Injil. Mereka juga telah cuba untuk meminda al-Qur’an yang mulia tetapi gagal oleh kerana Al-Quran merupakan Ayat-ayat Suci yang datang daripada Allah yang Maha Kuasa dan Allah S.W.T. sendiri yang bertanggungjawab untuk melindunginya. Namun begitu, mereka telah berjaya menambah cerita-cerita Israiliyat di dalam tafsir-tafsir al-Qur’an. Mereka juga telah berjaya menyebarkan cerita-cerita dan pemikiran karut dan salah tentang adat resam, budaya dan sejarah Islam. Mereka telah menyebabkan sebahagian besar di kalangan orang awam Islam terpesong dari jalan lurus seperti yang dikehendaki oleh Allah taala sebaliknya mengikut ajaran Syiah dalam kepercayaan dan amalan tanpa mereka sedari.



Akhirnya, adalah perlu untuk kita mengenalpasti siapa sebenarnya orang-orang munafik dan Syiah ini, supaya kita tidak berprasangka buruk terhadap penulis-penulis dahulu, samada mereka di kalangan ahli hadis dan tafsir, perawi atau penyusun, ulama ataupun ahli sejarah, atau pun penulis secara umumnya. Mereka adalah Muslim yang baik dan telah meninggalkan warisan yang berharga. Mereka telah meninggalkan kepada kita khazanah ilmu dan penulisan yang amat bernilai. Jadi, sekarang adalah tugas kita untuk menggunakannya sebaik mungkin. Amatlah perlu untuk kita mencari kaedah untuk mengesan dan menilai hasil tulisan mereka untuk membersihkannya dari unsur-unsur palsu dan bohong dan juga cerita-cerita Israliyat. Ini bukanlah suatu perkara baru kepada kita (orang-orang Islam) kerana kita telahpun melakukannya seawal dua abad yang pertama dahulu dalam menilai ketulinan hadis. Kajian dan analisis ini akan membantu membersihkan kotoran daripada tubuh Islam yang bersih ini. Kita juga hendaklah sentiasa ingat bahawa apa-apa perbezaan pendapat di antara kita hanyalah kerana Allah. Dan juga, kita tidak patut melemahkan semangat dan memalukan seseorang tanpa apa-apa keperluan.



Allama Habibur Rahman Siddiqui Kandhlawi telah menunjukkan cara yang praktikal melalui buku kecilnya ini, bagaimana cara yang wajar dan bijak untuk membersihkan hasil-hasil penulisan kita daripada cerita-cerita karut Syiah. Ia merupakan satu sumbangan yang besar daripada Tuan Allama kepada aqidah, sejarah dan adat resam kita.

3. MUKADDIMAH



Semenjak daripada alam persekolahan, kita telah membaca dan mendengar bahawa Rasullulah s.a.w. mengahwini ‘Aishah, anak perempuan Abu Bakar r.a., pada ketika beliau r.a. baru berumur enam tahun dan mereka mula hidup bersama ketika Aishah berumur sembilan tahun. Riwayat ini terdapat dalam kitab-kitab hadis dan para ulama telah menjelaskan bahawa Tanah Arab adalah sebuah tempat yang cuacanya panas, oleh itu kanak-kanak perempuan di sana meningkat baligh pada usia sebegini.



Bila kami datang ke Karachi dan menetap di sana kami menemui orang-orang yang berpendidikan barat, yang secara terbuka mencabar bahawa hadis ini bertentangan dengan akal. Kami berasa penat untuk mempertahankan hadis ini. Kami telah melihat beberapa orang yang merasakan masyarakat Inggeris lebih baik berbanding Islam dengan hanya berpandukan hadis ini. Sesetengahnya mencemuh Islam, sementara setengah yang lainnya mentertawakan hadis tersebut. Melalui cara yang lebih sopan, sebahagian mereka mengatakan bahawa ‘sejarah adalah lebih tepat’ dan hadis ini direka oleh orang-orang Parsi. Ada juga sesetengah mereka yang lebih berani dengan mengatakan: " Minta maaf tuan. Bukhari telah ditipu, tugas tuan yang sebenar sekarang ialah membetulkan fakta ini”



Inilah sikap mereka yang berpendidikan barat dan pemikiran sebegini tersebar luas sehingga ada yang sanggup mengatakan, "Tuan, nafsu ada batasnya, adalah tidak munasabah melampiaskan nafsu dengan kanak-kanak berumur sembilan tahun”. Semoga Allah melindungi kita dari keceluparan ini.



Kita semua adalah orang Islam. Inilah yang kami dengar dan kami cuba mencari jalan untuk menyelesaikannya. Dalam usaha mencari jawapan kepada permasalahan ini, kami mempelajari sejarah, ilmu salasilah, jarh wa taadil, ilal hadis, biografi perawi dan ugama Syi'ah. Dari kajian ini, kami dapati bahawa penipuan terbesar dalam Sejarah Islam dilakukan oleh golongan Syiah. Mereka mengelabui pembohongan ini atas nama sejarah. Kami akan membentangkan bukti pembohongan ini di helaian-helaian yang akan datang, insyaAllah.



Kami menyelidiki usul hadis, biografi perawi, illat hadis dan hadis-hadis palsu dan kami dapati ulama hadis telah membina benteng yang amat kukuh untuk menyekat kebanjiran ini sehingga golongan ahli sunnah sendiri tidak suka untuk melihatnya. Ulama-ulama hadis telah menggariskan prinsip-prinsip dan asas yang cukup berharga untuk kita menilai dan mengasingkan setiap yang benar dan yang palsu.



Imam Bukhari telah membina benteng yang sangat besar untuk menyekat kebanjiran fahaman Syiah. Motif utama kritikan terhadap kitab Sahih Bukhari ialah untuk menyokong gerakan Syiah. Di sebalik kritikan-kritikan tersebut, kepercayaan kita terhadap Sahih Bukhari semakin bertambah. Sayangnya tidak ramai orang awam faham hakikat ini, disebabkan dua faktor berikut:



Pertamanya, pada waktu itu, ketika cerita-cerita palsu membanjiri dari segenap penjuru, Imam Bukhari telah berusaha sedaya-upaya untuk menghapuskan pembohongan dengan penuh minat dan gigih; dan usaha ikhlasnya itu tidak dapat ditandingi sesiapapun sehingga hari ini. Bagaimanapun, beliau adalah makhluk biasa dan sebagai seorang manusia, tidak dapat mengelak daripada melakukan silap dan salah. Dan dengan melakukan satu kesilapan itu tidaklah sampai dihukum gantung. Lagipun, kesilapan tidak boleh dianggap sebagai suatu jenayah kerana jenayah adalah suatu perbuatan yang disertai dengan niat dan dan dilakukan dengan sengaja. Dengan kesilapan kecil yang tidak disengajakan Imam Bukhari tidaklah boleh dituduh sebagai penjenayah!



Keduanya, Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis melalui perantaraan para perawi dan sebagaimana kita maklum perawi-perawi ini bukan maksum. Ramai perawi yang dianggap ‘thiqah’ (terpercaya) oleh Imam Bukhari tetapi tidak dianggap ‘thiqah’ oleh orang lain. Ianya tidak boleh dianggap sebagai jenayah atau sesat.



Dalam keadaan ini, kami akan menilai semula riwayat ini dan di sini kami persembahkan kepada pembaca setelah meneliti semua fakta yang ada. Dalam kajian ini, kami tidak menyebelahi mana-mana individu atau kumpulan tertentu.



Di antara hasil kajian terpenting dalam tajuk ini setakat ini ialah buku bertajuk “Umur Aishah” yang ditulis oleh Hakim Niaz Ahmed. Namun begitu, karangan tersebut mengandungi terlalu banyak perbincangan yang bersifat teknikal, menyebabkan ia sukar difahami oleh pelajar seperti kita.



Kami tidak bercadang untuk menulis sebuah buku atas tajuk ini dan juga kami tidak mempunyai cukup masa untuk itu. Kami hanya ingin mencurahkan idea-idea yang diperolehi semasa kajian itu dalam bentuk nota ringkas.



Timbul satu persoalan sama ada mencapai baligh pada usia sebegini hanya berlaku kepada Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a seorang sahaja, ataupun ianya adalah suatu yang lazim di Semenanjung Arab. Semua negara yang iklimnya sama atau yang berhampiran dengan Arab, iaitu wilayah-wilayah yang terdapat di negara Afrika seperti Libya, Tunisia, Sudan, Moroko dan wilayah Asia yang terletak di zon khatulistiwa ataupun yang hampir dengan wilayah ini, sebagaimana wilayah Multan, Sukkur, Sibi dan Jacobabad, terkenal dengan cuaca panasnya. Berdasarkan kepada kriteria ini, kanak-kanak perempuan di situ sepatutnya telah baligh sewaktu berumur sepuluh atau sebelas tahun; dan di Pakistan hampir 200,000 atau 400,000 kes atau setidak-tidaknya 2,000 atau 4,000 kes sepatutnya telah berlaku. Di Semenanjung Arab pula pasti tidak terkira banyaknya kes seperti ini sepatutnya berlaku. Jikalau tidak ada catatan dalam sejarah tentang peristiwa seperti ini, anda boleh melihat sendiri tanah Arab yang ada pada hari ini kerana Tanah Arab masih berada di tempat yang sama. Mekah dan Madinah masih berada di lokasi yang sama dan dalam keadaan yang sama. Tempat-tempat ini tidak berganjak sedikit pun. Sehingga hari ini, iklim di Semenanjung Arab adalah sama sebagaimana seribu lima ratus tahun dahulu. Hingga ke hari ini cuaca panas di Mekah memang di ketahui umum. Saya ingin beritahu bahawa saya telah merasai musim panas di Mekah pada bulan Mac (waktu di mana ia tidak begitu panas di Asia dan Afrika).



Berbanding zaman dahulu, peralatan komunikasi kini mudah dan banyak. Beratus-ratus ribu orang Pakistan bekerja di Tanah Arab, dan ramai daripada ahli keluarga mereka tinggal bersama mereka di sana. Namun sehingga hari ini, tiada sesiapa pun yang telah mengejutkan kita dengan cerita kanak-kanak perempuan telah mencapai umur baligh bila sampai di sana. Juga, sampai hari ini tiada orang Pakistan yang berjumpa dengan kami dan mengatakan; “Tuan! Saya telah tinggal bersama-sam a isteri dan anak-anak saya di Arab Saudi, dan kesan daripada iklimnya, anak-anak saya sudah boleh berkahwin, walaupun usianya baru sembilan tahun. Tuan! Sekarang kami yakin dengan sepenuh hati bahawa Ummul Mu’minin telah mula hidup bersama suaminya ketika beliau berumur sembilan tahun.”

Apapun yang akan kami tulis di sini bukanlah bermakna kami menolak hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tetapi matlamat kami ialah untuk memberi jawapan kepada musuh-musuh Islam yang telah mencalitkan lumpur ke tubuh mulia Rasullulah s.a.w. Adalah jelas bahawa kesucian Rasulullah s.a.w. adalah sesuatu yang lebih utama daripada perawi-perawi ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’. Tanpa mengakui kemuliaan Nabi Muhammad s.a.w., tidak bermakna iman dan Islam seseorang. Dan kita tidak diwajibkan untuk menerima semua perawi-perawi ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’ dan tidak menjejaskan iman sekiranya kita mempertikaikan (dengan adil) peribadi perawi-perawi tersebut.



Sebagai seorang Muslim, kita yakin bahawa peribadi Rasulullah s.a.w. adalah adalah sangat tinggi dan mulia bahkan lebih tinggi daripada yang kita gambarkan. Jika terdapat sebarang riwayat yang boleh menjatuhkan maruah atau martabat mana-mana Nabi pun, maka kita hendaklah mencampakkan sahaja riwayat tersebut.



Perkataan ini bukannya daripada kami. Ulama-ulama hadis telah menggunakan istilah ‘campakkan riwayat ini’ berulangkali dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka melafazkannya setiap kali melihat kesilapan atau kecacatan walaupun yang amat kecil di dalam suatu riwayat.



Di sini Nabi s.a.w. telah digambarkan sebagai seorang yang sangat bernafsu kepada seks. Demi kemuliaan nabi s.a.w beratus ribu riwayat sebegini hendaklah dicampakkan termasuklah riwayat oleh Hisham bin Urwah ini. Kita korbankan kesemua riwayat ini untuk memelihara kemuliaan Nabi s.a.w.



Ulama hadis telah menjelaskan bahawa sebarang hadis yang berlawanan dengan akal yang sihat dan pengalaman adalah hadis ‘maudhu’ (rekaan). Malah, Ibn Jauzi telah mengatakan sehingga, sekiranya sesuatu riwayat didapati bercanggah dengan ‘hikmah’ (kebijaksanaan), pasti ianya riwayat ‘maudhu’; dan perbincangan atau penilaian tentang perawi riwayat tersebut adalah sia-sia. Ulama hadis telah menggunapakai kaedah ini dalam banyak kes.



Kita juga faham penilaian ulama hadis samada benar atau dustanya seseorang perawi, adalah berdasarkan ‘zann’ (sangkaan yang kuat). Ini kerana, ada kemungkinan bahawa seorang yang kita anggap sebagai benar, mungkin hakikatnya dia adalah seorang pendusta dan mungkin seseorang yang dianggap pendusta adalah sebenarnya bukan pendusta. Tidak semestinya setiap pendusta akan sentiasa berbohong dan setiap orang yang benar akan sentiasa berkata benar.



Para muhaddis akan menghukumkan samada seseorang perawi itu benar, dapat dipercayai atau baik berdasarkan kepada penampilannya atau persaksian daripada orang lain. Ini merupakan ‘zann’(andaian mereka yang kuat), namun kemungkinan tetap ada bahwa dia bukan seorang yang benar dan mungkin dia hanya berpura-pura berkelakuan baik dan warak. Dan sesiapa yang didakwa sebagai pendusta, mungkin dia difitnah oleh musuhnya padahal sebenarnya beliau bukanlah seorang pendusta.



Berdasarkan kepada alasan inilah, kadang-kadang ‘penilaian’ di kalangan para ulama hadis terhadap seseorang perawi berbeza. Sebagai contoh, dalam kes Abdur Razak bin Hamam, sesetengah ulama hadis telah mengatakan bahawa beliau adalah seorang yang ‘thiqah’ (boleh dipercayai). Yahya bin Main bagaimanapun mengatakan beliau adalah seorang Syiah. Imam Ahmad bin Hanbal pula mengatakan beliau (Abdur Razak) tidak mempunyai apa-apa masalah. Yazid bin Zaree’a mengatakan bahawa beliau ialah seorang Syiah Rafidhah, dan beliau mengatakan, “Demi Allah dia adalah lebih dusta daripada Waqidi”



Bagi kita, kesemua ulama hadis ini amat terhormat dan sangat mulia. Mereka mengeluarkan pendapat berdasarkan kepada pengalaman dan pengamatan masing-masing. Adalah menjadi tanggungjawab kita pula untuk membuat keputusan dengan memilih hanya satu sahaja daripada pendapat yang berbagai itu.



Para ulama hadis ini tidak mempunyai alat atau perkakas yang memberi tahu yang mana benar dan yang mana salah. Jikalau ada, sudah tentu tidak akan wujud perbezaan pendapat di kalangan mereka. Dan, kita sendiri pun tidak memiliki peralatan itu, malahan tiada peralatan seperti itu yang telah tercipta sehingga ke hari ini; suatu alat yang mana dapat membezakan kebenaran dan penipuan yang dilakukan oleh seseorang yang telah mati!



Jelas daripada perbincangan ini, bila seorang Muhaddis mengatakan bahawa hadis ini adalah benar ataupun hadis itu adalah tidak benar, beliau hanyalah mengemukakan pendapatnya; dan tidak semestinya pendapatnya tepat. Walaupun seseorang ulama hadis memberi pendapat yang salah, kita tidak boleh mengatakannya sebagai pembohong kerana dia tidak berniat melakukan pendustaan tetapi memberi pendapatnya berdasarkan maklumat yang ada padanya.



Dalam hal ini, adalah mungkin bahawa seseorang menerima pendapat Imam Ahmad, sementara yang lainnya yang menolak riwayat oleh perawi ini (Abdur Razak bin Hamman), bersetuju dengan pendapat muhaddis yang lain.



Perbincangan ini telah menjelaskan kaedah ‘apabila muhaddisin menerima sesuatu hadis adalah sahih, itu adalah pendapat dan pandangan (zann) mereka’. Jika ada seseorang berpendapat sesuatu hadis adalah tepat dan sempurna sebagaimana al-Quran yang mulia, dan seorang lagi berpendapat sebaliknya, kedua-keduanya, pada pendapat kami adalah salah. Apa yang dipanggil ‘ishque’ (cinta) ’ ialah suatu kekacauan fikiran. Perbezaannya hanyalah, seseorang cenderung untuk mempercayai semua perkara adalah benar, sedangkan yang seorang lagi memiliki kecenderungan untuk mendustakannya. Ada yang sentiasa menerima apa saja yang diutarakan oleh muhaddis dan ada yang sentiasa memusuhi mereka. Ada orang yang mendewa-dewakan orang terdahulu manakala sebahagian lagi tidak suka dikaitkan dengan orang dahulu.



Dalam kedua-dua keadaan ini, semuanya dikatakan ‘cinta’ (kecenderungan), dan menurut penyair Mirza Ghalib, Penyair Agung Urdu:



‘Apa yang orang panggil cinta itu ialah keadaan minda yang meracau’



Kita semua tahu tiada yang maksum kecuali nabi-nabi a.s. Orang yang beriman pun tidak terkecuali daripada melakukan kesilapan atau terlupa. Tanggapan yang mengatakan Imam Bukhari dan Imam Muslim atau mana-mana perawi thiqah tidak melakukan kesilapan atau tidak mungkin terlupa adalah serangan keatas ‘kemaksuman’ nabi s.a.w. Konsep ‘maksum’ pada seseorang selain daripada nabi-nabi a.s. hanya terdapat dalam ajaran Syiah, bila mereka mengatakan Imam Dua Belas sebagai maksum. Ironinya, saudara-saudara kita ahli sunnah menyediakan beratus ribu individu maksum tanpa mereka sedari!



Dengan alasan inilah para ulama hadis menghukumkan beberapa hadis yang diriwayatkan oleh perawi thiqah sebagai mungkar.Di dalam kitab rijal kita boleh menemui contoh yang tidak terkira banyaknya. Ibnu al-Madini mengatakan tiga riwayat oleh Imam Malik adalah mungkar. Ahmad bin Hanbal telah mengatakan Sufyan bin Uyainah meriwayatkan lebih daripada 30 hadith mungkar. Ibn Hazm telah mengatakan riwayat tentang ‘mi’raj’ yang diriwayatkan Bukhari sebagai ‘mungkar’.



Ummul Mu’minin Aishah r.a. telah mengkritik beberapa riwayat yang diceritakan oleh para Sahabat r.a. dan berkata, “Saya tidak mengatakan bahawa mereka berdusta, tetapi seringkali telinga tersilap dengar”. Di dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’, terdapat beberapa riwayat sebegini. Ini menunjukkan bahawa kadang-kadang suatu riwayat mungkin salah walaupun diriwayatkan oleh perawi yang paling thiqah.



Keadaan ini berlaku kerana kadang-kadang seorang perawi itu tidak mendengar sesuatu percakapan dengan sepenuhnya. Kadang-kadang pula perawi itu tersalah dalam memahami maksud sebenar sesuatu ucapan. Adakalanya dia terlupa perkataan yang didengarinya. Ummul Mu’minin r.a. juga ada mengatakan seorang perawi mungkin silap mendengar sesuatu percakapan. Contohnya, perkataan sebenar yang diucapkan ialah “sembilan belas”, tetapi perawi itu hanya mendengar perkataan “sembilan”.



Sedangkan para sahabat r.a. yang mulia pun tidak terlepas daripada berbuat silap, meskipun dia Saidina Umar r.a., Abu Hurairah r.a., dan Ibn Umar r.a. atau tabiin Urwah bin Azzubair dan anak lelakinya Hisham. Dengan mengatakan ‘sahabatpun boleh melakukan kesilapan’ tiada sesiapa mengatakan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. sebagai seorang anti-hadis. Begitulah sekiranya bila kita mengatakan seorang perawi mungkin melakukan kesilapan kita tidak boleh dikatakan sebagai orang yang menolak hadis kerana ‘menolak hadis’ dan ‘mendedahkan kesilapan’ adalah dua perkara yang berbeza. D

Hujah Pertama – Bertentangan Dengan Fitrah Manusia



Riwayat ini bertentangan dengan pengalaman dan fitrah manusia. Adalah mustahil ia dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan ia sebenarnya tidak pernah berlaku. Jika peristiwa sedemikian pernah terjadi, maka musuh-musuh Islam dan juga musuh-musuh Nabi Muhammad s.a.w. pada waktu itu sudah tentu telah mengambil kesempatan untuk mempermainkan dan menghina baginda s.a.w. Dan, apabila tiada apa-apa serangan terhadap peribadi Rasulullah s.a.w. oleh musuh-musuh Islam pada masa itu, ianya membuktikan bahawa peristiwa tersebut tidak pernah berlaku. Sekiranya tidak, ianya adalah peluang keemasan kepada musuh Islam untuk menyerang Islam dan rasulnya.



Tidak syak lagi riwayat ini adalah tidak benar. Sumber utama riwayat ini ialah Hisham dan perawi-perawi yang menukilkan darinya; oleh itu keraguan berkisar hanya sekitar Hisham.





Hujah Kedua – Bertentangan Dengan Akal Yang Waras



Suatu riwayat yang bertentangan dengan akal adalah palsu dan dongeng. Ibnu Jauzi, salah satu nama besar dalam lapangan pengkritikan hadis, ialah orang yang bertanggungjawab memperkenalkan prinsip ini. Riwayat oleh Hisham ini adalah bercanggah dengan akal dan akal yang waras tidak dapat menerimanya. Apa sudah jadi dengan kewarasan dan kebijaksanaan kita ? Amat aneh bila kita dapati tidak ramai cendiakawan yang samada menolak atau meragui riwayat ini.





Hujah Ketiga – Tiada Contoh Ditemui Di Negeri Arab Atau Di Negeri-Negeri Panas



Sehingga hari ini tidak ditemui kes seperti ini di Semenanjung Arab dan negara-negara beriklim panas yang lain. Jika sekiranya ia menjadi amalan masyarakat ini nescaya kita akan dapati wujud beribu-ribu contoh seumpamanya dalam catatan sejarah..



Sebaliknya, sekiranya peristiwa begini berlaku pada hari ini, ianya akan menjadi berita sensasi, contohnya, seorang lelaki gila merogol seorang kanak-kanak perempuan berumur sembilan tahun...dan orang yang melakukan perbuatan sedemikian digelar sebagai orang gila.



Ulama kita dan para pencinta Nabi s.a.w. tidak menunjukkan keberanian untuk menyangkal riwayat ini dan yang sedihnya sebahagian daripada mereka tidak dapat menjadi contoh kepada ummah bila mereka sendiri mengahwinkan anak dara sunti mereka yang berumur sembilan tahun, atas nama sunnah dan berbangga kerana menghidupkan sunnah !! Kami adalah ‘orang bodoh’ dan berdosa. Ulama sepatutnya menunjukkan contoh yang praktikal supaya kami dapat mengikuti contoh tersebut.



Mungkin anda tidak akan percaya bahawa ulama kita pada suatu ketika dahulu telah menolak penemuan saintifik yang bertentangan dengan pendapat mereka, malah sebaliknya tidak mengiktiraf hasil kajian saintifik tersebut. Contoh klasik ialah, ramai daripada mereka yang berpendapat matahari mengelilingi bumi, tetapi apabila kajian saintifik mengatakan sebaliknya mereka berkeras dengan pendapat mereka. Dalam bahasa yang mudah mereka berkata, ‘ Saya tidak akan menerimanya dalam apa pun keadaan’.



Beginilah sikap mereka dalam hal ini, iaitu, tentang umur Aishah r.a. semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.



Dengan hanya berkata “kami tidak menerima fakta sejarah”, tidak memberi apa-apa makna kepada ummah.



Berkenaan ‘sejarah’, di satu pihak mereka mendakwa bahawa mereka tidak menerima ‘sejarah’, tetapi pada masa yang sama mereka melaung-laungkan cerita “Yazid yang jahat’ dari mimbar-mimbar khutbah (walaupun ianya cerita sejarah yang direka). Bahkan cerita berkenaan Karbala telah diulas oleh ulama kita lebih hebat daripada ahli sejarah.



Kami akan menyentuh tentang aspek sejarah di bahagian kedua kertas ini. Buat masa ini kami akan membentangkan hujah berdasarkan hadis, usul hadis, biografi perawi (ilmu rijal) dan illal hadis kerana ulama kita mengiktiraf ilmu-ilmu ini. Adalah tujuan kami untuk menarik perhatian mereka dalam aspek ini.





Hujah Keempat- Riwayat Ini Bukan Hadis Rasulullah S.A.W.



Kami telah mengkaji dengan terperinci hadis yang diriwayatkan oleh Hisham. Untuk kajian ini, kami telah mengumpulkan bukti-bukti daripada kitab-kitab ‘Saheh Bukhari’, ‘Saheh Muslim’, ‘Sunan Abu Daud’, ‘Jami’ Tirmizi’, ‘Sunan Ibnu Majah’, ‘Sunan Darimi’ dan ‘Musnad Humaidi’. Selepas menelaah kitab-kitab tersebut, sesuatu kemusykilan telah timbul. Sebahagian perawi mengatakan riwayat tersebut sebagai kata-kata Aishah r.a., sedangkan setengah yang lain mengatakannya sebagai kata-kata Urwah r.a. Yang pastinya, ia bukan kata-kata Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Ia sama ada kata-kata ‘Aishah r.a. ataupun kata-kata Urwah r.a. yang merupakan seorang ‘tabiin’ iaitu anak kepada seorang sahabat (Zubair bin Awwam r.a) dan juga anak kepada kakak Aishah r.a sendiri (Asma binti Abu Bakar r.a). Jika riwayat ini adalah kata-kata Urwah, ia tidak mempunyai apa-apa nilai dalam syariah. Dan, kita juga tahu bahawa apabila berlaku perbezaan pendapat sama ada suatu riwayat itu ‘Muttasil’ (bersambung) ataupun ‘Mauquf’ (terputus), ulama hadis pada amnya akan mengatakan ianya sebagai ‘Mauquf’ (terputus). Berdasarkan prinsip ini, bolehlah disimpulkan bahwa riwayat ini adalah cerita sejarah oleh Urwah (dan bukannya hadis); dan tidak berdosa untuk menolak kata-kata Urwah.



Riwayat ini akan tetap dianggap cerita sejarah sehingga ulama membuktikan sebaliknya (iaitu riwayat ini ‘muttasil’(bersambung)).





Hujah Kelima – Riwayat Ini Diriwayatkan Oleh Hisham Selepas Fikirannya Bercelaru



Urwah menceritakan riwayat ini kepada anaknya Hisham. Pada pandangan kami, segala kekeliruan dalam riwayat ini adalah berpunca daripada Hisham. Adalah penting untuk diketahui bahawa dengan hanya menjadi perawi dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’ tidak bermakna perawi tersebut sempurna dan tidak melakukan sebarang kesilapan. Kami telah menghabiskan masa bertahun-tahun lamanya mengkaji biografi perawi dan kami dapati ada dua zaman dalam kehidupan Hisham iaitu zaman Madani (semasa di Madinah) dan zaman Iraqi (semasa di Iraq).



Zaman Madaninya ialah sehingga tahun 131 H. Dalam tempoh ini di antara muridnya yang paling penting ialah Imam Malik. Imam Malik telah meriwayatkan beberapa hadis daripada Hisham di dalam kitabnya ‘Muwatta’, tetapi riwayat perkahwinan Ummul Mukminin Aishah r.a. dengan Rasulullah s.a.w tidak ditemui dalam kitab Imam Malik tersebut.



Imam Abu Hanifah r.a. juga merupakan anak muridnya dalam tempoh tersebut, dan beliau juga tidak pernah meriwayatkan cerita ini.



Zaman kedua Hisham bermula selepas tahun 131 H. Adalah tidak diragukan bahawa Hisham adalah seorang perawi ‘thiqah’ (boleh dipercayai) sehinggalah tahun 131 H, dan Hisham merupakan sumber asas (madar) kepada banyak hadis yang diriwayatkan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. Kemudian suatu yang malang berlaku. Pada tahun 131 H Hisham berhutang sebanyak seratus ribu dirham untuk melangsungkan perkahwinan anak perempuannya, dengan harapan mendapat wang daripada Khalifah yang sedang berkuasa untuk menjelaskan hutangnya. Namun apa yang terjadi adalah diluar jangkaan Hisham di mana pemerintahan Bani Umaiyyah berpindah tangan kepada Bani Abbas. Hisham tiba di Baghdad dengan penuh harapan, dan telah menghulurkan tangannya meminta duit daripada Khalifah Mansur (Khalifah Abbasiyah).



Pada mulanya, Khalifah mencelanya tetapi selepas didesak Khalifah Mansur telah memberinya sepuluh ribu dirham. Kejadian ini merupakan kejutan pertama ke atas fikirannya, dan akibatnya beliau mula menjadi ‘tidak tetap’ dalam meriwayatkan hadis-hadis. Dia mula meriwayatkan hadis yang beliau mengaku didengar daripada ayahnya (Urwah) tetapi sebenarnya beliau tidak pernah mendengar hadis tersebut..



Dengan harapan mendapat pinjaman tambahan daripada Khalifah beliau kembali ke Baghdad dan berjaya mendapat sedikit wang. Selepas membayar sebahagian hutangnya, sekali lagi beliau datang ke Baghdad dan kemudiannya menetap di sana sehingga meninggal dunia



Beliau meninggal dunia di Baghdad pada tahun 146 H. Semua kekacauan dalam riwayat-riwayatnya berlaku semasa berada di tanah Iraq. Seolah-olahnya, apabila beliau tiba di Iraq, ingatannya telah bertukar dan telah mengalami perubahan yang besar.



Ya’aqub bin Abi Shaibah mengatakan bahawa sebelum pindah ke Iraq tiada riwayat Hisham yang ditolak, tetapi apabila beliau pergi ke Iraq beliau telah menceritakan banyak riwayat yang disandarkan kepada ayahnya Urwah yang tidak disukai oleh penduduk Madinah. Seperkara lagi, semasa tinggal di Madinah, Hisham hanya menceritakan hadis yang didengari daripada ayahnya. Tetapi semasa di Iraq, dia mula menceritakan hadis yang didengari daripada orang lain. Oleh itu, riwayat Hisham yang dinukilkan oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai. (Tahzib-ul-Tahzib, m/s 48, jilid 11)



Semoga Allah merahmati Ibn Hajar, yang mendapat ilham daripada Ya’aqub bin Abi Shaibah dengan mengatakan bahawa ‘riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai’. Di antara riwayat tersebut ialah riwayat ‘Saidatina Aishah r.a. hidup bersama suaminya (Nabi s.a.w.) semasa berumur sembilan tahun dan telah berkahwin sewaktu usianya enam tahun. Juga cerita berkenaan Rasulullah s.a.w. terkena sihir. Cerita mengenai ‘Aishah r.a. ‘bemain dengan anak patung’ juga telah diriwayatkn oleh orang Iraq daripada Hisham.



Sekalung penghargaan untuk Ya’aqub bin Abi Shaibah dan Hafiz Ibn Hajar kerana mengatakan: “Riwayat-riwayat yang dibawa oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai”. Mereka tidak mengecualikan riwayat-riwayat dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’ daripada prinsip ini. Oleh sebab itu, kita hendaklah bersungguh-sungguh mengenalpasti dan mencari hadis-hadis yang telah diriwayatkan oleh orang Iraq daripada Hisham. Jika kita mengisytiharkan kesemua hadis tersebut sebagai yang ‘tidak boleh dipercayai’, ulama kita tidak boleh membantah kemudiannya kerana prinsip ini telah diberi oleh ulama salaf yang terdahulu. Kami mendoakan kepada mereka yang baik ini yang (dengan mengemukakan prinsip ini), telah melindungi Rasulullah s.a.w. daripada serangan- orang-orang Iraq.



Hafiz az-Zahabi telah menulis tentang Hisham: “terjadi perubahan dalam ingatannya di akhir usianya, dan Abul Hasan bin Al-Qattan mendakwa bahawa beliau keliru dalam meriwayatkan hadis bila di akhir usianya” Hafiz Uqaili telah menulis dengan lebih jauh lagi: “dia telah nyanyuk di tahun-tahun terakhir kehidupannya”.



Di dalam ‘Mizan al-I’tidal’, Hafiz az-Zahabi menulis bahawa ingatan Hisham yang kuat di waktu mudanya, tidak kekal di usia tuanya. Dan di Iraq, dia tidak dapat meriwayatkan hadis dengan baik dan tepat (‘Mizan al-I’tidal, Jilid IV)



Imam Malik, salah seorang anak murid Hisham, telah meriwayatkan beberapa riwayat Hisham di dalam ‘Muwatta’nya di masa beliau menganggap riwayat Hisham adalah muktamad di dalam semua perkara. Beliau juga tidak bersetuju dengan Hisham semasa beliau (Hisham) tinggal di Iraq. Beliau menolak riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang-orang Iraq. Ibn Hajar mengatakan, “ Penduduk Madinah menolak riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang-orang Iraq”



Angka “sembilan tahun” ini telah menghantui pemikiran Hisham sehingga dia mengaku berkahwin dengan isterinya semasa isterinya berumur sembilan tahun. Az- Zahabi telah menceritakan peristiwa ini sebagaimana berikut: “Fatimah binti Al-Munzir adalah sebelas tahun lebih tua dari suaminya, Hisham. Sekiranya dia datang ke rumah Hisham untuk tinggal bersamanya semasa berumur sembilan tahun beliau perlu menunggu dua tahun sebelum ibu Hisham melahirkannya dan sebelum kelahirannya, Hisham tidak membenarkan orang lain melihat isterinya. Kami belum pernah menyaksikan perkara se ajaib ini”. Az-Zahabi kemudian menerangkan bahawa Fatimah tinggal bersama suaminya ketika berumur sekitar 28- 29 tahun. Dalam erti kata lain, Hisham telah menggugurkan angka ‘20’ dari angka ’29’. Dengan cara yang sama, dalam hal Ummul Mukminin r.a. angka ‘9’ timbul selepas menggugurkan ‘10’ daripada angka ‘19’.



Menurut Hafiz Ibn Hajar, Hisham pernah mengaku bahawa isterinya tiga belas tahun lebih tua daripadanya...kami sedar bahawa iklim Iraq telah merosakkan fikiran ramai orang baik-baik





Hujah Keenam – Hanya Perawi Iraq Yang Menukilkan Riwayat Ini



Kami agak tekejut apabila mendapati bahawa kesemua perawi tentang ‘Umur Aishah’ adalah orang Iraq yang samada dari Kufah ataupun Basrah. Riwayat ini tidak pernah dinukilkan oleh mana-mana perawi Madinah, Mekah, Syam, mahupun Mesir. Tiada perawi bukan Iraq yang meriwayatkan kisah ini, sebabnya cerita ini dikeluarkan oleh Hisham semasa beliau tinggal di Iraq.



Perawi-perawi berikut telah menyalin kisah ini daripada Hisham:



1. Sufyan bin Said Al-Thawri Al-Kufi

2. Sufyan bin ‘Ainia Al-Kufi

3. Ali bin Mas’her Al-Kufi

4. Abu Muawiyah Al-Farid Al-Kufi

5. Waki bin Bakar Al-Kufi

6. Yunus bin Bakar Al-Kufi

7. Abu Salmah Al-Kufi

8. Hammad bin Zaid Al-Kufi

9. Abdah bin Sulaiman Al-Kufi



Sembilan orang tersebut berasal daripada Kufah. Manakala perawi dari Basrah pula adalah :



1. Hammad bin Salamah Al-Basri

2. Jafar bin Sulaiman Al-Basri

3. Hammad bin Said Basri

4. Wahab bin Khalid Basri



Inilah mereka yang telah meriwayatkan kisah ini daripada Hisham. Semasa beliau tiba di Iraq pada tahun 131 H, beliau berumur 71 tahun. Adalah tidak masuk akal beliau tidak dapat mencari orang untuk meriwayatkan kisah ini sehinggalah beliau berumur 71 tahun.



Dalam hal ini, riwayat ini tidak terlepas dari dua keadaan, iaitu, sama ada orang Iraq yang merekanya dan mengatakan Hisham sebagai sumbernya, ataupun iklim Iraq telah mempengaruhi Hisham dengan teruk menyebabkan dia tidak sedar akan ‘dirinya’, bahawa dia membawa isterinya Fatimah binti Al-Munzir untuk tinggal bersama ketika umur isterinya sembilan tahun, iaitu empat tahun sebelum kelahirannya sendiri.! Setelah tiba di Iraq, tahap kebijaksanaan dan kesedaran mentalnya telah merosot hingga ke tahap ini..



Kami mengagumi Hisham, dan nasihat semasa beliau tinggal di Madinah masih lagi segar dalam ingatan kami. Anda juga patut mengingatinya, bak kata pepatah Parsi yang masyhur, "sesuatu yang disimpan pasti ada gunanya suatu hari nanti”. Nasihatnya yang satu ini amat berguna. Katanya:



“Apabila seorang Iraq meriwayatkan seribu hadis, kamu patut mencampakkan sembilan ratus sembilan puluh daripadanya ke tanah, dan berasa sangsi terhadap sepuluh yang masih tinggal.”



Jika kita berpandukan kepada nasihat Hisham ini, banyak masalah yang akan terjawab dengan sendirinya.



Selain daripada itu, kita juga patut memberi perhatian kepada prinsip ulama hadis yang dinukilkan oleh Baihaqi dari Abdur-Rahman bin al-Mahdi:



“Apabila kami meriwayatkan hadis mengenai ‘halal dan haram’ dan ‘perintah dan larangan’, kami menilai dengan ketat sanad-sanad dan mengkritik perawi-perawinya, akan tetapi apabila kami meriwayatkan tentang faza’il (keutamaan), pahala dan azab, kami mempermudahkan tentang sanad dan berlembut tentang syarat-syarat perawi.” (Fatehul- Ghaith, ms 120)



Abdur Rahman bin al-Mahdi merupakan guru kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau adalah salah seorang tokoh penting dalam ilmu rijal (biografi perawi). Bagi pihak ulama hadis, beliau mengatakan muhaddisin menilai sanad dengan ketat bila menilai hadis berkenaan halal dan haram dan juga tentang ‘perintah’ dan ‘larangan’. Bagi hadis yang tidak berkaitan dengan halal dan haram serta perintah dan larangan (seperti ‘fazail’ (keutamaan), sirah dsb) ulama hadis bersikap mudah tentang peribadi perawi dan mengabaikan kesilapan dan kelemahan mereka. Sebagai contoh, ulama hadis tidak melakukan kajian terperinci dan menyeluruh ke atas riwayat yang berkenaan dengan Fazaiel (Kelebihan) sama ada ia berkaitan dengan perwatakan atau amalannya seseorang, balasan azab terhadap sebarang perbuatan maksiat, ataupun peristiwa daripada sejarah. Mungkin ini adalah sebabnya mengapa ulama hadis tidak merasakan perlu untuk membincangkan dengan teliti riwayat yang berkenaan umur sebenar Saidatina ‘Aishah (semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.) Besar kemungkinan, Imam Bukhari memegang prinsip yang sama iaitu tidak ketat dalam menilai riwayat seperti ini, yang mana kemudiannya menjadi ‘fitnah’ kepada kita semua.



Satu lagi prinsip hadis ialah jika ingatan seseorang perawi menjadi lemah, maka riwayat yang disalin oleh para muridnya ketika itu adalah ditolak. Hafiz Ibn Hajar menda

Hujah Kelapan – Aishah R.A Masih Ingat Dengan Jelas Peristiwa Hijrah Abu Bakar R.A. Ke Habshah



Di dalam ‘Saheh Bukhari’, ada satu riwayat telah dinukilkan oleh Zuhri dari Urwah daripada Ummul Mu’minin r.a. Riwayat ini tidak pernah disebut oleh orang Iraq tetapi diriwayatkan oleh dua orang perawi Mesir, seorang perawi Sham dan dua orang perawi Madinah.



Urwah bin Az Zubair meriwayatkan dari A’ishah Ummul Mukminin katanya, “Semenjak saya sedar dan mengerti, saya melihat ibubapa saya telah pun berugama Islam. Tidak berlalu satu hari pun melainkan Rasulullah saw akan datang kepada kami sama ada di sebelah pagi atau petang”.



Bila orang-orang Islam diganggu oleh orang-orang kafir, Abu Bakar telah keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah ke bumi Habsyah. Bila beliau sampai ke Birku al-Ghimad beliau bertemu dengan Ibnu ad Dughunnah, ketua kabilah Qarah. Ibnu ad-Dughunnah bertanya, “Engkau hendak ke mana Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Kaumku telah mengeluarkanku. Kerana itu aku akan mengembara di muka bumi agar dapat beribadat kepada tuhanku”. Ibnu ad Dughunnah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sepertimu tidak boleh keluar dan tidak patut dikeluarkan (dari sesebuah negeri) kerana engkau berusaha untuk orang-orang yang tidak berharta. Engkau menghubungkan pertalian keluarga, engkau menanggung beban masyarakat, menjadi tuan rumah kepada tetamu dan membantu masyarakat ketika ditimpa bencana alam. Aku akan melindungimu. Pulanglah dan beribadatlah kepada tuhan di negerimu.”



Maka pulanglah Abu Bakar bersama Ibnu Ad Dughunnah. Pada petangnya Ibnu ad Dughunnah mengunjungi orang-orang bangsawan Quraisy. Beliau bersuara kepada mereka, “Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak boleh keluar dan dikeluarkan. Adakah kamu patut mengeluarkan seorang yang berusaha untuk orang yang tidak berharta, menjalin silaturrahim, menanggung beban kesusahan orang lain, menjadi tuan rumah kepada tetamu dan menolong masyarakat ketika bencana?”. Perlindungan Ibnu Ad Dughunnah tidak ditolak oleh orang-orang Quraisy. Mereka berkata kepada Ibnu ad Dughunnah, “Suruhlah Abu Bakar menyembah tuhannya di dalam rumahnya. Ikut sukanya untuk membaca apa saja yang dia mahu asalkan dia tidak mengganggu kami dengan bacaannya dan jangan pula dia membaca dengan suara yang nyaring kerana kami bimbang perempuan-perempuan kami dan anak-anak kami akan terpesonanya dengannya”.



Ibnu ad Dughunnah meminta dari Abu Bakar apa yang diutarakan oleh orang-orang Quraisy itu. Sampai beberapa lama Abu Bakar memenuhi syarat-syarat yang dikemukakan oleh orang-orang Quraisy itu. Beliau menyembah Tuhan di rumahnya dan tidak menyaringkan bacaannya di dalam sembahyang. Beliau juga tidak membaca al Quran di luar rumahnya.



Kemudian timbul satu fikiran kepada Abu Bakar untuk membina masjid di halaman rumahnya. Beliau pun membina masjid dan bersembahyang di dalam masjid itu dan mula membaca al Quran menyebabkan perempuan-perempuan orang-orang musyrikin dan anak-anak mereka mula mengerumuninya dengan rasa kagum terhadapnya di samping melihat tingkah lakunya. Abu Bakar adalah seorang yang mudah menangis. Beliau tidak dapat menahan air mata apabila membaca al Quran. Keadaan ini menggemparkan kalangan bangsawan dan musyrikin Quraisy.



Mereka pun mengutuskan orang kepada Ibnu ad-Dughunnah untuk bertemu dengan mereka. Setelah Ibnu Ad-Dughunnah datang, mereka pun berkata kepada Ibnu ad-Dughunnah, “Sesungguhnya kami telah memberi perlindungan kepada Abu Bakar atas permintaanmu dengan syarat dia menyembah tuhannya di dalam rumahnya sahaja. Sekarang dia telah pun melanggar syarat itu. Dia telah membina sebuah masjid di hadapan rumahnya dan menunaikan pula sembahyang dan membaca al Quran di dalam masjid yang dibinanya itu. Kami bimbang isteri-isteri dan anak-anak kami akan terpesona dengannya. Oleh itu tegahlah dia dari berbuat begitu. Kalau dia bersetuju untuk menyembah tuhannya di dalam rumahnya sahaja maka baiklah tetapi jika dia enggan melainkan tetap mahu mengerjakannya sembahyangnya secara terbuka dan membaca al Quran dengan suara yang nyaring, maka mintalah dengannya supaya dikembalikannya kepadamu jaminan keamanan yang telah diberikan olehmu kepadanya kerana tidaklah kami suka mengkhianati perlindungan yang diberikan olehmu itu dan tidak pula kami boleh menerima Abu Bakar bersembahyang dan membaca al Quran secara terbuka seperti itu”.



Ibnu ad Dughunnah pun pergi menemui Abu Bakar. Dia berkata, “Engkau telah pun tahu syarat yang telah ku berikan untuk melindungimu. Jadi samada engkau akan mematuhi syarat itu atau engkau kembalikan kepadaku jaminan keamananku. Aku tidak suka orang-orang Arab mendengar cerita bahawa jaminan keamanan yang telah kuberikan kepada seseorang telah disia-siakan”.



Mendengar kata-kata Ibnu Ad Dughunnah, Abu Bakar berkata, “Kalau begitu aku akan kembalikan kepadamu jaminan keamananmu dan aku berpuas hati dengan perlindungan Allah swt”.

(Bukhari, Jilid I, m/s 553)



Di dalam hadis ini, Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. menghuraikan pemerhatiannya tentang keadaan daripada tempoh mula kerasulan sehingga peristiwa hijrah ke Habshah dalam dua ayat iaitu “ Sejak saya mengerti dan faham keadaan sekeliling saya dapati keluarga saya telah memeluk Islam” dan “Saya melihat Nabi Muhammad s.a.w. datang ke rumah kami setiap hari pada pagi dan petang”.



Di bahagian pertama hadis ini Ummul Mu’minin r.a. telah menceritakan pemerhatiannya di dalam dua ayat, iaitu “Sejak saya mengerti dan faham keadaan sekeliling, saya telah melihat keadaan ini”. Dan di bahagian kedua iaitu selepas balighnya, Ummul Mu’minin r.a. menyatakannya sebagai zaman persengketaan. Iaitu zaman yang menyebabkan sahabat-sahabat utama di awal Islam berhijrah ke Habshah. ‘Aishah r.a. kemudiannya telah menceritakan secara terperinci peristiwa penghijrahan ayahnya, Abu Bakar r.a ke Habshah.



Bahagian ketiga daripada hadis ini yang tidak kami nukilkan di sini ialah hijrah ke Madinah.



Ada dua riwayat tentang peristiwa Hijrah ke Madinah. Pertamanya, “Nabi s.a.w. keluar dari rumah Abu Bakar” di mana Aishah r.a. menyatakan dia diberitahu oleh Amir bin Fahirah (bekas hamba Abu Bakar r.a. dan temannya semasa Hijrah). Keduanya, peristiwa Suraqah di mana beliau r.a. menyatakan diberitahu oleh Suraqa kepadanya. Dengan kata lain, sejak daripada Ummul Mu’minin r.a. boleh berfikir, Abu Bakar r.a. dan Ummu Rumman r.a. telah memeluk Islam. Dan juga, sejak beliau faham keadaan sekelilingnya, beliau melihat Rasulullah s.a.w. sentiasa melawat rumah mereka setiap hari pada waktu pagi dan petang.



Di dalam hadis ini Aishah r.a. telah mendakwa secara jelas bahawa beliau r.a. telah faham keadaan sekelilingnya pada ketika nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul dan menyaksikan semua peristiwa yang berlaku dalam tempoh tersebut. Namun ulama kita telah mentakwilkan bahawa oleh sebab riwayat Hisham menyatakan ‘Aishah r.a. berusia sembilan tahun semasa mula hidup bersama Rasulullah s.a.w., Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah mendengar cerita-cerita ini daripada orang lain.



Ummul Mu’minin r.a. berkata bahawa “apabila saya telah faham keadaan sekeliling, saya telah melihat perkara yang berlaku” Ulama kita mengatakan bahawa beliau belum lagi dilahirkan! Ringkasnya, boleh dikatakan, Ummul Mu’minin telah melihat peristiwa tersebut lima atau enam tahun sebelum kelahirannya. Kami menyerahkan kepada anda untuk membuat keputusan siapakah yang benar.



Keseluruhan perbincangan ini membuktikan bahawa sewaktu nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul Ummul Mu’minin r.a. merupakan seorang kanak-kanak yang telah mengerti keadaan sekelilingnya iaitu berumur sekurang-kurangnya lima hingga enam tahun. Dengan kata lain, seorang kanak-kanak yang sudah boleh mengingati siapa yang datang dan keluar dari rumahnya dan faham bahawa apa yang ibu bapanya lakukan adalah bercanggah dengan penduduk Mekah. Ini adalah peringkat usia seorang kanak-kanak di mana mempunyai naluri ingin tahu dan berfikir mengapa dan bagaimana sesuatu perkara berlaku.



Kesimpulan dari perbincangan ini ialah, anda hendaklah mengaku, berdasarkan hadis ini, bahawa Ummul Mu’minin r.a. sudah tentu sekurang-kurangnya berumur antara lima hingga enam tahun pada sewaktu perlantikan nabi s.a.w. sebagai rasul. Oleh itu, pengiraan ringkas menunjukkan umur beliau r.a. adalah sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun semasa mula tinggal dengan Rasulullah s.a.w.



Dan sekaligus ia membuktikan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. dan Saidatina Fatimah r.a. adalah sebaya. Dengan itu, terpulanglah kepada anda samada untuk menerima riwayat Hisham (dengan menolak dua hadis di dalam kitab Bukhari di atas) atau mengakui kesilapan Hisham.





Hujah Kesembilan – Aishah R.A. Mengelap Luka Dan Hingus Usamah Bin Zaid R.A. Yang Dikatakan Sebaya Dengannya



Saidatina Aishah r.a. menceritakan bahawa Usamah telah jatuh tergelincir di bendul pintu dan luka di mukanya. Rasulullah s.a.w. berkata kepada saya, “Bersihkan kotoran itu daripada Usamah.” Saya terasa jijik bila melihat Usamah mula menjilat darahnya untuk membersihkan mukanya.



Dalam riwayat Ibn Majah, “Hingus keluar dari hidung Usamah. Nabi s.a.w. menyuruh saya bangkit dan membersihkan hidung Usamah. Saya berasa jijik, lalu Nabi s.a.w. sendiri yang bangun dan membersihkan hidungnya.”



Di dalam riwayat Tirmizi ada pula disebut bahawa Nabi s.a.w. hendak membersihkan hidung Usamah. Kemudian Ummul Mu’minin r.a. meminta izin untuk membersihkan hidungnya (Usamah). Nabi s.a.w. kemudian berkata, “Wahai ‘Aishah! Sayangilah Usamah, kerana saya juga menyayangi Usamah.” (Tirmizi: Jilid II, m/s 246)



Juga, Baihaqi menerusi Sha’abi, daripada Ummul Mu’minin r.a. katanya “Rasulullah s.a.w. meminta saya bangun dan membasuh muka Usamah. Saya memberitahunya saya tidak tahu membersihkan muka kanak-kanak kerana saya tidak mempunyai anak. Tolonglah pegang dia dan basuh mukanya. Nabi s.a.w. memegang Usamah dan membasuh mukanya”. Dan baginda berkata, “Dia (Usamah) telah memudahkan kita kerana dia bukan seorang kanak-kanak perempuan. Jika dia seorang kanak-kanak perempuan, saya akan menghiaskannya dengan perhiasan-perhiasan dan akan berbelanja banyak untuknya.”



Imam Ahmad, melalui Baihaqi, telah meriwayatkan daripada ‘Aishah r.a. bahawa Usamah jatuh tergelincir di atas bendul pintu. Mukanya telah luka. Nabi Muhammad s.a.w. telah mengelap dan membersihkannya, dan Baginda s.a.w. berkata, “Wahai Usamah! Jikalau kamu seorang kanak-kanak perempuan, pastinya saya akan memakaikan dan menghiasi kamu dengan perhiasan. Saya akan berbelanja besar untuk mu.”



Sekali lagi, perhatikan semua riwayat ini. Anda akan dapati bahawa Usamah bin Zaid r.a adalah seorang kanak-kanak yang jauh lebih muda daripada Ummul Mu’minin r.a.. Ada masanya dia r.a. tercedera atau hidungnya berhingus. Adakalanya Ummul Mu’minin r.a. mengangkat dan membersihkannya dan kadang-kadang Rasulullah s.a.w. yang melakukannya. Adakalanya Ummul Mu’minin r.a. berasa jijik, dan pernah suatu kali beliau meminta maaf dengan berkata, “Saya tidak mempunyai anak, jadi saya tidak mempunyai pengalaman membasuh muka kanak-kanak.”



Pertama sekali, perkataan ‘saya tidak mempunyai anak’ tidak mungkin keluar daripada mulut seorang kanak-kanak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun. Perkataan ini hanya boleh diucapkan oleh seorang wanita yang umurnya sesuai untuk mendapat anak.



Yang keduanya, ini jelas menunjukkan bahawa Usamah adalah jauh lebih muda dari Ummul Mu’minin r.a. Jika Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. adalah sebaya atau lebih muda daripada Usamah, Rasulullah s.a.w. tidak mungkin akan menyuruh ‘Aishah r.a. untuk membersihkan darah dan hidungnya (Usamah). Arahan begitu selalunya diberi kepada seseorang yang lebih tua daripada kanak-kanak tersebut. Tidak pernah berlaku dalam sejarah seorang kanak-kanak berusia lapan tahun disuruh untuk melayan atau merawat seorang kanak-kanak berusia sepuluh tahun !!



Para ulama mengatakan, ‘dari Riwayat Hisham, Ummul Mu’minin berusia 18 tahun semasa kewafatan nabi ’. Dengan itu, adalah perlu untuk mengetahui berapakah usia Usamah di waktu kewafatan Rasulullah s.a.w.



Imam Zahabi telah menulis di dalam bukunya ‘Siyar A’lam al-Nubala’ bahawa Usamah berusia 18 tahun pada waktu itu.



Sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di sini ialah seorang kanak-kanak perempuan telah membersihkan hidung seorang kanak-kanak lelaki yang sebaya dengannya!



Waliuddin Al-Khatib, penulis ‘Mishkat’, menulis di dalam bab ‘Al-Ikmal fi Asma’ al-Rijal’



“Apabila Nabi Muhammad s.a.w. wafat, Usamah berumur 20 tahun.” (‘Mishkat’, m/s 585)



Telah disepakati oleh ulama hadis dan ahli sejarah bahawa sebelum kewafatannya, Rasululullah menyusun satu pasukan tentera untuk menyerang tentera Rom dan menakluki Syria untuk menebus kekalahan dalam Perang Mu’tah. Usamah r.a merupakan panglima angkatan tentera ini, dan sahabat besar seperti Saidina Umar r.a. telah diperintahkan untuk berperang di bawah arahannya. Pada ketika itu, beliau berumur dua puluh tahun, menurut Waliuddin Al-Khatib, dan sembilan belas tahun menurut Hafiz Ibn Kathir:

“Semasa Rasulullah s.a.w. wafat, Usamah berumur 19 tahun.” (Al-Bidayah-wan-Nihayah, Jilid 8, m/s 67)



Setelah dibaia’kan, Saidina Abu Bakar r.a. menyempurnakan tugasan ini dengan menghantar tentera Usamah, yang mana dengan izin Allah S.W.T. telah kembali dengan kemenangan.



Usamah r.a. telah dilahirkan pada tahun ke-3 kerasulan. Dan kejadian di mana beliau cedera terjatuh di muka pintu rumahnya, atau hidungnya berhingus, atau Nabi Muhammad s.a.w. membasuh mukanya ataupun Baginda s.a.w. menyuruh Ummul Mu’minin r.a. supaya membasuh atau membersih mukanya dan sebagainya, adalah kerana Usamah pada masa itu ialah seorang kanak-kanak kecil. Dan juga, permintaan supaya Ummul Mu’minin merawat Usamah adalah kerana Ummul Mu’minin adalah lebih tua daripada Usamah. Jika Usamah r.a. adalah lebih muda daripada Ummul Mu’minin r.a. dan usianya (Usamah) sekitar 19-20 tahun di waktu kewafatan Nabi s.a.w., umur Ummul Mu’minin r.a.sepatutnya sekurang-kurangnya lima tahun lebih tua (daripada Usamah), dengan itu barulah arahan mengenai membersihkan darah dan hidung itu sesuai.





Hujah Kesepuluh – Ummul Mu’minin R.A. Turut Serta Di Dalam Peperangan Badar



Di dalam ‘Saheh’nya Imam Muslim melalui Urwah bin Zubair, telah meriwayatkan daripada Saidatina ‘Aishah r.a. bahawa beliau (Saidatina ‘Aishah r.a.) berkata Nabi Muhammad s.a.w. mara ke medan pertempuran Badar dan semasa tiba di Harratul Wabrah, seorang lelaki yang terkenal dengan kegagahan dan keberanian datang kepadanya. Para Sahabat r.a. teramat gembira melihat kedatangan lelaki tersebut. Beliau berkata kepada Nabi Muhammad s.a.w., “Saya telah datang kepadamu dengan tujuan untuk menyertai peperangan, dan saya ingin menanggung kesukaran ini bersama kamu.” Baginda s.a.w bertanya, “ Adakah kamu beriman kepada Allah dan Nabi-Nya?” Pemuda itu menjawab, “Tidak”. Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Pergi, baliklah. Saya tidak memerlukan sebarang bantuan daripada seorang musyrik.”



Ummul Mu’minin r.a. berkata bahawa pemuda tersebut pun berlalu dari situ. Tetapi apabila mereka sampai di Shajarah, orang yang sama telah datang semula. Baginda s.a.w. sekali lagi menanyakan soalan yang sama iaitu sama ada beliau beriman kepada Allah dan Nabi-Nya. Sekali lagi pemuda itu menjawab tidak. Kemudian Rasulullah s.a.w. telah berkata bahawa baginda s.a.w tidak memerlukan sebarang pertolongan daripada seorang musyrik. Maka pemuda itu pun sekali lagi berlalu pergi.



Ummul Mu’minin r.a. menceritakan bahawa apabila mereka tiba di sebuah tempat bernama Baida’, pemuda yang sama muncul kembali. Sekali lagi Nabi Muhammad s.a.w. bertanyakan soalan yang serupa, “Adakah kamu beriman kepada Allah dan Nabi-Nya?” Pemuda tersebut mengiyakannya. Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Bagus! Kamu boleh turut serta.” (‘Sahih Muslim’, Jilid II, m/s 118)



Bagaimanapun pensyarah-pensyarah hadis telah mentakwilkan bahawa perkataan ‘kami’ yang digunakan oleh Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah bermaksud ‘para sahabat ’ r.a. dan beliau (‘Aishah r.a.) sendiri sebenarnya tidak termasuk dalam ungkapan ‘kami’ itu. Dan Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah pergi hingga ke Baida’ untuk mengucapkan selamat jalan kepada Nabi Muhammad s.a.w.



Namun, kami tidak dapat menerima takwilan ini. Daripada hadis imam Muslim ini, kami membuat kesimpulan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah turut serta dalam peperangan Badar, dan ‘Aishah r.a. adalah satu-satunya wanita yang menyertai peperangan Badar. Ahli-ahli sejarah dan para penulis sirah Nabi Muhammad s.a.w. yang mengatakan bahawa Baginda s.a.w. mula tinggal bersama ‘Aishah r.a. di bulan Syawal, tahun ke-2 H mungkin dipengaruhi golongan Syiah. Yang tepatnya, Ummul Mu’minin r.a. telah mulai hidup bersama Baginda s.a.w. pada bulan Syawal, tahun pertama selepas hijrah, dan hadis Muslim di atas adalah benar.



Di samping membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. turut serta dalam Peperangan Badar dan hidup bersama Nabi s.a.w. mulai bulan Syawal di tahun pertama hijrah, hadis ini juga membuktikan bahawa ‘Aishah r.a. telah hidup bersama Rasulullah s.a.w. selama sepuluh tahun. Dakwaan ahli sejarah yang mengatakannya sembilan tahun ataupun Riwayat Hisham yang menyatakan tempoh sembilan tahun, adalah salah.



Apabila Saidina Umar r.a. telah memperuntukkan sejumlah elaun untuk para Sahabat r.a. sewaktu beliau menjadi Khalifah, beliau telah memberikan elaun yang lebih kepada mereka yang telah menyertai Perang Badar, berbanding dengan mereka yang tidak menyertai Peperangan Badar. Dan, apabila elaun untuk isteri-isteri Rasulullah s.a.w dibahagikan, jumlah elaun Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. adalah yang tertinggi yang mana menurut ahli sejarah disebabkan beliau adalah isteri yang paling disayangi oleh Rasulullah s.a.w. Alasan ini mungkin juga benar. Akan tetapi, sebabnya yang sebenar pada pandangan kami ialah beliau (‘Aishah r.a.) telah turut serta di dalam Perang Badar, dan isteri yang lain tidak memiliki kelebihan ini, malah tiada wanita lain di muka bumi ini yang memiliki penghormatan ini.



Semoga Allah S.W.T. melimpahkan rahmat-Nya ke atas Imam Muslim yang telah menyampaikan riwayat ini dengan sanad yang paling sahih sehingga tiada perawinya dipertikaikan. Beliau telah membuktikan Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. turut serta di dalam Peperangan Badar, dan menjalani kehidupan sebagai isteri kepada Nabi s.a.w. pada tahun 1 (selepas hijrah), dan terus kekal sebagai isteri Nabi s.a.w. selama sepuluh tahun (sehingga kewafatannya) ; maka tempoh selama sembilan tahun. sebagaimana yang disebut di dalam Riwayat Hisham, adalah tidak benar.



Semoga Allah mengurniakan kesejahteraan terhadap Imam Muslim di dalam taman-taman syurga, kerana dengan meriwayatkan peristiwa ini telah membuktikan Ummul Mu’minin r.a. tidaklah bermain dengan anak patung tetapi bermain dengan pedang; bahkan beliau telah dibesarkan di bawah bayang-bayang pedang. Ini merupakan sifat semulajadinya, kerana seorang kanak-kanak yang senantiasa melihat permainan pedang, tidak bermain dengan anak patung. Bermain dengan anak patung adalah kebiasaan orang Ajami (Iran), bukannya permainan orang Arab. Para Perawi Iraq ini mahu mengatakan Ummul Mu’minin Aishah r.a. suka bermain dengan anak patung sebagaimana kegemaran wanita-wanita di sana. Berkemungkinan, tujuan mereka ialah ingin mengatakan ‘bagaimanana mungkin seorang kanak-kanak perempuan yang menghabiskan masanya dengan bermain anak patung dapat memahami maksud al-Qur’an dan Sunnah’.



Riwayat ini juga telah membuktikan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. bukanlah seorang kanak-kanak berumur sembilan tahun ketika itu. Jika beliau adalah seorang kanak-kanak berusia sembilan tahun, apakah tujuannya untuk pergi ke medan perang? Ini kerana, tugas wanita yang berada di medan perang ialah untuk berperang dan memberikan khidmat ketenteraan. Aspek ini akan dijelaskan dalam halaman-halaman seterusnya.



Di dalam Peperangan Badar, sudah termasyhur bahawa bendera yang disediakan pada hari itu, adalah diperbuat daripada kain tudung yang digunakan oleh wanita Islam untuk menutup kepala dan badan. Sekiranya peristiwa ini benar-benar terjadi, ia merupakan bukti yang lebih kukuh, bahawa Ummul Mu’minin r.a. mulai hidup bersama Rasulullah pada tahun pertama Hijrah dan beliau (‘Aishah) menyertai Peperangan Badar. Ini kerana, adalah tidak masuk akal untuk mengambil kain tudung kanak-kanak perempuan yang belum berkahwin lagi. Begitu juga agak sukar dipercayai bahawa Baginda s.a.w. membawa kain tudung seorang pengantin baru dan mara ke medan Badar, dan ia juga tidak mungkin bahawa beliau (Saidatina ‘Aishah) pergi hingga ke Baida’ semata-mata untuk mengucapkan selamat jalan kepada Rasulullah s.a.w., dan telah meninggalkan kain tudungnya di sana. Ini bukan sebuah kisah cinta !!



Yang sebetulnya, keadaan peperangan yang datang secara mengejut menyebabkan kesukaran untuk mendapatkan kain bendera. Kemungkinannya, tidak terdapat kain di dalam khemah untuk dijadikan bendera. Kemudiannya Ummul Mu’minin r.a. memberikan kain tudungnya dan meletakkan sehelai kain sapu tangan di atas kepalanya dan beliau r.a. telah bersedia untuk berperang. Namun perawi-perawi Iraq menggambarkannya sebagai sebuah kisah cinta yang romantik!!



Juga perhatikan bahawa bendera-bendera tersebut telah disediakan di tempat yang bernama ‘Rawja’ yang jauhnya 40 batu dari Madinah.



Sehelai bendera telah dibuat untuk orang Ansar dan yang sehelai lagi untuk Muhajirin. Bendera Muhajirin telah diberi kepada Mus’ab bin Umair r.a., akan tetapi Waqidi (seorang perawi Syiah) berkata ia telah diberi kepada Saidina Ali r.a. Riwayat ini, kemudiannya telah dikutip oleh ulama ahli sunnah yang menganggap setiap riwayat perlu dikutip untuk memenuhi kewajipan agama. Maka timbullah cerita sehelai bendera telah diberi kepada Mus’ab r.a. dan sehelai lagi diberi kepada Ali r.a. Kemudian daripada itu ahli-ahli sejarah Syiah telah memotong nama Mus’ab r.a. dan memasyhurkan nama Ali r.a. sebagai satu-satunya pembawa bendera.



Pada hari ini ‘sejarah’ yang kita miliki, adalah sejarah yang diputarbelit dan diselewengkan. Semua kaki dan tangannya sudahpun dipotong oleh pembohong-pembohong Syiah. Untuk menyambungkan kembali tangan dan kakinya yang dipotong ini hanya mungkin apabila kita mendapatkan ‘anggota’ yang sebenar.



Kebanyakan orang sibuk untuk mengorek dan menggali sejarah. Kita geledah di mana-mana untuk mencari ‘anggota-anggota’ yang hilang itu. Walaupun kita menjumpai anggota-anggota ini kita sebenarnya tidak dapat memastikan bahawa ianya bukan organ palsu. Malah adalah dibimbangi kita mungkin kehilangan tubuh yang sedia pincang ini setelah mendapat anggota yang kononnya ‘asli’ tetapi pada hakikanya adalah palsu.



Sebagai contoh, pada awal abad ini, jenazah, yang dikatakan milik Saidina Huzaifah dan Saidina Jabir bin Abdullah telah ditemui. Menurut ahli sejarah dan ulama hadis, Jabir r.a. telah dikebumikan di perkuburan Baqi’ di Madinah. Mungkin kubur palsu ini, yang siap dengan ukiran, telah di bina pada zaman

Hujah Ke-11 – Aishah R.A. Menyertai Perang Uhud Sedangkan Kanak-Kanak Lelaki Berumur Empat Belas Tahun Tidak Dibenarkan Menyertai Perang



Peperangan Uhud adalah satu peperangan di mana Nabi Muhammad s.a.w. telah tercedera parah. Menurut Hadis Bukhari, hanya dua orang sahabat yang tinggal bersamanya iaitu Sa’ad bin Abi-Waqas dan Talhah bin Ubaidullah r.a. Sebahagian sahabat kebingungan, sebahagiannya berjuang bersendirian dan terputus hubungan dengan yang lain. Sebahagian yang lain pula telah memanjat bukit untuk menyelamatkan nyawa; dan telah tersebar dengan luas kabar angin bahawa Nabi Muhammad s.a.w. telah syahid.



Pada hari itu, Abu Talhah Ansari r.a. iaitu ayah tiri Anas r.a., telah mempertahankan Nabi s.a.w. dengan sepenuh jiwa dan tenaganya. Beliau berkali-kali merayu kepada Rasulullah s.a.w. sambil berkata, “Saya korbankan ibubapa ku demi keselamatanmu! Jangan tinggalkan tempatmu kerana saya takut anda akan dipanah”.



Inilah satu-satunya peperangan semasa hayat Rasulullah s.a.w. di mana orang Islam telah ditewaskan dan seramai 70 orang sahabat r.a. telah syahid. Dan, barangkali tiada seorang pun yang tidak mendapat kecederaan. Beberapa orang wanita juga turut serta dalam pertempuran ini.



Sebelum kami mengulas dengan lebih lanjut tentang siapakah wanita yang turut serta dalam peperangan ini, dan apakah tanggungjawab mereka, perlu dijelaskan bahawa Rasulullah s.a.w. menyedari akan bahaya yang akan dihadapi. Itulah sebabnya mengapa Baginda s.a.w. tidak membenarkan kanak-kanak lelaki yang berumur 14 tahun ke bawah untuk mengambil bahagian dalam peperangan ini. Di kalangan kanak-kanak bawah umur ini termasuklah Samrah bin Jundub, Bara’ bin Azib, Anas bin Malik, Zaid bin Thabith dan Abdullah bin Umar r.a.. Ibn Umar r.a. tidak dibenarkan menyertai Perang Uhud kerana beliau berumur 14 tahun ketika itu dan peperangan pertama yang disertainya ialah Perang Ahzab atau dikenali dengan nama Perang Khandak. Oleh itu, had umur untuk menyertai satu-satu peperangan ialah 15 tahun. Angka ini amat penting sehingga sesetengah ahli feqah, dengan berdasarkan riwayat Ibn Umar ini, telah menetapkan had kematangan (baligh) adalah sekurang-kurangnya 15 tahun.



Sekarang perhatikan sekiranya Rasulullah s.a.w. hanya membenarkan mereka yang berumur 15 tahun ke atas untuk mengambil bahagian dalam peperangan, bagaimana mungkin seorang kanak-kanak perempuan bawah umur dibenarkan untuk turut serta dalam peperangan?



Perlu diingat bahawa wanita yang mengambil bahagian di dalam peperangan mempunyai pelbagai tanggungjawab seperti mengangkat dan merawat mujahidin yang tercedera di medan pertempuran, memberi minum kepada mujahidin yang tercedera, bahkan mengangkat senjata bila diperlukan. Adalah jelas bahawa tidak semua wanita mampu melakukan tugas-tugas ini. Bagaimana mungkin tanggungjawab sebegitu penting diserahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan yang baru berusia sembilan atau sepuluh tahun?



Seorang wanita mampu melaksanakan tugas yang sebegitu penting sekiranya dia memiliki kemahiran dalam teknik bertempur, dan boleh mempertahankan dirinya sendiri apabila perlu, dan yang utamanya dia mestilah mempunyai keberanian untuk menyertai pertempuran apabila diperlukan.



Dengan mempertimbangkan hal ini dengan cermat, kita terpaksa mengakui bahawa tanggungjawab seperti itu tidak boleh diserahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan bawah umur. Sekiranya, pemuda yang berusia 14 tahun tidak dibenarkan untuk mengambil bahagian di dalam pertempuran, kaum wanita yang ingin menyertai peperangan mestilah seorang yang cukup matang dan berpengalaman yang faham akan risiko yang bakal ditanggung.



Di antara wanita yang pernah berperang bersama Rasulullah s.a.w. ialah :



1. Ummu Ammarah r.a. :



Di antara wanita yang telah menyertai peperangan Uhud ialah Ummu Ammarah r.a. yang turut melindungi Rasulullah s.a.w.. Pada hari itu, beliau mendapat 13 luka dan Nabi s.a.w. sendiri telah membalut lukanya sambil berdiri.



Ummu Ammarah r.a. berhadapan dengan Ibn Qamayyah yang melemparkan batu kepada Rasulullah s.a.w. Beliau (Ummu Ammarah r.a.) menyerang menggunakan sebatang kayu (sedangkan Ibn Qamayyah bersenjatakan sebilah pedang), mengakibatkan Ibn Qamayyah jatuh tersungkur dan pecah kepalanya.



Beliau r.a. juga telah menyertai Peperangan Yamamah menentang Musailamah al-Kazzab dan telah berjuang dengan sepenuh hati dan telah mendapat 12 luka sehingga menyebabkan tangannya tidak boleh digunakan.



2. Ummu Sulaim r.a. :



Ibn Sa'ad telah meriwayatkan bahawa Ummu Sulaim r.a. membawa bersamanya pisau belati pada hari Peperangan Uhud.



Anas r.a. telah menceritakan bahawa Ummu Sulaim r.a. membawa pisau belati bersamanya sewaktu Pertempuran Hunain. Abu Talhah r.a. mengadu kepada nabi s.a.w., "Wahai Rasulullah., ini Ummu Sulaim dan beliau membawa pisau belati bersamanya". Mendengarkan kata-kata itu, Ummu Sulaim r.a. berkata, "Wahai Rasulullah., saya menyimpan pisau ini kerana jika ada orang kafir datang mendekati saya, saya akan menikam perutnya". (Tabaqat Ibn Sa'ad, Jilid VIII, m/s 425)



Wanita yang tidak menyertai pertempuran secara langsung juga turut dilengkapi dengan senjata.



Keterangan ini jelas menunjukkan bahwa menyertai peperangan bukanlah tugas seorang kanak-kanak bawah umur. Ummu Sulaim r.a., ibu kepada Anas r.a., adalah seorang wanita yang dewasa dan berpengalaman. Beliau telah mengambil bahagian dalam beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad s.a.w.



3. Ummul Mu'minin Saidatina 'Aishah r.a. :



Kami telah membuktikan bahawa Ummul Mu'minin Saidatina 'Aishah r.a. telah menyertai Peperangan Badar sebagai wanita dewasa dan bukan sebagai kanak-kanak bawah umur. Beliau r.a. juga telah mengambil bahagian di dalam Pertempuran Uhud bersama-sama dengan Ummu Sulaim r.a.



Anas r.a. mengatakan bahawa beliau telah melihat 'Aishah binti Abu Bakar r.a. dan Ummu Sulaim r.a. menyinsingkan kaki seluar mereka dan sebahagian daripada buku lali mereka telah terlihat olehnya (Anas r.a.). Kedua-dua mereka bertugas mengangkat gereba air dan memberi minum kepada tentera Islam. Mereka berulang-alik mengisi air dan memberi minum kepada Mujahidin. (Bukhari, Jilid I, m/s 403)



Tugas menyediakan air adalah proses yang berterusan di medan perang. Tugas ini hanya boleh dilakukan oleh wanita yang bersenjata dan berpengalaman, dan bukan seorang gadis mentah berumur sepuluh tahun. Sedangkan untuk mengangkat gereba air pun suatu tugas yang berat untuknya (sekiranya beliau r.a. berumur sepuluh tahun pada masa itu) bagaimana mungkin beliau sama-sama memikul tanggungjawab bersama Ummu Sulaim r.a., seorang wanita dewasa? Berganding bahu dengan Ummu Sulaim r.a. itu sendiri membuktikan bahawa Ummul Mu'minin r.a. sekali-kali bukan seorang kanak-kanak di bawah umur pada masa itu. Dan juga, apabila diakui bahawa kanak-kanak lelaki yang berumur 14 tahun tidak dibenarkan menyertai peperangan, bagaimana mungkin Ummul Mu'minin r.a. yang berumur 10 tahun dibebankan dengan tugas berat ini.



Saudara, perbincangan di atas adalah dari sudut hadis. Sekarang mari kita bincangkan tajuk ini dari aspek sejarah, yang mana akan terus menyokong pendapat bahawa Ummul Mu’minin tidak berumur enam tahun semasa beliau r.a. mengahwini Rasulullah s.a.w.





Hujah Ke-12 – Aishah R.A. Lebih Muda 10 Tahun Dari Kakaknya Asma, Dan Semasa Peristiwa Hijrah Asma R.A. Berumur 27 Atau 28 Tahun



Ahli hadis dan ahli sejarah sepakat bahawa Ummul Mu'minin 'Aishah r.a. adalah sepuluh tahun lebih muda daripada kakaknya Asma' r.a., dan Asma' r.a. meninggal dunia sewaktu berumur 100 tahun pada tahun 73 H. Ini menunjukkan Asma' r.a. berusia 27 atau 28 tahun semasa peristiwa Hijrah. Apabila sepuluh tahun ditolak daripada 28, umur Ummul Mu'minin r.a. menjadi 18 tahun ketika peristiwa Hijrah, dan jika 'Aishah r.a. mula hidup bersama-sama Rasulullah s.a.w. pada tahun 1 H umurnya ialah 19 tahun, dan sekiranya mereka tinggal bersama pada tahun 2 H umurnya menjadi 20 tahun.



Wali al-Din bin Al-Khatib menulis di dalam bukunya 'Al-Ikmal fi Asma' al-Rijal' sebagaimana berikut: “Asma' r.a. adalah ibu kepada Abdullah bin Zubair. Beliau memeluk Islam di awal permulaan Islam di Mekah. Diriwayatkan beliau merupakan orang ke lapan belas memeluk Islam. Beliau sepuluh tahun tua daripada adiknya, 'Aishah. Dia meninggal dunia sepuluh hari selepas kematian anak lelakinya. Ada juga pendapat mengatakan bahawa selepas 20 hari Ibn Zubair diturunkan daripada gantungan, beliau (Asma' r.a.) genap umurnya 100 tahun, dan perstiwa ini berlaku di Mekah pada tahun 73 H” (Mishkat, m/s 556)



Hafiz Ibn Hajar menulis di dalam 'Taqrib-ul-Tahzib':



"Asma r.a. hidup selama 100 tahun dan meninggal dunia pada tahun 73 atau 74 H." (Taqrib-ul-Tahzib, m/s 565)



Hafiz Ibn Kathir menulis di dalam kitab sejarahnya yang terkenal, 'Al-Bidayah-wa al-Nihayah': "Adik kepada Asma' ialah 'Aishah r.a., ayahnya ialah Abu Bakar As-Siddiq r.a., datuknya ialah Abu Qahafah r.a., anak lelakinya ialah Abdullah r.a., dan suaminya ialah Zubair r.a., dan kesemuanya adalah merupakan sahabat r.a."



Asma' r.a., bersama-sama anaknya Abdullah dan suaminya, menyertai Perang Yarmuk. Beliau lebih tua sepuluh tahun dari adiknya 'Aishah r.a.



Beliau menyaksikan pembunuhan anaknya, Abdullah bin Az-Zubair r.a., yang menyedihkan beberapa hari sebelum kematiannya (pada tahun 73 H). Setelah lima hari kejadian ini berlaku, menurut sesetengah pendapat mengatakan 'selepas sepuluh hari' sementara pendapat yang lainnya pula mengatakan 'setelah lebih daripada 20 hari', dan beberapa pendapat lagi mengatakan 'selepas 100 hari', Asma' r.a. meninggal dunia. Suatu yang dimaklumi semua bahawa beliau berumur 100 tahun semasa kematiannya. Tiada satupun giginya tanggal malah tidak ada sebarang kekurangan pada ingatannya. (Al-Bidayah-wan-Nihayah Jilid VIII, m/s 346)



Begitu juga az-Zahabi telah menulis di dalam bukunya 'Siyar -A’lam al-Nubala'. Beliau mengatakan:



"Asma' r.a. binti Abu Bakar r.a. adalah lebih kurang sepuluh tahun lebih tua daripada 'Aishah r.a." (Siyar-A’lam Al-Nubala, Jilid II, m/s 208)



Abdur Rahman bin Abi Zinad mengatakan bahawa Asma' r.a. adalah sepuluh tahun lebih tua daripada 'Aishah r.a.. Urwah juga mengatakan bahawa Asma' r.a. wafat semasa berumur 100 tahun.(Siyar- A’lam Al-Nubala, Jilid II, m/s 213)



Hafiz az-Zahabi, Hafiz Ibn Kathir dan Wali al-Din Al-Khatib adalah dikenal sebagai ulama hadis. Tokoh-tokoh ini juga adalah ahli sejarah dan ulama hadis (muhaddis) yang terkenal dalam ilmu Rijal (biografi perawi). Mereka mengatakan Ummul Mu’minin Aishah r.a.ialah sepuluh tahun lebih muda dari Asma’ r.a. Berdasarkan fakta bahwa umur Asma’ adalah 100 tahun semasa meninggal dunia, kita dapati umur Ummul Mu’minin ialah 16 tahun semasa berkahwin dan 19 tahun semasa mula hidup bersama dengan Rasulullah s.a.w. r.a. Sekali lagi dibuktikan bahawa angka ‘10’ telah digugurkan oleh Hisham di dalam riwayatnya, dan beliau telah tersalah bila menyebut hanya satu angka iaitu ‘6’ dan perkara yang serupa bila menyebut angka ‘9’. Sekiranya riwayat Hisham adalah benar umur Asma’ r.a. menjadi kurang sebanyak sepuluh tahun.





Hujah Ke-13 – Ahli Sejarah At-Tabari Mengatakan Aishah R.A. Lahir Di Zaman Jahilliyah (Sebelum Kerasulan)



Ahli sejarah Muhammad bin Jareer al-Tabari, menceritakan tentang keluarga Saidina Abu Bakar r.a. sebagaimana berikut:



"Abu Bakar r.a. telah berkahwin sebanyak dua kali semasa zaman Jahiliyah. Pertama dengan Qatilah dan memperolehi Abdullah dan Asma' r.a., dan kedua dengan Ummu Rumman r.a., yang daripadanya 'Aishah r.a. dan Abdur-Rahman r.a. telah dilahirkan". Kemudian beliau menyebut:



"Empat orang anak ini telah dilahirkan oleh dua orang isteri sebagaimana dinyatakan di atas. Kesemuanya telah dilahirkan pada zaman Jahiliyah". (Tarikh Tabari, Jilid IV, m/s 50)



Ingat bahawa kaum Shiah mengatakan umur Aishah ialah enam tahun bila mengahwini Rasulullah s.a.w. Al-Tabari sendiri merupakan seorang Syi'ah tulin tetapi beliau mengesahkan bahawa Ummul Mu'minin r.a. dilahirkan pada zaman Jahiliyah. Hampir setiap Muslim tahu bahawa zaman sebelum daripada Kerasulan dipanggil sebagai 'zaman Jahiliyah'. Jika Ummul mu'minin r.a. telah dilahirkan meskipun beberapa bulan sebelum Kerasulan, usianya ialah 15 tahun pada waktu beliau mula tinggal bersama Rasulullah s.a.w. Dan juga, kami telah membuktikan sebelum ini bahawa Ummul Mu’minin r.a. telah dilahirkan sekurang-kurangnya lima tahun sebelum Kerasulan. Dengan ini, telah pasti bahawa Ummul Mu’minin r.a. mula hidup bersama Rasulullah s.a.w. ketika berusia 19 tahun. Bagaimanapun, mungkin juga usianya lebih tua daripada sembilan belas tahun tetapi adalah mustahil beliau lebih muda dari itu.



Pada pandangan kami, semua tipu helah ini adalah ciptaan orang-orang Kufah. Ini adalah kerana mereka mendakwa Fatimah r.a. dilahirkan lima tahun selepas kerasulan dan beliau berkahwin semasa berumur sembilan tahun Dicatitkan di dalam ‘Tu’fatul Awam’ iaitu buku fiqah mereka, bahawa seorang gadis sepatutnya dikahwinkan setelah usianya mencecah sembilan tahun. Dengan itu, orang Kufah, dengan niat untuk menyembunyikan muslihat jahat mereka telah memalsukan fakta tentang usia Ummul Mu’minin r.a. Bila ahli sunnah dengan lantang menolak penipuan orang Syiah ini, mereka akan menjawab, “ Bagaimana kamu boleh menolak fakta ini sedangkan kamu menerima yang Fatimah berkahwin semasa berumur sembilan tahun!”



Sekiranya kita berpegang bahawa perbezaan umur di antara Aishah r.a. dan Asma’ r.a ialah sepuluh tahun, maka umur Asma’ ialah 14 tahun semasa nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul. Dengan fakta ini Ummul M’minin r.a. sudah pasti dilahirkan sebelum kerasulan. Ini bermakna, bahawa Ummul Mu’minin r.a. dan Saidatina Fatimah r.a. adalah hampir sebaya. Perbezaan umur sebanyak sepuluh tahun di antara kedua-duanya hanyalah rekaan orang Kufah.





Hujah Ke-14 – Aishah R.A. Adalah Antara Orang-Orang Yang Terawal Memeluk Islam



Ibn Hisham, seorang ahli sejarah, telah menyenaraikan nama mereka yang beriman di dalam bukunya ‘As-Seerat’ di bawah tajuk “As-Sabiqun al-Awwalun” (Orang-orang Yang Terawal dan Terkemuka). Beliau meletakkan Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. di tempat yang teratas, diikuti lelaki, wanita dan kanak-kanak mengikut turutan. Beliau menulis:



“Selepas Saidatina Khadijah r.a., Usman Ibn Affan, Zubair bin Al-Awwam, Abdur-Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqas dan Talhah bin Ubaidullah (termasuk Zaid, Ali dan Abu Bakar) r.a. Ini adalah sekumpulan lapan orang yang telah memeluk Islam melalui seruan Abu Bakar r.a. yang terlebih dahulu memeluk Islam. Kemudiannya Abu Ubaidah bin Al-Jarah memeluk Islam diikuti oleh Abu Salamah bin Abdul Asad dan Arqam bin Abi Al-Arqam (yang mana rumahnya terletak di atas Bukit Safa yang digunakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. meyebarkan Islam secara rahsia).



Setelah orang Islam berjumlah 40 orang, mereka telah keluar berdakwah secara terang-terangan. Hasil daripada usaha tersebut, mereka ini telah menerima Islam, Uthman bin Maz’un beserta adiknya Qadamah dan Abdullah, Ubaidah bin Al-Harith, Sa’id bin Zaid dan isterinya Fatimah (adik perempuan Umar bin Al-Khattab), Asma’ binti Abu Bakar r.a. dan ‘Aishah binti Abu Bakar r.a., kedua-duanya masih kecil, dan Khabab bin Al-Arth. (Ibn Hisham, Jilid I, m/s 65)



Dari senarai Ibnu Hisham, Asma’ dan Aishah r.a. berada di tempat ke sembilan belas dan ke dua puluh. Aishah r.a. telah memeluk Islam lama terlebih dahulu sebelum Saidina Umar r.a., iaitu pada tahun nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul. Kini, jika kita hendak menerima riwayat Hisham, Ummul Mu’minin r.a. telah memeluk Islam empat tahun sebelum kelahirannya. Oh, amat menakjubkan!



Ibn Ishaq juga menyenaraikan dengan turutan, sahabat-sahabat r.a. yang telah memeluk Islam pada awal permulaannya. Dia menyebut nama sembilan sahabat r.a. yang telah memeluk Islam di peringkat permulaan. Ibn Ishaq berkata, “Kemudian Abu Ubaidah r.a. telah memeluk Islam, selepasnya Abu Salamah r.a., dan Arqam bin Abi Al-Arqam, dan Uthman bin Maz’un, dan Ubaidah bin Al-Harith, dan Sa’id bin Zaid beserta isterinya Fatimah (binti Al-Khattab), dan Asma’ binti Abu Bakr dan ‘Aishah binti Abu Bakar r.a. memeluk Islam dan beliau masih kecil ketika itu. (As-Seerat-un-Nabawiyyah, Jilid I, m/s 452)



Di sini, Ibn Ishaq telah meninggalkan nama dua adik-beradik kepada Maz’un r.a., iaitu Qadamah dan Abdullah, meletakkan nama Asma’ dan ‘Aishah pada kedudukan yang ke-17 dan 18; dan sekiranya dua nama tadi dimasukkan maka Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. jatuh di tempat yang ke-20.



Senarai yang sama telah dikeluarkan oleh Ibn Suhaili dalam kitabnya yang terkenal iaitu ‘Kitab-Al-Raudh Al-A’yif’



Keterangan di atas menjelaskan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah di kalangan Orang-orang Yang Terawal Beriman, dan beliau telah menyatakan keimanannya pada tahun pertama Kerasulan. Meskipun beliau seorang gadis kecil, yang pastinya, beliau sudah faham tentang makna Islam dan Iman. Kemungkinan besar beliau telah dilahirkan lima tahun sebelum kerasulan dan beliau berumur enam tahun semasa menerima Islam.



Penulis ‘Hayat Sayyid -ul-Arab’ meletakkan Waraqah bin Naufal sebagai orang yang pertama sekali memeluk Islam. Ia telah disokong oleh Hafiz Balqinin dan Hafiz Iraqi. Ibn Mandah, Ibn Hajar, Tabari, al-Baghawi, Ibn Qan’iah dan Ibn al-Sakan juga telah menyatakan Waraqah adalah salah seorang di antara sahabat r.a.



Selepas daripada Waraqah, Khadijah r.a. ialah Orang Yang Terawal Beriman. Kemudian selepasnya ialah Abu Bakar r.a. di kalangan lelaki dewasa, Ali r.a. di kalangan kanak-kanak, Za’id bin Harithah r.a. di kalangan hamba sahaya. Kemudiannya Ummu Aiman, dan Ummu Rumman isteri Abu Bakar r.a., kemudian Ummu Khair ibu kepada Abu Bakar, selepas itu Asma’ r.a. anak perempuan Abu Bakar. Dan telah diakui di kalangan ahli sejarah bahawa ‘Aishah dan Asma’ telah memeluk Islam bersama-sama. Dengan ini, Ummul Mu’minin Aishah berada di tempat yang kesepuluh.



Ibn Sa’ad menceritakan bahawa wanita pertama yang memeluk Islam ialah Khadijah r.a. Selepasnya ialah Ummul Fazal r.a. iaitu isteri kepada Abbas. Kemudiannya ialah Asma’ anak perempuan Abu Bakar dan ‘Aishah. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan sebagaimanan turutan ini.



Akan tetapi amat dikesali bahawa mereka yang terpengaruh dengan riwayat Hisham, telah menulis sesuatu yang bercanggah dengan kenyataan iaitu bahawa Ummul Mu’minin r.a. belum lagi dilahirkan pada masa itu! Kami amat terkejut bahawa Shibli tidak memasukkan langsung seorang pun ahli keluarga Abu Bakar di dalam senarai Orang Yang Terawal Beriman di dalam bukunya ‘Siratun Nabi, Jilid I’. Beliau telah menggugurkan nama Ummu Rumman, Ummul Khair, Asma’ dan ‘Aishah r.a. daripada senarai ini. Beliau bukan sahaja melakukan kesilapan di segi sejarah, tetapi melakukan kesilapan besar bila tidak menyebut mana-mana wanita kecuali Khadijah. Bahkan, beliau tidak menyebut nama puteri-puteri Rasulullah s.a.w. Seperti dijangkakan beliau tidak dapat melupakan Ali!



Hakim Abdur Rauf Danapuri telah menulis di dalam bukunya ‘As’hah-ul-Sa’yer’ sebagai jawapan kepada tulisan Shibli dalam ‘Siratun Nabi’, di mana beliau telah memberikan satu senarai panjang mereka Yang Terawal Beriman. Di dalam senarai ini, beliau telah meletakkan nama Saidatina Asma’ di kedudukan yang ke-16 dan nama Ummul Mu’minin ‘Aishah di tempat yang ke-17. Namun begitu, disebabkan oleh Riwayat Hisham yang menghantui fikirannya, beliau menulis nota kaki sebagaimana berikut:



“Riwayat Bukhari dan Muslim menyebut bahawa apabila Nabi Muhammad s.a.w. mengahwini beliau (‘Aishah), umurnya enam tahun; dan dalam riwayat yang lain beliau berusia tujuh tahun, dan apabila mereka mula tinggal bersama, beliau berusia sembilan tahun. Ibn Sa’ad menulis bahawa Rasulullah s.a.w. dan isterinya ‘Aishah r.a. mulai tinggal bersama di bulan Syawal pada tahun pertama Hijrah”.



Beliau (‘Aishah r.a.) telah dilahirkan selepas empat atau lima tahun Kerasulan. Bagaimanapun, telah difahamkan beliau adalah salah seorang di antara Orang-orang Terawal Beriman. Ini bermakna, beliau adalah seorang Muslim sejak daripada awal kebangkitan Islam. (Abdur-Rauf Danapuri, ‘As’hah-ul-Sa’yer’, m/s 64)



Hakim Rauf telah menunjukkan rasa tidak senangnya mengapa Ummul Mu’minin r.a. telah disenaraikan bersama-sama Orang-orang Terawal Beriman, kerana beliau r.a. masih belum dilahirkan ketika itu. Ini kerana, sebagaimana telah dibuktikan melalui riwayat oleh Imam Bukahri dan Muslim (dari Hisham), bahawa beliau (‘Aishah r.a.) dilahirkan selepas empat atau lima tahun Kerasulan. Hakim Rauf mengatakan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang Muslim semenjak dilahirkan. Kita hairan mengapa Hakim Rauf tidak memasukkan Zainab dan Ruqayyah r.a., anak perempuan nabi s.a.w. di dalam senarai ini.



Ramai orang telah terkeliru disebabkan riwayat Hisham sehingga ke hari ini sebagaimana yang telah dibincangkan di awal tulisan ini. Riwayat Hisham telah menutup pemikiran sehingga hadis dan riwayat lain tidak dipedulikan. Mereka tidak dapat menerima yang lain kecuali yang satu ini dan mata mereka masih lagi tertutup sehingga hari ini.

Hujah Ke-15 – Abu Bakar R.A. Bercadang Mengahwinkan Aishah R.A. Sebelum Berhijrah Ke Habshah



Ahli sejarah mendakwa Ummul Mu’minin r.a telah ditunangkan dengan Jabir bin Mut’im sebelum Rasulullah s.a.w. mengahwini beliau.



Ibn Sa’ad telah meriwayatkan daripada Ibn Abbas bahawa sewaktu Rasulullah s.a.w. menyampaikan hajatnya kepada Abu Bakar r.a. untuk mengahwini ‘Aishah r.a., beliau (Abu Bakar) meminta tangguh daripadanya s.a.w., “Wahai Rasulullah! Saya telah berjanji dengan Mut’im bin ‘Adi bin Nawfal untuk mengahwinkan ‘Aishah dengan anaknya Jabir. Berikan saya sedikit masa supaya saya dapat meleraikan ikatan janji ini daripadanya.” Kemudiannya Abu Bakar r.a. telah membebaskan dirinya daripada Mut’im dan anak lelakinya. Selepas daripada itu, beliau mengahwinkan anak perempuannya dengan Rasulullah s.a.w.



Ibn Sa’ad r.a. telah menukilkan satu riwayat yang lain, melalui Abdullah bin Numeer, daripada Abdullah bin Abi Mulaikah sebagaimana berikut:



“Rasulullah s.a.w. telah menyampaikan hajatnya kepada Abu Bakar untuk mengahwini ‘Aishah. Abu Bakar telah meminta tangguh, “Wahai Rasulullah! Saya telah memberikan ‘Aishah kepada anak lelaki Mut’im bin ‘Adi, Jabir. Tolong berikan saya sedikit tempoh supaya saya dapat membebaskannya. Jabir telah membebaskan ‘Aishah, dan Rasulullah pun mengahwini beliau (‘Aishah).” (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid VIII, m/s 58)



Perhatikan baik-baik bahawa rundingan telah dibuat dengan Mut’im bin Adi untuk mengahwinkan Ummul Mu’minin r.a. dengan anak lelakinya Jabir (bin Mut’in bin Adi)



Semoga Allah mengampuni Shibli kerana terkeliru dengan mengatakan bahawa ‘Aishah r.a. telah ditunangkan dengan anak lelaki Jabir bin Mut’im (bukannya dengan Jabir) sebelum daripada Rasulullah mengahwininya. (Siratun Nabi, m/s 405)



‘Aishah sebenarnya ditunangkan kepada Jabir, dan bukannya kepada anak lelaki Jabir kerana beliau belum berkahwin pada ketika itu. Shibli telah melakukan kesilapan, dan kesilapan ini telah disalin oleh penulis-penulis kemudiannya.



Almarhum Syed Sulaiman Nadvi menulis di dalam bukunya:



“Akan tetapi sebelum ini ‘Aishah telah ditunangkan kepada anak lelaki Jabir bin Mut’im, maka adalah perlu untuk bertanya kepadanya (Jabir) terlebih dahulu.” (Seerah ‘Aishah, m/s 15)



Niaz Fatehpuri menulis; “Saidatina ‘Aishah telah ditunangkan kepada anak lelaki Jabir bin Mut’im hingga ke waktu itu, jadi Saidina Abu Bakar telah bertanya kepada Jabir. (Sahabiyyat, m/s 36)



Almarhum Maulana Said Akbaradi, iaitu seorang penyelidik terkemuka, menulis; “ Beliau (Abu Bakar) berkata bahawa dia telah berjanji dengan Jabir bin Mut’im. Tetapi apabila Jabir bin Mut’im diminta untuk memutuskannya, beliau menolak.” (Seerat-us-Siddiq, m/s 16)



Adalah jelas bahawa kesemua penulis yang hebat ini telah mengakui bahawa perhubungan Ummul Mu’minin r.a. telahpun diputuskan, akan tetapi mereka semua tidak mengetahui kepada siapa sebenarnya beliau r.a. telah ditunangkan. Mereka telah menyalin bulat-bulat pernyataan Shibli itu, dan mereka telah mempertunangkan ‘Aishah bukan dengan Jabir tetapi kepada anak lelaki Jabir yang tidak pernah wujud sampai ke hari ini. Nampaknya, tiada siapa pernah merujuk kepada kitab “Ibnu Sa’ad”. Mereka menjumpai riwayat ini di dalam “Siratun Nabi’ dan tanpa usul periksa menyalin cerita ini di dalam tulisan mereka. Kami tidak menyalahkan penulis-penulis ini tetapi cukup untuk kami katakan kekeliruan ini sebagai “Kesilapan Menyalin”.



Ahli sejarah Muhammad bin Jareer Tabari telah menulis tentang peristiwa ini dengan terperinci sebagaimana berikut:



“Apabila Abu Bakar As-Siddiq r.a. berasa amat terganggu dengan penindasan yang dilakukan oleh orang kafir, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Habshah. Beliau terfikir untuk mengahwinkan anaknya Aishah sebelum meninggalkan Mekah.



Abu Bakar pun pergi berjumpa Mut’im. Isteri Mut’im juga ada bersamanya. Apabila Abu Bakar menyatakan niatnya, isteri Mut’im memberitahu Abu Bakar bahawa jika mereka mengahwinkan anak lelaki mereka dengan anak perempuan Abu Bakar, sudah tentu Abu Bakar dan anaknya akan membuatkan anak mereka, Jabir, keluar daripada agama asalnya untuk memeluk agama Islam.



Sambil melihat ke arah Mut’im, Abu Bakar berkata, “Apa yang dicakapkan oleh isteri kamu ?” (bermaksud, bagaimana beliau menolak lamaran ini?). Mut’im telah menjawab bahawa apa yang dikatakan oleh isterinya adalah betul. “Kami menganggap kamu dan anak perempuan kamu adalah sama (iaitu berdakwah kepada Islam). Mendengarkan ini, Abu Bakar pun beredar dari situ. (Tabari, Jilid I, m/s 493)



Riwayat oleh Tabari ini telah mendedahkan beberapa perkara seperti berikut:



1. Hubungan yang dimaksudkan ialah dengan Jabir, bukannya dengan anak lelaki Jabir.



2. Apabila Saidina Abu Bakar r.a bercadang untuk berhijrah ke Habshah, Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang gadis remaja ataupun hampir dewasa. Inilah sebabnya mengapa Saidina Abu Bakar memikirkan tentang anak perempuannya sebelum berhijrah ke Habshah.



Menurut riwayat Hisham, Ummul Mu’minin r.a. belum lagi dilahirkan, dan jika beliau telah dilahirkan pun, beliau mungkin baru berusia dua atau empat bulan. Bolehkah kita katakan Ummul Mu’minin r.a.. berkahwin pada usia 2-4 bulan?



Kita hairan, Mut’in tidak pernah mengatakan “Wahai Abu Bakar! Baguslah, kamu mempunyai seorang bayi perempuan, dia akan menjadi isteri anak saya.” Tidak, perkataan seperti ini tidak pernah diucapkan.



3. Ini juga membuktikan bahawa ‘Aishah r.a., sebagaimana ayahnya, Abu Bakar telah terkenal dalam mendaawahkan Islam. Mut’im bimbang bahawa anak perempuan Abu Bakar akan mendaawah anak lelakinya memeluk Islam oleh itu adalah lebih baik untuk menghalang perkahwinan itu. Ini satu lagi bukti bahawa beliau (‘Aishah) telah remaja dan mampu berdaawah kepada Islam.



4. Logiknya, seorang ayah hanya akan mula memikirkan mengenai perkahwinan anaknya apabila anaknya melewati usia remaja. Dalam keadaan ini, kita akan terfikir bahawa umurnya sekurang-kurangnya 15 tahun pada ketika itu. Berdasarkan andaian ini, usianya ialah 25 tahun pada ketika beliau mula tinggal bersama suaminya s.a.w. Adalah tidak berasas untuk menetapkan usia yang lebih muda dari itu.





Hujah Ke-16 – Aishah R.A. Disebut Sebagai ‘Gadis’ Dan Bukan ‘Kanak-Kanak’ Semasa Dicadangkan Untuk Bernikah Dengan Rasulullah



Juga merupakan satu fakta sejarah bahawa Khaulah binti Hakim telah memberi cadangan kepada Rasulullah s.a.w. untuk mengahwini ‘Aishah r.a. dan Saudah r.a.. Khaulah bt Hakim adalah isteri kepada Uthman bin Maz’un, dan Uthman bin Maz’un adalah adik susuan Baginda s.a.w. Dalam hubungan ini, Khaulah adalah isteri kepada adik sesusuan Nabi s.a.w.



Khaulah telah berkata, “Wahai Rasulullah! Mengapa anda tidak mahu berkahwin?” Khaulah mengusulkan demikian setelah kematian Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. Lalu Baginda s.a.w. bertanya, “Dengan siapa saya patut berkahwin?” Khaulah r.a. menjawab, “Dengan seorang gadis atau janda” Baginda s.a.w. berkata, “Siapakah gadis itu, dan siapa pula janda itu?” Khaulah menjawab, “Dia adalah anak perempuan orang yang paling kau sayangi di atas muka bumi ini, Abu Bakar, iaitu Aishah, dan janda itu pula ialah Saudah binti Zam’ah.” Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Baiklah, beritahu tentang saya kepada kedua-duanya, dan tunggu.”



Hafiz Ibn Kathir telah menukilkan riwayat ini dengan panjang lebar dengan merujuk kepada ‘al-Baihaqi’ dan ‘Musnad Ahmad’. Kedua-dua kitab tersebut bukanlah buku sejarah, tetapi kitab hadis dan Ibn Kathir tidak meminda atau mengulas riwayat-riwayat ini. Oleh itu, perbahasan ini bukanlah dalil sejarah, akan tetapi dalil hadis.



Dalam Bahasa Arab, perkataan ‘Jari`ah’ biasa digunakan untuk gadis kecil yang belum baligh, sementara perkataan ‘Bakra’ digunakan untuk seorang anak dara. Perkataan ini tidak diucapkan untuk seorang anak kecil berusia lapan atau sembilan tahun; tetapi ia digunakan untuk anak dara yang telah baligh. Sepertimana Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda, “Persetujuan hendaklah diperolehi daripada ‘bakra’ (anak dara) (dalam hal nikah), dan diamnya adalah persetujuannya.” (SahehMuslim)



Perkataan ‘bakra’ dalam Bahasa Arab adalah lawan kepada perkataan ‘thayb’. ‘Thayb’ ialah wanita



berkahwin yang kematian suami atau yang telah bercerai, yang mana dalam Bahasa Urdu disebut sebagai ‘au`rat’(dan dalam bahasa Melayu disebut ‘janda’ atau ‘balu’). Jika anda tidak mempercayainya, cubalah panggil seorang anak dara dengan sebutan ‘au`rat’, dan lihat apa yang akan terjadi!



Itulah sebabnya satu lagi ayat di dalam hadis ini ialah:



“Dan, seorang ‘thayb’(janda atau balu) lebih berhak ke atas dirinya berbanding dengan wali ”. (Saheh Muslim)



Perkataan ‘thayb’ ini digunakan sebagai lawan kepada perkataan ‘bakra’. Di dalam Riwayat daripada ‘Musnad Ahmad’ dan ‘Baihaqi’, Khaulah r.a. mengucapkan; “ada seorang ‘bakra’(gadis atau anak dara) dan ada seorang ‘thayb’(janda)”. Perkataan ‘bakra’ (gadis) ini adalah suatu bukti bahawa ‘Aishah ialah seorang anak dara yang melepasi usia remaja. Jika Aishah r.a. adalah seorang kanak-kanak perempuan berusia enam tahun, maka Khaulah r.a. tentunya akan mengucapkan perkataan “ada seorang ‘jari’at’ (kanak-kanak perempuan) dan seorang ‘thayb’(janda)”. Beliau tidak mungkin berdusta dengan sebegitu jelas. Beliau juga bukanlah seorang ‘ajami’ (bukan Arab), iaitu seseorang yang tidak fasih berbahasa Arab. Beliau tidak mungkin melakukan kesilapan sebodoh ini.



Telah menjadi suatu kebiasaan bagi Nabi Muhammad s.a.w. untuk melawat rumah Abu Bakar setiap hari di waktu pagi dan petang, sepertimana yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam hal ini, mungkinkah Nabi s.a.w. tidak menyedari bahawa apa yang Khaulah beritahu sebagai ‘seorang anak dara’ hanyalah seorang kanak-kanak perempuan yang baru berusia enam tahun? Jikalau benar sedemikian sudah tentu baginda s.a.w. akan berkata:



“Wahai Khaulah!Adik iparku! Adakah kamu berfikir dengan betul ? Kamu telah mencadangkan kepada saya seorang kanak-kanak perempuan dengan mengatakan beliau seorang gadis. Saya biasa melihatnya setiap pagi dan petang”.



Adalah jelas perkara yang sedemikian tidak pernah berlaku. Bahkan, apabila Khaulah menyampaikan hasrat Rasulullah kepada Abu Bakar r.a., beliau (Abu Bakar) menjawab bahawa beliau telah berjanji untuk mengahwinkan Aishah dengan anak Mut’im, dan meminta tempoh untuk menyelesaikan perkara tersebut dengan sebaik mungkin. Abu Bakar tidak pernah mengatakan Aishah r.a. masih lagi kanak-kanak kecil.



Peristiwa ini adalah bukti bahawa Saidatina ‘Aishah bukan lagi seorang kanak-kanak di waktu itu. Sekiranya tidak, Abu Bakar r.a. dan Khaulah binti Hakim r.a. mungkin dianggap sebagai orang kurang siuman, dan kemungkinan juga kemuliaan Nabi s.a.w. akan diperlekehkan. (Semoga Allah melindungi kita dari semua ini!)



Khaulah mencadangkan seorang anak dara kepada Rasulullah s.a.w. Bapanya, Abu Bakar r.a. dan Rasulullah s.a.w. tidak menolak bila mendengar cadangan ini. Jikalau perkahwinan ini telah berlaku sewaktu Ummul Mu’minin r.a. baru berusia enam tahun, maka Nabi Muhammad s.a.w. dan Islam kemungkinannya telah menjadi bahan ejekan dan cemuhan kaum musyrikin di Mekah. Dan, tidak boleh dibayangkan tokoh-tokoh yang bijaksana sebagaimana nabi s.a.w. dan Abu Bakar r.a. melakukan kesilapan sedemikian rupa sehingga menjadi sasaran dan buah mulut orang ramai.



Sebelum daripada ini kami adalah salah seorang yang mempercayai bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah hidup bersama Rasulullah s.a.w. sejak umurnya sembilan tahun, dan kami menerima riwayat ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’. Akan tetapi apabila kami, dengan mengosongkan fikiran, membaca buku-buku hadis dan sejarah, dan buku-buku rijal (biografi perawi), kami membuat kesimpulan bahawa selama ini kami seolah-olah katak yang berada di dalam telaga. Namun, kini kami telah sampai ke peringkat di mana sungai Furat dan Dajlah, bahkan Teluk Farsi, tidak lagi mengepung kami. Sekarang doa kami hanyalah supaya Ulama kami turut keluar daripada tempurung kejahilan dan tipudaya, dan kemudian lihatlah berapa banyak manakah sungai yang mengalir di Pakistan ini.





Hujah Ke-17 – Rasullulah Tidak Tinggal Bersama Aishah R.A. Kerana Masalah Mendapatkan Mahar, Bukan Kerana Umur Aishah Yang Terlalu Muda



Ibn Saad di dalam “Tabaqat”, menukilkan dari Amra binti Abdur Rahman bahawa beliau telah bertanya kepada Ummul Mu’minin r.a., “Bilakah Rasulullah mula tinggal bersama dengan anda?” Beliau (‘Aishah r.a.) menjawab, “Apabila Rasulullah s.a.w. berhijrah ke Madinah, baginda telah meninggalkan saya dan anak perempuannya di Mekah. Setelah tiba di Madinah, baginda telah menghantar Zaid bin Harithah r.a. untuk membawa kami (ke Madinah), dan juga menghantar pembantunya Abu Raf’a r.a. bersamanya (Zaid), dan telah memberi kepada Zaid dua ekor unta dan 500 Dirham. Baginda s.a.w. mendapat duit ini daripada Abu Bakar r.a., dan duit ini telah diberi kepada Zaid bin Harithah untuk tujuan mereka membeli barang-barang keperluan dan lebih banyak unta, jika diperlukan.



Abu Bakar r.a. menghantar Abdullah bin Ariqit Al-dili bersama dengan dua orang ini, dan telah memberikan dua atau tiga ekor unta (kepada Al-dili). Beliau (Abu Bakar r.a.) telah menulis kepada anaknya Abdullah dan menyuruhnya menyiapkan keluarganya untuk berhijrah. Emak saya Ummu Rumman r.a. dan isteri Zubair, Asma’ r.a. dan saya keluar bersama-sama. Apabila kami telah tiba di Qadid, Zaid bin Harithah membeli tiga ekor unta dengan harga 500 Dirham, dan kami mulai bertolak bersama-sama. Di dalam perjalanan kami berjumpa Talhah bin Ubaidullah yang telah keluar dengan niat untuk berhijrah dan beliau mahu menyertai rombongan keluarga kami berhijrah ke Madinah.



Zaid bin Harithah r.a. meneruskan perjalanan ke Madinah dengan membawa bersama Abu Raf’a, Fatimah, Ummu Kalthum dan Saudah bin Zam’ah r.a. Zaid juga telah membawa bersama isterinya Ummu Aiman dan anak lelakinya Usamah r.a. Manakala Abdullah bin Abu Bakar membawa ibunya Ummu Rumman r.a. dan kedua-dua adik perempuannya. Apabila kami sampai ke tempat bernama Baidh yang terletak berhampiran dengan Mina, unta saya telah ketakutan dan lari. Ketika itu saya berada di dalam mehfah, ibu saya telah menangis, “Oh! Anak ku. Oh! Pengantin ku”. Kemudian mereka menemui unta kami yang turun dari gaung. Allah yang Maha Kuasa telah memeliharanya.



Apabila kami tiba di Madinah, saya tinggal bersama dengan keluarga Abu Bakar r.a. (ayah saya), sementara keluarga Rasulullah s.a.w. telah tinggal di rumah berdekatan dengan masjid. Baginda s.a.w. pada masa itu sibuk membina masjid. Kami telah tinggal untuk beberapa hari di rumah Abu Bakar.



Kemudian Abu Bakar r.a. telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Sekarang apakah halangan kepada tuan untuk tinggal bersama dengan isteri tuan?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Maskahwin ialah halangannya.” Kemudian Abu Bakar r.a memberi kepada baginda s.a.w. 12 Ukyah dan beberapa Nash (lebih kurang 500 Dirham atau lebih sedikit). Rasululah s.a.w. kemudiannya telah menghantar wang tersebut kepada kami sebagai mahar perkahwinan. Selepas itu saya telah datang ke rumah ini untuk tinggal bersamanya, di tempat saya tinggal sekarang ini. Di rumah inilah Rasulullah s.a.w. wafat. Dan, Rasulullah telah membina sebuah pintu yang menghala ke masjid yang terletak di hadapan rumah saya. Dan, Rasulullah juga telah hidup bersama Saudah r.a. di sebuah rumah di anjung masjid, bersebelahan dengan rumah saya. (“Tabaqat Ibn Sa’ad”, Jilid VIII, m/s 68)



Meskipun perawi riwayat ini adalah Waqidi, seorang pendusta, tetapi tidak semestinya dia akan berdusta setiap masa. Ada masanya dia akan bercakap benar. Sekali lagi, tidak sebagaimana Shibli, sesetengah pakar hadis cuba untuk membuktikan bahawa beliau (Waqidi) adalah ‘thiqah’. Kami telah menyalin riwayatnya di sini disebabkan oleh apa yang kami petik di atas menyokong riwayat ini. Bayangkan, akhirnya sesuatu yang benar telah keluar dari mulut seorang pendusta!



Tujuan kami hanya untuk menunjukkan jika sekiranya Ummul Mu’minin baru sahaja berusia lapan tahun selepas berhijrah ke Madinah. tidak mungkin sekali-kali Abu Bakar akan meminta Rasulullah s.a.w. untuk tinggal bersama Aishah r.a. Dalam perkataan lain, seolah-olah beliau berkata: “Berapa lama saya patut membiarkan anak perempuan saya tingal di rumah saya? Dan Rasulullah s.a.w tidak akan sekali-kali menjawab ‘Maskahwinnya adalah penghalangnya’. Abu Bakar r.a. tidak suka anak perempuannya tinggal di rumahnya. Jadi beliau menghantar wang hantaran perkahwinan, dan kemudian baginda s.a.w. telah mengadakan majlis perkahwinannya dengan Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a.”. Ini telah membuktikan bahawa tiada sebarang halangan mengapa Rasulullah tidak membawa isterinya r.a. tinggal bersamanya melainkan kerana tiada maskahwin.





Hujah Ke-18 – Hadis Yang Mensyaratkan Mendapat Persetujuan Seorang Gadis Sebelum Dikahwinkan Memerlukan Gadis Tersebut Telah Cukup Umur



Ibn Abbas meriwayatkan yang Rasulullah s.aw. bersabda:,



“seorang janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, dan persetujuan mestilah diperolehi daripada seorang anak dara, dan diamnya adalah menunjukkan persetujuannya (Muslim, jilid 1, m/s 455)



Namun di dalam beberapa riwayat, disebutkan “Anak dara mestilah diminta pandangan darinya”.



Di dalam hadith riwayat Abu Hurairah r.a., nabi s.a.w. bersabda;



“ Janganlah kamu mengahwinkan janda sebelum meminta pandangan darinya dan janganlah kamu mengahwinkan anak dara sebelum meminta persetujuan” (Muslim, Jilid I, m/s 455)



Berdasarkan hadis-hadis ini, kerelaan seorang anak dara (yang belum berkahwin) ialah satu syarat asas bagi perkahwinannya; dan jika gadis itu di bawah umur, tidak timbul soalan mengenai kerelaannya. Ia disebabkan beliau tidak mengetahui tujuan perkahwinan itu sendiri. Dengan itu ulama fiqah menyelesaikan masalah ini dengan memutuskan bahawa wali boleh menjalankan pernikahan seorang kanak-kanak bagi pihak kanak-kanak tersebut. Ulama fiqah berdalilkan riwayat Hisham kerana tiada riwayat lain berkenaan perkara ini. Oleh kerana riwayat ini terbukti salah, maka perkahwinan kanak-kanak belum baligh juga adalah salah.

Hujah Ke-19 – Kebolehan Luarbiasa Aishah R.A Mengingati Syair Yang Biasa Di Sebut Di Zaman Jahiliyah Membuktikan Beliau R.A. Lahir Di Zaman Jahiliyah



Telah tercatat dalam buku hadis dan sejarah bahawa apabila Muhajirin berhijrah ke Madinah, ramai di kalangannya jatuh sakit, termasuklah Abu Bakar As-Siddiq r.a.yang mengalami demam kuat.



Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah menjaga ayahnya sepanjang ayahnya jatuh sakit. (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid III, m/s 43)



Iklim di Madinah tidak sesuai dengan sahabat Muhajirin untuk beberapa ketika. Mereka jatuh sakit berulangkali, hinggakan Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa sebagaimana berikut:



“Ya Allah! Jadikanlah Madinah mengasihi kami sebagaimana Mekah mengasihi kami, malah lebih lagi. Sesuaikanlah iklimnya kepada kami. Berkatilah kami dengan udara dan permukaan bumi. Alihkan demamnya ke arah Jahfah”

(Hadis riwayat Bukahri dan Muslim)



Riwayat ini juga diceritakan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. dan dinukilkan oleh Hisham dari ayahnya Urwah. Dan, terdapat riwayat lain oleh Hisham yang diriwayatkan oleh Imam Malik yang disebutkan di dalam ‘Bukhari’ Jilid II, m/s 848.



Aishah r.a. berkata bahawa Madinah adalah suatu tempat di mana bersarangnya penyakit-penyakit dan wabak-wabak. Penduduknya senantiasa menderita penyakit demam. Saidina Abu Bakr r.a., hambanya ‘Amir r.a. bin Faheerah dan Bilal r.a. telah terlantar sakit di dalam sebuah rumah. Dengan keizinan daripada Rasulullah s.a.w., beliau (‘Aishah r.a.) pergi untuk merawat mereka. Pada masa itu, perintah mengenai pemakaian purdah belum lagi diturunkan. Kesemua mereka sedang terbaring dengan keadaan separuh sedar disebabkan demam yang kuat. Beliau (‘Aishah r.a.) menyambung, ‘Saya menuju ke arah Abu Bakar r.a. dan berkata kepadanya, “Ayah! Bagaimana keadaan kamu?” beliau (Abu Bakar) menjawab:



“Setiap manusia menghabiskan waktunya di kalangan sanak-saudaranya, dan kematian itu adalah lebih hampir daripada tali kasutnya.”



Aishah r.a. berkata bahawa ayahnya tidak mengetahui apa yang telah diucapkannya (disebabkan oleh fikirannya terganggu oleh demam). Kemudiannya saya pergi kepada ‘Amir r.a., dan bertanya, “Amir! Apa khabar?” beliau (‘Amir) berkata:



“Saya telah merasai keperitan maut sebelum datang kematian, kerana seorang penakut akan mati dicucuk hidungnya. Semua orang berjuang dengan kekuatannya, seperti mana sehelai kain menyelamatkan kulit manusia daripada sinarannya.”



Saidatina ‘Aishah r.a. berkata lagi, “Saya fikir beliau juga tidak mengerti apa yang telah diucapkannya.”



Telah menjadi tabiat Bilal apabila beliau menghidap demam, beliau selalunya berbaring di halaman rumah, dan menangis dengan sekuat-kuat hatinya. Pada ketika itu, beliau sedang memperdengarkan bait-bait berikut:



“Alangkah baiknya, jika aku melalui malam di lembah di mana rumput liar dan belalang akan berada di sekeliling ku. Dan jika aku turun pada suatu hari mengambil air di Majnah dan alangkah baiknya kalau aku nampak sha’mmah dan tufail”



Di dalam riwayat ‘Bukhari’ tidak disebut mengenai ‘Amir bin Fareehah, tetapi Imam Ahmad di dalam ‘Musnad’nya telah meriwayatkan tentang ‘Amir daripada Abdullah bin Urwah.



Perhatikan riwayat ini dengan cermat. Ummu Rumman r.a. dan Asma’ r.a. juga berada di dalam rumah itu. Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. dipertanggungjawabkan menjaga orang-orang sakit. Adakah munasabah tanggungjawab penting seperti itu diamanahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan berusia lapan tahun sedangkan pada masa yang sama terdapat wanita lain yang lebih tua di dalam rumah itu? Tugas merawat dan menjaga ini munasabah jika Ummul Mu’minin r.a. sendiri sudah cukup matang dan tahu tanggungjawabnya. Tugas melayan orang sakit sebagaimana yang telah digambarkan di dalam Tabaqat Ibn Sa’ad, adalah tidak masuk akal untuk kanak-kanak di usia 8 atau 9 tahun.



‘Aishah r.a. mengatakan bahawa beliau menceritakan keadaan ayahnya, ‘Amir bin Fareehah dan Bilal r.a., dengan menyebut bait-bait ini kepada Rasulullah s.a.w.:



“Mereka ini berjalan terhuyung-hayang. Mereka menjadi kurang waras disebabkan oleh demam yang amat kuat.”



Keseluruhan peristiwa ini membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. telahpun menjadi seorang surirumah pada tahun 1 H. Bayangkan dia meminta izin suaminya untuk melawat dan merawat orang sakit. Bayangkan bagaimana sekembalinya, beliau r.a. telah mengulang kesemua bait-bait yang didengarinya, dan memberitahu suaminya s.a.w. bahawa mereka ini melafazkan bait-bait ini di dalam keadaan demam kuat dan dalam keadaan tidak sedar.



Kesemua perkara ini adalah amat payah untuk dilakukan dan difahami oleh seorang kanak-kanak perempuan berumur sembilan tahun. Ini adalah urusan orang dewasa. Mengingati dan menghafal syair-syair adalah mungkin, hanya apabila Ummul Mu’minin r.a. telah melalui sebahagian daripada usianya di dalam persekitaran begitu. Walaubagaimanapun, jika kita menerima bahawa beliau hidup bersama suami (Rasulullah) sewaktu berusia sembilan tahun dan beliau dilahirkan setelah tahun kelima Kerasulan, tidak wujud persekitaran rumah yang sedemikian kerana pada masa itu rumah mereka dipenuhi dengan bacaan al-Quran dan bukannya syair. Bila dan di mana beliau (‘Aishah) belajar syair ini? Jawapan mudahnya ialah: ‘beliau telah dilahirkan sebelum Zaman Kerasulan, mindanya telah terdidik dengan kesusasteraan sebagaimana penduduk Mekah yang lain’. Kita akan membincangkan hal ini dengan lebih lanjut di halaman yang selanjutnya.





Hujah Ke-20 – Kemahiran Dalam Sastera, Ilmu Salasilah Dan Sejarah Sebelum Islam



Waliuddin Al-Khateeb, penulis Mishkath menulis:



“Saidatina ‘Aishah r.a. merupakan seorang wanita yang faqih, alim, fasih, dan fazilah. Beliau paling banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah s.a.w. Beliau r.a. sangat mahir dalam sejarah peperangan dan syair-syair Arab (sebelum kedatangan Islam).”(‘Mishkat’, m/s 612)



Anak saudaranya Urwah r.a. menjelaskan bahawa beliau tidak pernah menjumpai seseorang yang lebih mahir daripada Saidatina ‘Aishah r.a. di dalam bidang tafsir al-Qur’an, ilmu Fara’id, hukum halal-haram, hukum fiqah, syair, perubatan, sejarah Arab dan ilmu salasilah. (‘Al-Bidayah wan-Nihayah’, Jilid VIII, m/s 92)



‘Ata bin Abi Rabah mengatakan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang ahli fiqah yang paling hebat, seorang ulama’ yang paling tinggi pengetahuannya dan seorang pemikir yang paling tinggi tahap pemikirannya. (‘Al-Bidayah wan-Nihayah’, Jilid VIII, m/s 92)



Abu Musa Ashaari r.a. berkata “Apabila kami, para sahabat mengalami kesulitan dalam memahami hadis nabi, kami akan mendapat penyelesaian yang mudah daripada beliau” (‘Tirmizi’, ‘Al-Bidayah wan-Nihayah)



Abul Zinad menceritakan bahawa beliau belum pernah melihat seorang lelaki yang lebih mahir dalam syair berbanding Urwah. Beliau telah bertanya kepada Urwah, “Bagaimana anda boleh menjadi seorang yang sangat hebat dalam syair?” Urwah telah menjawab bahawa beliau mewarisinya daripada ibu saudaranya Aishah r.a.; dan menambah, apabila berlaku sebarang peristiwa, beliau (‘Aishah r.a.) akan melafazkan secara spontan serangkap syair yang menggambarkan keadaan itu.



Musa bin Talhah menceritakan bahawa beliau tidak pernah menemui seseorang yang lebih petah berbicara dari Aishah r.a. Urwah r.a. berkata bahawa beliau pernah bertanya kepada Ummul Mu’minin r.a., “Wahai ibu saudaraku! Saya tidak hairan bagaimana anda menjadi seorang yang faqih, kerana anda adalah isteri kepada Rasulullah s.a.w. dan anak perempuan kepada Abu Bakar r.a. Saya juga tidak hairan kerana anda dapat mengingat syair dan mahir tentang sejarah kerana anda adalah anak kepada Abu Bakar, orang yang paling alim. Akan tetapi saya hairan dengan pengetahuan anda yang mendalam dalam perubatan, daripada manakah anda mempelajarinya?” Ummul Mu’minin r.a. menepuk bahu Urwah dan berkata, “Wahai Urwah! Rasulullah s.a.w. menderita sakit di hari-hari terakhir kehidupannya, dan ramai utusan yang datang melihatnya dari setiap ceruk, dan mereka mecadangkan ubat-ubatan untuknya s.a.w, dan saya memberikan ubat kepadanya menurut cadangan-cadangan tersebut.



Untuk mencapai kecekapan di dalam kesusateraan Arab, syair, ilmu salasilah dan sejarah Arab, memerlukan masa yang lama dan seorang pelajar hendaklah cukup berumur untuk memahami dan mengingati ilmu tersebut. Dan kita tahu bahawa ilmu salasilah dan sejarah Arab adalah topik yang membosankan.



Berdasarkan riwayat Hisham, beliau (‘Aishah) masih lagi seorang kanak-kanak berumur lapan tahun, semasa berlakunya peristiwa Hijrah. Abu Bakar r.a., meninggalkan keluarganya di Mekah dan berhijrah ke Madinah. Selepas beberapa bulan, beliau membawa ahli keluarganya (melalui sahabatnya). Beliau membawa ahli keluarganya datang ke Madinah, dan Saidatina ‘Aishah mulai tinggal bersama suaminya Rasulullah setelah beberapa hari tiba di Madinah. Dalam tempoh yang sebegitu singkat beliau tidak akan mendapat sebarang peluang untuk menimba ilmu dan pengalaman daripada ayahnya.



Di Madinah, aktiviti Rasulullah s.a.w. adalah amat berbeza berbanding semasa berada di Mekah. Di sini baginda mengajarkan al-Qur’an, solat dan puasa, dan menyebarkan Islam ke wilayah-wilayah.luar. Persekitaran ini tiada kaitan langsung dengan ilmu salasilah, ilmu sejarah dan syair. Saidatina ‘Aishah tidak mungkin dapat mencapai kemahiran dengan memahami dan menyesuaikan syair-syair melainkan beliau telah melalui masa yang agak panjang untuk memerhati dan mempelajari syair. Beliau telah menghafal rangkap-rangkap syair Arab yang terbaik yang akan diungkapkan bersesuaian dengan keadaan. Beliau juga telah memahami dengan mendalam rangkap-rangkap prosa. Hadis yang dinyatakan oleh Ummu Zar’i, yang diriwayatkan dalam ‘Muslim’, merupakan karya agung sasteranya.



Dengan itu, boleh disimpulkan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah merupakan seorang wanita yang dewasa sebelum perkahwinannya. Beliau telah memperolehi kemahiran ini samada dengan belajar atau memerhati ayahnya. Disebabkan oleh daya ingatan dan kebijaksanaannya yang luar biasa, beliau telah mencapai kecemerlangan di dalam ilmu salasilah Arab, juga kemahiran yang tinggi di dalam syair dan sejarah.



Saidatina ‘Aishah r.a. berkata: “Suatu hari, Rasulullah sedang membaiki kasutnya dan saya memerhatikannya. Dengan melemparkan pandangannya ke arah saya, baginda s.a.w. bertanya, “Kenapa? Kamu merenung saya dengan begitu tekun.” Saya menjawab, “Saya melihat kesepadanan rangkap syair oleh Abu Bakr al-Hazli pada diri kamu. Jika beliau masih hidup, beliau tidak akan menemui orang lain yang lebih sesuai untuk rangkap syairnya.” Baginda s.a.w. bertanya kepada saya apakah rangkap tersebut. Kemudian Ummul Mu’minin r.a. berkata:



“Sesuatu yang tidak ada padanya kekejian, dan daripada kekotoran pemerah susu dan daripada setiap penyakit yang berjangkit, (dan) apabila kamu melihat kepada garis-garis di wajahnya, (kamu akan melihat) ia bercahaya, sebagaimana pipi yang terang bercahaya.”



Mendengarkan rangkap ini, Rasulullah s.a.w. amat gembira, sambil menggeleng-geleng kepalanya, baginda bersabda, “Ia amat menyenangkan saya, syair ini tepat pada tempatnya”



Ini bermakna bahawa Ummul Mu’minin r.a. bukanlah sekadar seorang wanita alim yang kaku bahkan Rasulullah s.a.w. sendiri juga bukanlah seorang yang hambar dan membosanknan.



Sewaktu adiknya Abdur Rahman meninggal dunia, beliau (‘Aishah r.a.) dengan spontan mengungkapkan bait-bait ini:



“Kita berdua adalah diibaratkan seperti dua orang pengiring raja Jazimah. Untuk suatu tempoh yang lama, sangat lama mereka bersahabat hinggakan orang berkata bahawa tidak mungkin mereka akan berpisah. Namun apabila kami berpisah, meskipun saya dan Tuan telah bersama dalam tempoh yang lama, tetapi rasanya kami tidak pernah tinggal bersama walaupun satu malam.”



Ungkapan-ungkapan Ummul Mu’minin r.a tentang syair, sejarah dan salasilah yang ditemui di dalam kitab-kitab hadis, sejarah dan kesusateraan boleh dirumuskan bahawa beliau adalah seorang ahli hadis, ahli feqah, ahli tafsir al-Quran, ahli sejarah dan pakar salasilah yang terhebat di zamannya.



Dengan tujuan untuk menenggelamkan ketokohan Aishah r.a. dalam bidang keilmuan dan kesusasteraan, orang-orang Syiah mencipta cerita kononnya Ummul Mu’minin suka bermain dengan anak patung dan anak patung ini menjadi sebahagian penting dari hidupnya. Bahkan apabila Rasulullah s.a.w. kembali daripada Perang Tabuk, baginda s.a.w. melihat anak patung yang dihiasi di suatu sudut rumahnya, meskipun setelah sembilan tahun menjadi isteri Rasulullah s.a.w!! Dalam erti kata lain, beliau (‘Aishah) tidak melakukan sebarang kerja, melainkan berterusan bermain dengan anak patungnya, walaupun setelah menjadi salah seorang daripada ahli keluarga Nabi s.a.w.



Sedangkan, fakta sebenarnya ialah setelah menjadi isteri Nabi s.a.w., Ummul Mu’minin r.a. telah pun mencapai tahap kemuncak di bidang keilmuan di mana beliau mampu meletakkan prinsip-prinsip asas hukum fiqah dan hadis yang diakui dan diguna pakai oleh sahabat-sahabat r.a.



Contohnya, Ummul Mu’minin memperkenalkan satu prinsip iaitu suatu yang bercanggah dengan al-Quran tidak sekali-kali akan diterima, sama ada ia ditakwil atau sememangnya yang ditolak.



Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas perhatikan riwayat tentang orang kafir yang telah terbunuh di dalam Perang Badar. Rasulullah s.a.w. mencampakkan mayat mereka ke dalam satu lubang dan sambil berdiri di tepi lubang tersebut baginda mengucapkan, “Adakah kamu dapati apa yang dijanjikan oleh tuhanmu benar.” Lalu para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Adakah kamu bercakap dengan orang yang telah mati? Baginda kemudiannya menjawab: “Kamu tidak akan mendengar lebih daripada mereka, cuma mereka tidak dapat menjawab.” Mendengarkan ini Ummul Mu’minin r.a. berkata, “ Rasulullah tidak pernah mengucapkan perkara tersebut, sebaliknya baginda telah mengucapkan: “Kini mereka tahu sesungguhnya apa yang aku cakapkan adalah benar ”. Baginda s.a.w. tidak mungkin melafazkan kata-kata sebagaimana riwayat di atas, kerana Allah Yang Maha Esa telah berkata: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat membuatkan orang yang telah mati mendengar.” (Bukhari Jilid I, m/s 183)



Suatu contoh lagi ialah apabila hampir meninggal dunia Saidina Umar r.a. telah mengucapkan hadis Nabi ini: “Sesungguhnya, mayat akan diazab dengan ratapan daripada ahli keluarganya.” Mendengarkan ini, Saidatina ‘Aishah r.a. berkata: “Semoga Allah yang Maha Kuasa mencucuri rahmat kepada Umar r.a. Rasulullah s.a.w. tidak pernah mengucapkan hadis ini, yakni bahawa Allah S.W.T. memberi azab terhadap orang Mu’min disebabkan oleh ratapan daripada ahli keluarganya, sebaliknya Rasulullah s.a.w. telah mengucapkan bahawa Allah S.W.T. akan melipatgandakan azab terhadap orang kafir lantaran ratapan oleh ahli keluarganya. Dan al-Qur’an itu adalah mencukupi bagi kamu, dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.”



Di dalam riwayat yang lain beliau (‘Aishah) menjelaskan, “Apa yang sebenarnya berlaku ialah seorang perempuan Yahudi telah meninggal dunia, dan ahli keluarganya telah meratapi kematiannya. Dengan menujukan kepada mereka, Rasulullah s.a.w. telah mengucapkan: “Mereka ini sedang meratapi kematian beliau, sedangkan beliau diazab di dalam kuburnya.” (Bukhari, Jilid I, m/s 172,/ ‘Muslim’, Jilid I, m/s 303)



Teguran yang diberikan oleh Ummul Mu’minin r.a. dalam dua peristiwa ini, mengasaskan prinsip-prinsip fiqah dan hadis sebagaimana berikut :



1- Bila makna sesuatu hadis bercanggah dengan al-Quran, walau betapa tinggi kedudukan sanadnya, ianya adalah tertolak. Prinsip ini digunakan oleh fiqah mazhab Hanafi.



2– Walau setinggi manapun kedudukan seseorang perawi, sesuatu hadis tetap tidak akan diterima sekiranya dia meriwayatkan sesuatu yang bercanggah dengan al-Quran. Tiada siapa akan mencapai kedudukan seumpama Saidina Umar r.a. dan Saidina Abdullah bin Umar r.a. Apabila Ummul Mu’minin r.a. mengutamakan ‘prinsip’ bila berdepan dengan ‘peribadi’ perawi, suatu prinsip lain diperkenalkan iaitu, ‘ bila sahaja seorang perawi dibandingkan dengan satu prinsip maka perawi itu akan ditolak dan prinsip itulah yang akan diterima pakai.



3- Apabila seseorang mengatakan sesuatu yang bercanggah dengan al-Quran atau prinsip ini, beliau dianggap telah tersalah faham atau tidak dapat mengingati peristiwa tersebut dengan tepat ataupun mungkin beliau tidak dapat memahami kedudukan sebenar peristiwa itu.



4- Sesungguhnya al-Quran itu adalah mencukupi untuk perkara berkenaan Kaedah dan Rukun keimanan. Oleh itu kita tidak perlu menyokong riwayat tersebut.



5- Sayugia diingat, siapakah Saidina Umar r.a. ini. Sedangkan peribadi agung seperti Saidina Umar r.a. tidak boleh diterima sekiranya riwayatnya bercanggah dengan al-Quran. Lalu, bagaimana mungkin kita bertaqlid buta kepada seseorang yang berjuta kali lebih rendah daripada Umar r.a.. Sekiranya telah jelas terdapat kecacatan dalam di dalam sesuatu riwayat maka riwayat tersebut hendaklah ditolak.



Apabila Saidina Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan hadis di atas, Ummul Mu’minin r.a. berkata: “Semoga Allah mengampuni segala dosa Abu Abdur-Rahman. Beliau tidak berdusta. Akan tetapi mungkin beliau terlupa atau tersilap.” (‘Muslim’, Jilid I, m/s 303)



Dari ungkapan ini, Ummul Mu’minin r.a. mengasaskan satu lagi prinsip, iaitu;



6- Walau bagaimana jujur dan terpercayanya seseorang perawi, meskipun dia adalah seorang daripada sahabat yang adil yang sememangnya tidak pernah berdusta, mereka mungkin melakukan kesilapan iaitu samada ia terlupa atau kurang memahami maksud sebenar. Tiada seorang pun yang terkecuali daripada kesilapan seperti itu.



Oleh itu tidak semestinya setiap riwayat perawi yang thiqah adalah tepat. Boleh jadi beliau tersilap dalam merawikan atau dia tidak mendengar percakapan dengan lengkap.



Apabila kemungkinan seperti itu berlaku di kalangan sahabat r.a., untuk menganggap bahawa Hisham terselamat dan bebas daripada kekurangan atau kecacatan, adalah sama seperti mencela kesucian dan kebenaran Nabi s.a.w. dan juga suatu serangan terhadap kehormatan sahabat r.a. Ulama hadis menamakan riwayat sedemikian sebagai riwayat ‘mungkar’ (yang disangkal). Oleh kerana itu, masyhur di kalangan mereka istilah seperti mungkarat Sufyan Uyainah, Hammad ibn Salamah dan Sharik bin Abdullah Al-Madani.



Berdasarkan alasan ini ulama hadis dan juga ahli feqah bersepakat bahawa setiap manusia, secara semulajadi, mempunyai mempunyai sifat pelupa dan melakukan kesilapan. Ada kemungkinan seorang sahabat r.a. melakukan kesilapan dalam memindahkan lafaz, ataupun telah tersilap dalam memahami maksudnya yang sebenar, atau mungkin juga beliau tidak menyaksikan keseluruhan peristiwa yang berlaku dan membuat kesimpulan yang salah. Ataupun mungkin telah mendengar sebahagian daripada percakapan dan mengeluarkan pendapat berdasarkan pertimbangannya sendiri. Mungkin juga beliau telah terkeliru bila menyaksikan hanya sebahagian daripada sesuatu peristiwa. Apabila kita menimbangkan kemungkinan kecacatan ini dalam riwayat sahabat kita sepatutnya perlu lebih berhati-hati sebelum menerima riwayat dari perawi bukan sahabat. Dan sekiranya sebarang kelemahan ditemui di dalam mana-mana riwayat, maka kita perlu lebih berhati-hati sebelum menerima riwayat tersebut. Dengan itu setinggi manapun sanad sesuatu hadis ianya tetap dikatakan ‘zanni’ (sangkaan kuat) dan setiap peringkat tidak terlepas dari ‘zann’. Bezanya di dalam hadis mutawatir tahap ‘zann’ (keraguan) adalah paling sedikit berbanding hadis ahad. Di dalam riwayat Hisham ini kita dapati ada ‘keraguan” di setiap peringkat perawi.



Jikalau bilangan perawi lebih sedikit di dalam sesuatu sanad maka semakin berkuranglah ‘zann’ (keraguan) nya. Itulah sebabnya mengapa ulama hadis akan mengelaskan sesebuah hadis yang mempunyai bilangan dan peringkat perawi yang sedikit, sebagai ‘Alee’ (yang lebih tinggi)’, sementara sebuah hadis yang mempunyai bilangan dan peringkat perawi yang banyak, sebagai ‘Safil’ (tahap yang lebih rendah).


Sebagai contohnya, Imam Bukhari menukilkan sebuah riwayat melalui sanad ini:



“Al-Humaidi menceritakan bahawa Sufyan berkata kepadanya, daripada al-Zuhri, daripada Urwah, daripada ‘Aishah...” Di dalam ‘sanad’ ini, terdapat lima orang perawi yang menghubungkan antara Rasulullah s.a.w. dan Bukhari. Berlainan dengan riwayat yang kedua yang telah disampaikan melalui cara ini:



“Abu ‘Asim menceritakan bahawa Ad-Duhak berkata kepadanya, daripada Salamah bin Al-Akwa’...” Di dalam sanad ini hanya terdapat tiga orang perawi. Tahap keraguan di dalam riwayat ini adalah kurang berbanding dengan riwayat pertama. Riwayat kedua dikatakan ‘alee’ manakala riwayat kedua dikatakan ‘safil’. Riwayat yang kedua adalah salah satu dari ‘thulathiyyat’ Imam Bukhari(iaitu yang mempunyai sanad yang paling sedikit, iaitu tiga orang perawi) dalam saheh Bukhari. Di dalam Bukhari hanya terdapat 23 thulathiyyat; riwayat yang lain adalah lebih rendah tarafnya daripada 23 riwayat ini. Dengan menggunakan asas yang sama, bahawa riwayat-riwayat Bukhari yang mempunyai empat peringkat perawi di dalam sanadnya, akan menjadi ‘alee’ jika dibandingkan dengan riwayat yang mempunyai lima peringkat perawi di dalam sanadnya.



Bila Imam Abu Hanifah r.a. dan Imam Malik r.a. menukilkan mana-mana riwayat, kadangkala terdapat dua atau tiga orang perawi di dalam sanadnya. Terutama dalam riwayat Imam Abu Hanifah di mana ada riwayat yang hanya mempunyai seorang perawi iaitu sahabat r.a.. Kesemua riwayat oleh mereka ini akan menjadi ‘alee’ daripada Bukhari. Malahan, Riwayat Bukhari yang paling ‘alee’ (tinggi) pun adalah ‘safil’ (rendah) berbanding riwayat Abu Hanifah dan Imam Malik.



Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah meletakkan satu kaedah asas fiqah dan hadis yang penting. Peribadi agung Ummul Mu’minin r.a. telah membezakan dengan jelasnya di antara al-Quran dan as-Sunnah, dan beliau telah menjelaskan bahawa ‘zann’ iaitu sesuatu yang mempunyai keraguan tidak boleh mengatasi yang ‘mutlak’. Di dalam Islam, hanya ‘Kalam Allah’ iaitu al-Qur’an, yang dijamin ‘tepat dan sempurna ’ sementara hadith Nabi s.a.w adalah ‘zann’ (yang mempunyai keraguan) kerana ianya diriwayatkan oleh manusia dan ‘kekurangan’ adalah sifat semulajadinya. Tidak pernah wujud manusia yang tidak mempunyai kelemahan ini.



Hadis oleh Fatimah binti Qais adalah satu contoh lain, di mana beliau menyatakan bahawa seorang wanita yang diceraikan tidak akan sekali-kali akan mendapat rumah untuk tinggal, mahupun sebarang nafkah. Amirul Mu’minin Saidina Umar r.a. telah menolak ‘hadis’ ini sambil memberi peringatan bahawa kita tidak boleh mengingkari Kitab Allah hanya dengan berdasarkan kata-kata seseorang. Kami telah menghuraikan peristiwa ini di dalam buku kami yang terdahulu yang bertajuk ‘Usul-e-Fiqah’ dan di dalam sebuah buku baru yang berjudul ‘Isal-e-Sawab Qur’an ki Nazer mein’. Di sini kami hanya ingin menukilkan kata-kata yang diucapkan oleh Ummul Mu’minin r.a. berkenaan ‘hadis’ Fatimah binti Qais tersebut:



“ Tidak ada kebaikan bagi Fatimah menyebutkan hadis ini (‘Saheh Bukhari’, Jillid I, m/s 485 / Jilid II, m/s 803).



Satu lagi riwayat pula dinyatakan begini:



“Adapun beliau tidak mendapat apa-apa kebaikan dengan menyebutkannya.” (‘Saheh Bukhari’, Jilid II, m/s 802 / ‘Muslim’, Jilid I, m/s 485)



Qasim bin Muhammad berkata Ummul Mu’minin berkata kepada Fatimah binti Qais, “Tidakkkah kamu takut kepada Allah?” (Saheh Bukhari, Jilid I, m/s 803).



Jika kami ingin mengumpulkan riwayat-riwayat yang disanggah oleh Umul Mu’minin tentunya kami akan dapat menghasilkan sebuah buku. Tunggulah buku kami “Sirah Aisha” yang akan membincangkan perkara ini dengan terperinci.



(Nota: Allama Habibur Rahman Siddiqui Kandhalwi tidak dapat menyempurnakan bukunya, ‘Sirah ‘Aishah’ disebabkan oleh sakitnya yang panjang dan berterusan)



Kami memang mengakui bahawa Hisham adalah seorang perawi ‘thiqah”. Beliau adalah salah seorang perawi dalam “Saheh Bukhari”. Beliau adalah seorang yang boleh dipercayai, seolah-olah turun daripada langit di dalam bentuk yang suci. Namun kami katakan bahawa Hisham yang kami hormati ini telah terlupa angka “sepuluh” ketika daya ingatannya lemah. Dan, hakikatnya apa yang dinyatakan oleh Hisham adalah tidak benar. Ianya tidak benar kerana adalah tidak masuk akal Ummul Mu’minin menguasai bidang kesusateraan, ilmu salasilah, sejarah dan pidato semasa berumur sembilan tahun. Dan, jika ianya mungkin, bantulah kami sekurang-kurangnya menguasai Bahasa Inggeris supaya kami dapat membidas kembali tulisan-tulisan beracun seumpama ini di dalam bahasa ini.



Kami telah membaca buku ‘Sirah ‘Aishah’ karya Syed Sulaiman Nadwi. Beliau telah menulis secara ringkas tentang perkahwinan Aishah pada mukasurat 225 di dalam buku tersebut. Di situ, beliau juga telah menyatakan usia Aishah r.a.. adalah sembilan tahun semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.. Sudah tentu kami amat kesal dengan kenyataan ini dan kami mengambil masa lima puluh tahun untuk membetulkan fakta ini.

naik atas





Hujah Ke-21 – Keinginan Mendapatkan Anak Dan Naluri Keibuan Tidak Mungkin Timbul Dari Kanak-Kanak Bawah Umur



Adalah suatu naluri semulajadi seorang wanita dewasa yang telah berkahwin berkeinginan untuk mendapatkan anak. Ia adalah suatu perasaan semulajadi yang mana tiada seorang pun menafikannya. Dan perasaan ini, yang disebut sebagai ‘naluri keibuan’, tidak mungkin timbul di dalam jiwa seorang kanak-kanak perempuan kecil, sebagaimana seorang kanak-kanak lelaki di bawah umur tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang bapa.



Adalah suatu kebiasaan di Tanah Arab, bahawa bila sahaja seseorang menjadi bapa, beliau akan mengambil ‘kunniyah’(nama timangan) sempena nama anaknya yang dikasihi. ‘Kunniyah’ ini seringkali diambil daripada nama anak lelaki sulung, sebagaimana Abu Talib, namanya yang sebenar ialah Abd Manaf dan Talib adalah anak lelakinya. Abul Qasim adalah kunniyah Rasulullah s.a.w. sempena nama anak lelaki sulungnya yang bernama Qasim. Abul Hassan adalah kunniyah Saidina Ali r.a., yang diambil daripada nama anak lelaki sulungnya, Hassan r.a.



Dengan cara yang sama, apabila seseorang wanita telah mendapat anak setelah perkahwinan, beliau akan menggunakan kunniyah berdasarkan nama anaknya dan akan dikenali dengan nama timangan ini. Dengan berpandukan kepada kunniyah, orang akan mengetahui bahawa beliau adalah seorang ibu kepada anaknya. Contohnya seperti Ummu Habibah r.a., Ummu Salamah’ r.a., dan Ummu Sulaim r.a.



Kunniyah ini akan mengukuhkan lagi kedudukan seseorang di dalam masyarakatnya. Apabila beliau dipanggil dengan menggunakan kunniyah, akan timbul suatu perasaan bahawa beliau adalah seorang ayah kepada anaknya, dan dengan menjadi seorang ayah, tanggungjawab kebapaan dipikul olehnya. Dengan cara yang sama, apabila disebutkan seseorang wanita disebut ‘ibu kepada....’, maka wanita ini akan dapat merasai dirinya adalah seorang ibu, dan ini akan memuaskan naluri keibuannya.



Bahkan, setiap perempuan yang telah berkahwin akan mengimpikan untuk mendapat anak setelah beberapa ketika berkahwin. Malah, wanita yang tiada anak seringkali mengambil anak angkat daripada keluarga lain untuk mememuaskan naluri keibuannya bila anak angkat memanggilnya dengan panggilan ‘ibu’. Dan, keinginan seperti ini tidak mungkin timbul di hati seorang kanak-kanak perempuan yang masih mentah.



Aishah r.a. tidak mempunyai anak kandung, namun pada suatu hari di bawah tekanan naluri semulajadinya, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Kesemua isterimu yang lain telah mengambil kunniyah daripada nama anak lelaki mereka. Bagaimana saya boleh gunakan satu kunniyah?” Lalu Baginda s.a.w. menjawab, “Ambillah kunniyah daripada nama Abdullah, anak lelakimu.” (Abu Daud & Ibn Majah)



Abdullah adalah merujuk kepada Abdullah bin Zubair (anak saudara lelakinya). Jadi kunniyah bagi Ummul Mu’minin r.a. adalah Ummu Abdullah (r.a.). (Sunan Abu Daud m/s 679 & Ibn Majah (terjemahan Jilid II, m/s 416 dan Tabaqat, Jilid VIII, merujuk kepada “Perbincangan mengenai ‘Aishah.”)



Syed Sulaiman Nadwi menulis: Abdullah bermaksud Abdullah bin Zubair iaitu anak saudara Aishah r.a. dan anak lelaki kakaknya Asma’ r.a.. Beliau adalah anak lelaki Islam yang pertama selepas Hijrah. Aishah r.a. mengambilnya sebagai anak angkatnya dan menyayangi beliau dengan sepenuh hati. Abdullah r.a. juga mengasihi Aishah r.a. melebihi ibu kandungnya sendiri. Selain Abdullah, Aishah r.a. telah membesarkan ramai lagi kanak-kanak lain (Muwatta’ Kitab-uz-Zakat).



Masruq bin Al-Ajda’, Umarah binti ‘Aishah, ‘Aishah binti Talhah, ‘Amarah binti Abdur-Rahman (Ansariyah), Asma’ binti Abdur-Rahman bin Abu Bakar, Urwah bin Az-Zubair, Qasim bin Muhammad dan saudara lelakinya, dan Abdullah bin Yazid adalah mereka yang telah dibesarkan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. Beliau (‘Aishah) juga telah membesarkan anak-anak perempuan Muhammad bin Abu Bakar dan mengaturkan perkahwinan mereka. (Sirah Aishah, m/s 182)



Saidatina ‘Aishah r.a. telah mengambil anak saudaranya menjadi anak angkatnya. Dengan sebab ini, Saidatina Asma’ r.a. tidak mengambil kunniyah berdasarkan nama anak lelakinya itu. Dan juga, oleh kerana Ummul Mu’minin r.a. telah biasa memanggil Abdullah sebagai anaknya semenjak awal, maka Rasulullah s.a.w. mencadangkan kepadanya untuk mengambil kunniyah berdasarkan nama anak saudaranya itu. Dengan cara ini, naluri keibuannya, yang menjadi impian setiap wanita muda, akan dapat dipenuhi. Hal ini sendiri adalah satu hujah bahawa beliau telah dewasa pada ketika itu, dan Abdullah, sekiranya menurut riwayat Hisham, hanyalah lapan tahun lebih muda daripadanya. Dalam keadaan ini, Abdullah lebih sesuai dipanggil sebagai ‘adik’, tetapi tidak mungkin dipanggil sebagai ‘anak’. Peristiwa ini membuktikan bahawa Aishah r.a. adalah seorang wanita yang matang semasa perkahwinannya. Dan, beliau, sebagaimana wanita lain mempunyai naluri semulajadi untuk mempunyai anak. Itu adalah sebabnya mengapa beliau menganggap anak saudaranya sebagai anaknya, dan selaku seorang wanita yang tiada anak, beliau membesarkan ramai kanak-kanak perempuan untuk memenuhi naluri perasaan kasih dan keibuannya.





Hujah Ke-22- Aishah R.A. Sebagai Ibu Angkat Kepada Bashar R.A. Yang Berumur Tujuh Tahun Selepas Perang Uhud



Terdapat satu riwayat daripada Bashar bin ‘Aqrabah bahawa ayahnya telah mati syahid di dalam Peperangan Uhud, dan beliau sedang menangis apabila secara tiba-tiba Rasulullah s.a.w. datang kepadanya dan berkata: “Adakah kamu tidak suka jika saya menjadi ayah kamu dan ‘Aishah sebagai ibumu?”



Adakah ungkapan “.....Aishah sebagai ibumu.” sesuai diucapkan untuk seorang kanak-kanak perempuan berumur sepuluh tahun?



Bukankah ianya sesuatu yang mustahil untuk perkataan-perkataan ini diungkapkan oleh Rasulullah s.a.w, melainkan Ummul Mu’minin ‘Aishah pada ketika itu bukan kanak-kanak di bawah umur.



Bashar adalah seorang kanak-kanak yang berusia 6 atau 7 tahun. Dalam erti kata lain, seorang kanak-kanak perempuan yang berusia sepuluh tahun menjadi ibu angkat kepada seorang kanak-kanak lelaki berusia tujuh tahun!! Ia akan menjadi gurauan yang tidak masuk akal!.



Pada pandangan kami, umur Ummul Mu’minin r.a., sekurang-kurangnya adalah dua puluh satu tahun semasa berlakunya Perang Uhud.





Hujah Ke-23- Wujudkah Perkahwinan Gadis Bawah Umur Di Tanah Arab Dan Dalam Masyarakat Bertamadun?



Satu lagi persoalan timbul iaitu adakah perkahwinan gadis bawah umur menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat Arab, khususnya di zaman Rasulullah s.a.w.



Apabila kami meneliti sejarah Arab, kami tidak menemui sebarang contoh seumpama ini sebelum dan selepas kedatangan Islam. Bahkan, di zaman Rasulullah s.a.w., semua gadis berkahwin setelah mencapai usia dewasa. Malah, seorang ibu yang terhormat tidak sekali-kali akan bersetuju untuk mengahwinkan anak gadisnya yang baru baligh, kerana gadis itu masih lagi mentah untuk memahami tanggungjawab dalam perkahwinan. Contohnya, mungkin dia gagal menjalankan tanggungjawab bagaimana untuk membesarkan dan menjaga anaknya dengan baik. Dalam masyarakat yang bertamadun seoran gadis akan berkahwin bila cukup matang. Tahap kematangan biasanya dicapai bila seorang gadis berusia lapan belas tahun ke atas, sebagaimana kata-kata Imam Abu Hanifah bahawa umur baligh ialah lapan belas tahun. Dan, kami berpendapat gadis yang baligh (secara fizikal) pada usia 13-14 tahun, tidak akan matang di segi pemikiran sehingga berumur 18 tahun. Dalam erti kata lain, sifat keanak-anakannya tidak akan hilang semasa tempoh remaja.



Ini adalah sebabnya mengapa Rasulullah s.a.w. mengaturkan perkahwinan anak-anak gadisnya hanya setelah mereka mencapai usia matang. Oleh sebab peristiwa sebelum hijrah tidak direkodkan dengan lenngkap di dalam sejarah, maka kami tidak dapat pastikan berkenaan usia anak perempuan baginda yang telah berkahwin di Mekah. Akan tetapi, baginda s.a.w. telah mengaturkan perkahwinan dua orang anak gadisnya selepas Hijrah, dan kedua-duanya telah berkahwin di usia yang cukup matang.





PERKAHWINAN SAIDATINA FATIMAH R.A.



Upacara perkahwinan Saidaitina Fatimah r.a., menurut sebilangan ahli sejarah, telah berlangsung pada bulan Syawal tahun kedua Hijrah; dan menurut beberapa penulis yang lainnya ia berlangsung di bulan Muharam tahun ketiga Hijrah. Berapakah usianya yang sebenar pada waktu itu? Ulama hadis dan juga ahli sejarah bersetuju bahawa Saidatina Fatimah r.a. telah dilahirkan pada masa orang-orang kafir membina semula bangunan Ka’abah. Pada waktu itu umur Rasulullah s.a.w. adalah 35 tahun, dalam erti kata lain, Fatimah dilahirkan lima tahun sebelum Kerasulan. Dengan ini, pada masa berlangsungnya Hijrah ke Madinah, usia Saidatina Fatimah adalah lapan belas tahun dan pada waktu perkahwinannya, Fatimah berusia 21 tahun.



Hafiz Ibn Hajar menulis bahawa Saidatina Fatimah r.a. adalah lima tahun lebih tua daripada Saidatina ‘Aishah r.a.(Al-Asabah, Jilid IV, m/s 377)



Namun, di waktu yang lain, beliau menyokong kuat pendapat bahawa majlis perkahwinan Ummul Mu’minin r.a. berlangsung semasa berusia sembilan tahun. Sekarang, jika kita mempertimbangkan fakta bahawa ‘Aishah r.a. adalah lima tahun lebih muda daripada Fatimah r.a., dan Fatimah telah dilahirkan lima tahun sebelum Kerasulan, ini bermakna bahawa Ummul Mu’minin dilahirkan pada tahun baginda s.a.w. diangkat menjadi rasul. Dengan itu, usia Ummul Mu’minin r.a. menjadi lima belas tahun pada masa beliau mula hidup bersama Rasulullah s.a.w. Bagaimanakah ia boleh menjadi sembilan tahun?



Puak Syiah pula mendakwa bahawa Fatimah r.a. telah dilahirkan lima tahun selepas Kerasulan, dan oleh itu usianya semasa perkahwinan adalah 8 atau 9 tahun. Bahkan, berdasarkan alasan ini, pendapat fiqah mereka ialah: kanak-kanak perempuan mencapai sembilan tahun hendaklah dikahwinkan. Pada pandangan kami, puak Syiah sengaja mengadakan cerita tentang umur Ummul Mu’minin r.a. dalam usaha untuk menyembunyikan cerita yang direka oleh mereka sendiri. Dan, ahli Sunnah tanpa berfikir panjang, turut menyebarkan pemikiran mereka ini dengan menyebarkan riwayat seperti ini. Kesannya, apabila ahli Sunnah menerima riwayat yang Ummul Mu’minin berkahwin semasa berusia sembilan tahun orang Syiah akan mengejek sambil berkata : Tuan! Bagaimana seorang kanak-kanak perempuan yang hanya menghabiskan masanya dengan bermain anak patung, dapat memahami agama ini ?





PERKAHWINAN SAIDATINA UMMU KALTHUM R.A.



Selepas kematian Ruqayyah r.a., Ummu Kalthum r.a. telah berkahwin dengan Saidina Uthman ibn Affan r.a. di bulan Rabi’ul Awal tahun ketiga Hijrah. Sekiranya Ummu Kalthum adalah lebih muda daripada Fatimah r.a., maka umurnya sembilan belas tahun dan jika Ummu Kalthum lebih tua, sebagimana yang dikatakan oleh ahli sejarah secara umumnya, maka usianya (Ummu Kalthum) tidak akan kurang daripada 23 tahun, dan beliau adalah seorang perawan di usia itu.



Alangkah ajaibnya ! Rasulullah s.a.w. mengatur perkahwinan anak perempuannya pada masa mereka berumur melebihi 20 tahun, sebagaimana perkahwinan gadis di zaman moden. Namun apabila baginda s.a.w. sendiri berkahwin, beliau memilih seorang kanak-kanak perempuan yang berusia sembilan tahun. Apakah perasaan anak perempuan baginda s.a.w. untuk memanggil Aishah r.a. sebagai ibu?





PERKAHWINAN SAIDATINA ASMA’ R.A.



Asma’ r.a. ialah kakak ‘Aishah r.a., yang usianya sepuluh tahun lebih tua daripadanya (‘Aishah r.a.). Beliau telah berkahwin dengan Zubair r.a. beberapa bulan sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah. Beliau sedang mengandung pada waktu berlakunya Hijrah. Pada masa itu beliau berusia 27 tahun dan semasa perkahwinannya, beliau berusia 25 tahun. Ini bermakna bahawa Saidina Abu Bakar r.a. memelihara anak perempuan sulungnya (Asma’ r.a.) selama 26 tahun, dan anak perempuannya yang terkemudian (‘Aishah r.a.) adalah sangat membebankannya sehinggakan beliau (Abu Bakar r.a.) menguruskan perkahwinannya meskipun baru berusia sembilan tahun!



Kami perhatikan di zaman moden ini, rata-rata pengantin perempuan berumur lebih 18 tahun. Oleh itu, mengapakah kisah ini hanya dikhususkan kepada Ummul Mu’minin r.a.? Apakah muslihat yang ada di sebaliknya?



Alangkah baiknya sekiranya ada sesiapa yang mampu untuk mendedahkannya!



Kami yakin segala kekalutan ini berpunca dari sikap permusuhan puak Syiah terhadap Ummu Mu’minin Saidatina Aishah r.a.

Hujah Ke-24 – Kesepakatan (Ijmak) Umat Dalam Menolak Amalan Kahwin Bawah Umur



Riwayat Hisham yang keliru ini sentiasa bercanggah dengan amalan umat Islam. Sehingga hari ini, tiada siapapun yang beramal menurut riwayat ini, malah tiada seorang pun yang menawarkan anak perempuan yang berusia sembilan tahun untuk tujuan ini; dan, tiada seorang pun kanak-kanak di usia mentah begitu yang telah diterima untuk dijadikan sebagai isteri.



Kesimpulannya, riwayat ini hanya berlegar di atas lidah manusia. Dalam erti kata lain, riwayat ini tidak diterimapakai oleh sesiapa pun dari segi amalan.



Tetapi, kita bukanlah dari jenis orang yang suka membantah. Oleh itu kita mempercayai riwayat ini secara lisannya, tetapi kita (dan juga masyarakat Islam seluruh dunia) enggan mengamalkannya.





Perbahasan Tentang Usia Sebenar Khadijah R.A. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah S.A.W.



Dikatakan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. berumur 40 tahun ketika beliau berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Ia adalah suatu riwayat yang yang tidak berasas tetapi telah disebarkan sebegitu rupa dan digarap seolah-olah sebahagian daripada ugama. Ini adalah percubaan untuk membuktikan bahawa Rasulullah s.a.w. telah melalui zaman mudanya bersama-sama dengan seorang wanita tua. Dalam usia lanjut, beliau r.a telah melahirkan empat orang anak perempuan iaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalthum dan Fatimah r.a.; dan tiga orang anak lelaki yang dinamakan Qasim, Tayyab and Tahir. Menurut sesetengahnya pula, beliau r.a. telah melahirkan empat orang anak lelaki; ada seorang yang bernama Abdullah, sedangkan setengah yang lainnya pula menyatakan bahawa yang sebenarnya Abdullah telah dipanggil sebagai Tayyab dan Tahir.



Saidatina Khadijah r.a. telah berkahwin sebanyak dua kali sebelum berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Perkahwinan pertamanya adalah dengan Abu Halah Hind bin Banash bin Zararah. Daripadanya, beliau telah mendapat seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Nama anak lelakinya ialah Hind dan anak perempuannya bernama Halah. Setelah kematian Abu Halah, Khadijah r.a. berkahwin dengan Atiq bin ‘Aid Makhzumi. Daripadanya dia mendapat seorang anak perempuan yang juga bernama Hind. Inilah sebabnya mengapa Saidatina Khadijah r.a. mendapat kunniyah sebagai Ummu Hind. Anak lelaki Saidatina Khadijah, Hind, telah memeluk Islam. (Seerat-un-Nabi, Jilid II, m/s 402).



Di sini, timbul satu persoalan, iaitu Saidatina Khadijah r.a. telah melahirkan empat orang anak sahaja di usia mudanya, namun semasa usia tuanya beliau telah melahirkan tujuh atau lapan orang anak, yang mana ia agak bertentangan dengan logik akal. Sebabnya, menurut Sains Perubatan, seorang wanita menjadi tidak subur untuk melahirkan anak, biasanya apabila melewati usia 45 tahun. Bagaimana pula boleh dipercayai bahawa lapan orang anak telah dilahirkan setelah melepasi usia 40 tahun?



Pihak Orientalis dan musuh-musuh Islam telah memberi perhatian khusus terhadap riwayat ini, kerana peristiwa ini jelas bertentangan dengan akal. Dengan mendedahkan peristiwa seperti ini, mereka mengambil kesempatan untuk mencemuh Islam.



Namun begitu, ulama kita sebaliknya menganggap kejadian ini sebagai ‘satu mukjizat’ Rasulullah s.a.w. Tambahan lagi mereka menganggap inilah keistimewaan nabi s.a.w. kerana sanggup mengahwini wanita yang tua sedangkan baginda s.a.w. sendiri muda belia.



Di pihak yang lain golongan Syiah mendakwa adalah tidak mungkin melahirkan sebegitu ramai anak di usia tua. Oleh itu, Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kalthum tidak diiktiraf sebagai anak nabi s.a.w.



Golongan Syiah mengatakan bahawa umur Khadijah r.a. ialah 40 tahun semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Meskipun mereka amat mahir bermain dengan angka, mereka telah melakukan kesilapan bodoh bila mendakwa bahawa Fatimah r.a. dilahirkan lima tahun selepas kenabian. Dalam hal ini, Khadijah sudah berumur 60 tahun semasa melahirkan Fatimah r.a.. Dengan ini tidak mungkin Ruqayyah dan Kalthum adalah anak kepada Khadijah kerana mereka adalah lebih muda dari Fatimah.



Kita akan membuktikan bahawa empat orang anak perempuan ini adalah dilahirkan oleh Saidatina Khadijah r.a. dari Rasulullah s.a.w. Tetapi sebelum itu orang Syiah perlu membuktikan bahawa seorang wanita yang berusia 60 tahun boleh melahirkan anak. Dan apabila mereka membuktikannya, mereka mesti juga membuktikan bahawa Fatimah r.a. adalah anak kepada Khadijah r.a.



Sebenarnya terdapat perbezaan pendapat tentang usia sebenar Khadijah r.a bila berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Ada yang berkata umurnya 40 tahun. Ada yang berpendapat usianya 35 tahun. Yang lain pula mengatakan 30 tahun, dan sesetengah pula mengatakan 27 tahun, manakala ada pula yang menyatakan bahawa usianya 25 tahun. Ahli-ahli sejarah Syiah sependapat mengatakan umurnya 40 tahun, dan mereka menolak pendapat lain. Dan mereka riuh rendah menyebarkan pendapat ‘40 tahun’ ini seolah-olah pandangan lain tidak pernah wujud. Ulama kita dan ahli-ahli sejarah yang terkemudian juga terpengaruh dengan daayah ini dan menyangkakan bahawa pendapat golongan Syiah inilah yang ‘tepat’.



Hafiz Ibn Kathir menulis:



“Baihaqi telah memetik daripada Hakim iaitu apabila Rasulullah mengahwini Khadijah r.a., baginda s.a.w. adalah berumur dua puluh lima tahun dan Saidatina Khadijah r.a. berumur tiga puluh lima tahun, dan ada pendapat lain mengatakan usianya dua puluh lima tahun.” (al-Bidayah, Jilid II, m/s 295)



Dengan lain perkataan, Baihaqi dan Hakim menyatakan bahawa Saidatina Khadijah r.a. berusia tiga puluh lima tahun pada waktu itu. Bersama-sama dengan itu, mereka juga turut mengatakan bahawa ada pendapat bahawa beliau r.a. berusia dua puluh lima tahun.



Di tempat lain, Hafiz Ibn Kathir mengatakan usia Saidatina Khadijah r.a. pada masa kewafatannya, sebagaimana berikut: “Usia Saidatina Khadijah mencapai 65 tahun. Satu pendapat mengatakan beliau meninggal pada usia 50 tahun. Dan pendapat ini (iaitu 50 tahun) adalah yang benar.” (al-Bidayah wan Nihayah, Jilid II, m/s 294)



Ulama Hadis dan ahli sejarah bersetuju bahawa Saidatina Khadijah r.a. menjalani hidup sebagai isteri Rasulullah s.a.w. selama 25 tahun dan beliau r.a. meninggal dunia pada tahun ke-10 Kerasulan. Hafiz Ibn Kathir berkata; ‘pendapat yang benar adalah usianya mencecah 50 tahun’ telah membuktikan bahawa usia Saidatina Khadijah pada masa perkahwinannya ialah 25 tahun. Dan juga, Hafiz Ibn Kathir juga telah membuktikan bahawa ‘maklumat’ yang diterima pada hari ini (iaitu umur Khadijah r.a. 40 semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.) adalah salah dan tidak benar sama sekali..



Meskipun dengan fakta yang sebegini jelas, kita masih mempercayai (dan terperangkap) dalam berita yang lebih merupakan khabar angin semata-mata.



Apabila kami mengkaji ‘Al-Bidayah wan-Nihayah’ yang ditulis oleh Ibn Kathir, barulah kami menyedari akan kesilapan kami. Semoga Allah yang Maha Kuasa mengampuni kami, kerana kami adalah mangsa kepada suatu salah faham yang besar. Moga Allah yang Berkuasa mengurniakan kepada kita semua kefahaman akan Kebenaran.



Wallahua’lam



Aamin! Ya Rabbal Aalamin







BIBLIOGRAFI



Rujukan Akademik dan Buku Sumber



1. Bukhari, Muhammad Ismail Al-Bukhari: Sahih Bukhari.

2. Muslim, Muslim Bin Al-Hajjaj at-Taheeri: Sahih Muslim.

3. Sulaiman bin Ash’ath: Sunan Abi Daud.

4. An-Nasaie, Ahmad bin Shuaib An-Nasaie: Sunan Nasaie.

5. Tirmidhi, Mohammad bin Essa Tirmidhi: Jama’a Tirmidhi.

6. Ibn Majah, Mohammad bin Abdullah bin Yazid bin Majah: Sunan Ibn Majah.

7. Al-Darimi, Abu Abdur-Rahman Abdullah bin Abdur-Rahman Al-Darimi: Sunan Darimi.

8. Al-Hamidi, Abdullah bin Az-Zubair Al-Hamidi: Musnad Hamidi.

9. Hafiz Ibn Hajar: Tahzib-ul-Tahzib.

10. Aqueeli: Kitab-ul-Sanafa.

11. Hafiz Zahabi: Mizan-ul-‘Atedal.

12. Abdur-Rahman bin Abi Hatim Maruzi: Al-Jarah-wal-Ta’dil.

13. Hafiz Sakhawi: Fateh-ul-Ghaith.

14. Ibn Sa’ad: Tabaqat.

15. Waliuddin Al-Khatib: Al-Kamal fi Asma-ur-Rajal.

16. Hafiz Ibn Katheer: Al-Bidayah-wan-Nihayah.

17. Hafiz Ibn Hajar: Taqrib-ul-Tahzib.

18. Tabari, Muhammad bin Jareer Tabari: Tarikh Tabari.

19. Hafiz Zahabi: Siyar-ul-A’lam An-Nubula.

20. Ibn Hisham: As-Seerat.

21. Hafiz Ibn Katheer: As-Seerat-un-Nabawiyyah.

22. Hayat Syed-ul-Arab.

23. Abdur-Rauf Danapuri: As’hah-ul-Sa’yer.

24. Shibli: Seerat-un-Nabi.

25. Niaz Fatehpuri: Sahabiyyat.

26. Said Ahmad, Akberabadi Maulana: Seerat-us-Siddiq.

27. Imam Ahmad: Al-Masnad.

28. Sulaiman Nadvi, Syed: Seerah ‘Aishah.

29. Hafiz Ibn Hajar: Al-Asabah fi Ahwal-us-Sahabah.

30. Hakim Niaz Ahmad: ‘Ao‘mer ‘Aishah.

http://www.darulkautsar.net/article.php?page=1&ArticleID=562
muhammadrasullah wrote on Sep 12
assalam mulaikum warohmatuhlohi wabarakatuh....bismillah hirohman hirohim muhammad da rasul kontol
bombsai wrote on Sep 3
Mari gabung di ruang chatting ISLAM INDONESIA di http://www.meebo.com/ .Pererat persahabatan dan silaturrahmi + ukhuwah Islamiah.
munafikislam wrote on Aug 1
ashaduallah illah ha iloloh muhammad da rasul sinting
bombsai wrote on Jul 25
Belajar Bahasa Al-Quran Metoda "Belajar Aktif Lewat Intra/Internet"

Petunjuk: Geserlah atau letakkan kursor pada huruf arab yang ingin diketahui terjemahnya, maka akan muncul terjamahnya dalam bahasa Indonesia. Jika mouse diletakkan pada nomor ayat, maka akan muncul terjemah dari ayat tersebut. Kemudian jika ingin menampilkan terjemah dalam waktu lama caranya adalah geser-geserlah kursor pada kata/nomor ayat yang ingin ditampilkan tarjamahnya dalam waktu lama

Informasi: info-quran@bblm.go.id

http://www.dprd-diy.go.id/quran/
eviindriani wrote on Jun 26
www.gudangbelanja.com Grosir dan Retail Baju Bayi, Anak-Dewasa branded Sisa Eksport & Import, Mudah, Murah Berkualitas. Transaksi Online Otomatis 24 Jam/Hari & 7 hari/Minggu. Keterangannya lengkap, banyak model, bahannya halus dan lembut. Di jamin gak akan nyesel deh....! Mampir ya ...
bombsai wrote on Jun 20
SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG (serbuiff) di wordpress :

click : http://erzal.wordpress.com/
bombsai wrote on Apr 21
bombsai wrote on Apr 21
ceprotceprot wrote on Mar 26

PEMBERANGUSAN KEBEBASAN BERPIKIR DAN BERAGAMA ADALAH DAMPAK ATAS EKSISTENSI ISLAM....


SILAHKAN BACA INI :

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?f=85&t=31680&sid=796ce642122971e7f2bf3654c8970233

http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2046&Itemid=30


KEBEBASAN BERPIKIR


Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin
Wednesday, 17 December 2008


Kita membaca dan mendengar kalimat "kebebasan berpikir", yaitu ajakan untuk memiliki keyakinan yang bebas. Bagaimana komentar Anda tentang masalah ini?


Jawaban:


Komentar kami dalam masalah ini bahwa ORANG YANG MEYAKINI ADANYA KEBEBASAN BERPIKIR ATAU KEBEBASAN KEYAKINAN DAN DIA YAKIN TENTANG ADANYA KEBEBASAN BERAGAMA MAKA DIA TELAH KAFIR, karena setiap orang yang yakin bahwa seseorang boleh beragama selain agama Muhammad berarti dia kafir kepada Allah dan BERHAK DICELA, jika mau bertaubat dia diampuni dan jika tidak maka DIA WAJIB DIBUNUH.


Agama bukanlah pemikiran tetapi wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diturunkan kepada para Rasul-Nya untuk membimbing hamba-hamba-Nya. Sedangkan kalimat "kebebasan berfikir" yang maksudnya adalah KEBEBASAN BERAGAMA HARUS DIBUANG DARI KAMUS BUKU-BUKU ISLAM, karena itu dapat menyebabkan kepada makna yang rusak, sehingga akan muncul bahwa Islam adalah pemikiran, Nasrani Pemikiran dan Yahudi pemikiran. Dampaknya, akan muncul pemikiran bahwa agama Nasrani adalah pemikiran Isa dan syariat-syariatnya adalah pemikiran buatan manusia yang bisa diyakini oleh siapa saja yang mau. Yang jelas, agama langit (samawi) adalah agama yang berasal dari sisi Allah yang diyakini oleh manusia sebagai wahyu dari Allah yang dengannya manusia menyembah-Nya dan tidak boleh dikatakan sebagai pemikiran.


Kesimpulannya bahwa orang yang meyakini bahwa orang boleh beragama apa saja yang dikehendakinya, dan dia bebas memeluknya, BERARTI DIA TELAH KAFIR kepada Allah, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


"Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85).


Kemudian Allah berfirman, "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah agama Islam." (Al-Maidah: 19).

Maka tidak diperkenankan bagi seseorang untuk meyakini bahwa agama selain Islam boleh dipeluk, bahkan jika dia meyakini hal tersebut, para ahlul ilmi telah berterus terang bahwa dia kafir dengan kekafirannya yang dapat mengeluarkannya dari agama.


Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 208



BACA YG HURUF CAPITAL DENGAN CERMAT....INIKAH AGAMA DAMAI ITU...? USE YOUR BRAIN..!!!!
agamaislam wrote on Mar 25, edited on Mar 25
Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

IV. DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA

Perawakan dan sifat-sifat Muhammad - 75; Penduduk Mekah membangun Ka'bah - 77; Putusan Muhammad tentang Hajar Aswad - 78; Pemikir-pemikir Quraisy dan Paganisma - 80; Putera-puteri Muhammad - 81; Kematian putera-puterinya - 82; Perkawinan puteri-puterinya - 83; Kecenderungan Muhammad menyendiri - 85; Menjauhi dosa ke Gua Hira - 86; Mimpi Hakiki - 88; Wahyu pertama - 89.

Bagian 1, Bagian 2


BAGIAN KEEMPAT: DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (1/2)
Muhammad Husain Haekal

Perawakan dan sifat-sifat Muhammad - Penduduk Mekah
membangun Ka'bah - Putusan Muhammad tentang Hajar Aswad
- Pemikir-pemikir Quraisy dan paganisma - Putera-puteri
Muhammad - Kematian putera-puterinya - Perkawinan
putera-puterinya - Kecenderungan Muhammad menyendiri -
Menjauhi dosa ke Gua Hira'- Mimpi Hakiki - Wahyu
pertama.

DENGAN duapuluh ekor unta muda sebagai mas kawin Muhammad
melangsungkan perkawinannya itu dengan Khadijah. Ia pindah ke
rumah Khadijah dalam memulai hidup barunya itu, hidup
suami-isteri dan ibu-bapa, saling mencintai cinta sebagai
pemuda berumur duapuluh lima tahun. Ia tidak mengenal nafsu
muda yang tak terkendalikan, juga ia tidak mengenal cinta buta
yang dimulai seolah nyala api yang melonjak-lonjak untuk
kemudian padam kembali. Dari perkawinannya itu ia beroleh
beberapa orang anak, laki-laki dan perempuan. Kematian kedua
anaknya, al-Qasim dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib1 telah
menimbulkan rasa duka yang dalam sekali. Anak-anak yang masih
hidup semua perempuan. Bijaksana sekali ia terhadap
anak-anaknya dan sangat lemah-lembut. Merekapun sangat setia
dan hormat kepadanya.

Paras mukanya manis dan indah, Perawakannya sedang, tidak
terlampau tinggi, juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang
besar, berambut hitam sekali antara keriting dan lurus.
Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung
lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di
tepi-tepi putih matanya agak ke merah-merahan, tampak lebih
menarik dan kuat: pandangan matanya tajam, dengan bulu-mata
yang hitam-pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan
gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebar sekali, berleher
panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang
bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak
tangan dan kakinya yang tebal.

Bila berjalan badannya agak condong kedepan, melangkah
cepat-cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan
penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan,
membuat orang patuh kepadanya.

Dengan sifatnya yang demikian itu tidak heran bila Khadijah
cinta dan patuh kepadanya, dan tidak pula mengherankan bila
Muhammad dibebaskan mengurus hartanya dan dia sendiri yang
memegangnya seperti keadaannya semula dan membiarkannya
menggunakan waktu untuk berpikir dan berenung.

Muhammad yang telah mendapat kurnia Tuhan dalam perkawinannya
dengan Khadijah itu berada dalam kedudukan yang tinggi dan
harta yang cukup. Seluruh penduduk Mekah memandangnya dengan
rasa gembira dan hormat. Mereka melihat karunia Tuhan yang
diberikan kepadanya serta harapan akan membawa turunan yang
baik dengan Khadijah. Tetapi semua itu tidak mengurangi
pergaulannya dengan mereka. Dalam hidup hari-hari dengan
mereka partisipasinya tetap seperti sediakala. Bahkan ia lebih
dihormati lagi di tengah-tengah mereka itu. Sifatnya yang
sangat rendah hati lebih kentara lagi. Bila ada yang
mengajaknya bicara ia mendengarkan hati-hati sekali tanpa
menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan kepada yang
mengajaknya bicara, bahkan ia rnemutarkan seluruh badannya.
Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak ia mendengarkan. Bila
bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguhpun begitu iapun
tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda-gurau, tapi
yang dikatakannya itu selalu yang sebenarnya. Kadang ia
tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah
sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya
tampak sedikit berkeringat. Ini disebabkan ia menahan rasa
amarah dan tidak mau menampakkannya keluar. Semua itu terbawa
oleh kodratnya yang selalu lapang dada, berkemauan baik dan
menghargai orang lain. Bijaksana ia, murah hati dan mudah
bergaul. Tapi juga ia mempunyai tujuan pasti, berkemauan
keras, tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam tujuannya.
Sifat-sifat demikian ini berpadu dalam dirinya dan
meninggalkan pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang
bergaul dengan dia. Bagi orang yang melihatnya tiba-tiba,
sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang bergaul
dengan dia akan timbul rasa cinta kepadanya.

Alangkah besarnya pengaruh yang terjalin dalam hidup
kasih-sayang antara dia dengan Khadijah sebagai isteri yang
sungguh setia itu.

Pergaulan Muhammad dengan penduduk Mekah tidak terputus, juga
partisipasinya dalam kehidupan masyarakat hari-hari. Pada
waktu itu masyarakat sedang sibuk karena bencana banjir besar
yang turun dari gunung, pernah menimpa dan meretakkan
dinding-dinding Ka'bah yang memang sudah rapuk. Sebelum itupun
pihak Quraisy memang sudah memikirkannya. Tempat yang tidak
beratap itu menjadi sasaran pencuri mengambil barang-barang
berharga di dalamnya. Hanya saja Quraisy merasa takut; kalau
bangunannya diperkuat, pintunya ditinggikan dan diberi
beratap, dewa Ka'bah yang suci itu akan menurunkan bencana
kepada mereka. Sepanjang zaman Jahiliah keadaan mereka
diliputi oleh pelbagai macam legenda yang mengancam
barangsiapa yang berani mengadakan sesuatu perubahan. Dengan
demikian perbuatan itu dianggap tidak umum.

Tetapi sesudah mengalami bencana banjir tindakan demikian itu
adalah suatu keharusan, walaupun masih serba takut-takut dan
ragu-ragu. Suatu peristiwa kebetulan telah terjadi sebuah
kapal milik seorang pedagang Rumawi bernama Baqum2 yang datang
dari Mesir terhempas di laut dan pecah. Sebenarnya Baqum ini
seorang ahli bangunan yang mengetahui juga soal-soal
perdagangan. Sesudah Quraisy mengetahui hal ini, maka
berangkatlah al-Walid bin'l-Mughira dengan beberapa orang dari
Quraisy ke Jidah. Kapal itu dibelinya dari pemiliknya, yang
sekalian diajaknya berunding supaya sama-sama datang ke Mekah
guna membantu mereka membangun Ka'bah kembali. Baqum
menyetujui permintaan itu. Pada waktu itu di Mekah ada seorang
Kopti yang mempunyai keahlian sebagai tukang kayu. Persetujuan
tercapai bahwa diapun akan bekerja dengan mendapat bantuan
Baqum.

Sudut-sudut Ka'bah itu oleh Quraisy dibagi empat bagian tiap
kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun
kembali. Sebelum bertindak melakukan perombakan itu mereka
masih ragu-ragu, kuatir akan mendapat bencana. Kemudian
al-Walid bin'l-Mughira tampil ke depan dengan sedikit
takut-takut. Setelah ia berdoa kepada dewa-dewanya mulai ia
merombak bagian sudut selatan.3 Tinggal lagi orang
menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan Tuhan nanti terhadap
al-Walid. Tetapi setelah ternyata sampai pagi tak terjadi
apa-apa, merekapun ramai-ramai merombaknya dan memindahkan
batu-batu yang ada. Dan Muhammad ikut pula membawa batu itu.

Setelah mereka berusaha membongkar batu hijau yang terdapat di
situ dengan pacul tidak berhasil, dibiarkannya batu itu
sebagai fondasi bangunan. Dan gunung-gunung sekitar tempat itu
sekarang orang-orang Quraisy mulai mengangkuti batu-batu
granit berwarna biru, dan pembangunanpun segera dimulai.
Sesudah bangunan itu setinggi orang berdiri dan tiba saatnya
meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di
sudut timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy,
siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu
di tempatnya. Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga
hampir saja timbul perang saudara karenanya. Keluarga
Abd'd-Dar dan keluarga 'Adi bersepakat takkan membiarkan
kabilah yang manapun campur tangan dalam kehormatan yang besar
ini. Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga
Abd'd-Dar membawa sebuah baki berisi darah. Tangan mereka
dimasukkan ke dalam baki itu guna memperkuat sumpah mereka.
Karena itu lalu diberi nama La'aqat'd-Dam, yakni 'jilatan
darah.'

Abu Umayya bin'l-Mughira dari Banu Makhzum, adalah orang yang
tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi. Setelah
melihat keadaan serupa itu ia berkata kepada mereka:

"Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama
sekali memasuki pintu Shafa ini."

Tatkala mereka melihat Muhammad adalah orang pertama memasuki
tempat itu, mereka berseru: "Ini al-Amin; kami dapat menerima
keputusannya."

Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Iapun
mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa
berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu
katanya: "Kemarikan sehelai kain," katanya. Setelah kain
dibawakan dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu
diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya;
"Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini."

Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu
akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu dari kain
dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan
itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan.

Quraisy menyelesaikan bangunan Ka'bah sampai setinggi
delapanbelas hasta (± 11 meter), dan ditinggikan dari tanah
sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang
orang masuk. Di dalam itu mereka membuat enam batang tiang
dalam dua deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang
sebuah tangga naik sampai ke teras di atas lalu meletakkan
Hubal di dalam Ka'bah. Juga di tempat itu diletakkan
barang-barang berharga lainnya, yang sebelum dibangun dan
diberi beratap menjadi sasaran pencurian.

Mengenai umur Muhammad waktu membina Ka'bah dan memberikan
keputusannya tentang batu itu, masih terdapat perbedaan
pendapat. Ada yang mengatakan berumur duapuluh lima tahun. Ibn
Ishaq berpendapat umurnya tigapuluh lima tahun. Kedua pendapat
itu baik yang pertama atau yang kemudian, sama saja; tapi yang
jelas cepatnya Quraisy menerima ketentuan orang yang pertama
memasuki pintu Shafa, disusul dengan tindakannya mengambil
batu dan diletakkan di atas kain lalu mengambilnya dari kain
dan diletakkan di tempatnya dalam Ka'bah, menunjukkan betapa
tingginya kedudukannya dimata penduduk Mekah, betapa besarnya
penghargaan mereka kepadanya sebagai orang yang berjiwa besar.

Adanya pertentangan antar-kabilah, adanya persepakatan
La'aqat'd-Dam ('Jilatan Darah'), dan menyerahkan putusan
kepada barangsiapa mula-mula memasuki pintu Shafa, menunjukkan
bahwa kekuasaan di Mekah sebenarnya sudah jatuh.

Kekuasaan yang dulu ada pada Qushayy, Hasyim dan
Abd'l-Muttalib sekarang sudah tak ada lagi. Adanya
pertentangan kekuasaan antara keluarga Hasyim dan keluarga
Umayya sesudah matinya Abd'l-Muttalib besar sekali
pengaruhnya.

Dengan jatuhnya kekuasaan demikian itu sudah wajar sekali akan
membawa akibat buruk terhadap Mekah, kalau saja tidak karena
adanya rasa kudus dalam hati semua orang Arab terhadap Rumah
Purba itu. Dan jatuhnya kekuasaan itupun membawa akibat secara
wajar pula, yakni menambah adanya kemerdekaan berpikir dan
kebebasan menyatakan pendapat, dan menimbulkan keberanian
pihak Yahudi dan kaum Nasrani mencela orang-orang Arab yang
masih menyembah berhala itu - suatu hal yang tidak akan berani
mereka lakukan sewaktu masih ada kekuasaan. Hal ini berakhir
dengan hilangnya pemujaan berhala-berhala itu dalam hati
penduduk Mekah dan orang-orang Quraisy sendiri, meskipun
pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Mekah masih memperlihatkan
adanya pemujaan dan penyembahan demikian itu. Sikap mereka ini
sebenamya berasalan sekali; sebab mereka melihat, bahwa agama
yang berlaku itu adalah salah satu alat yang akan menjaga
ketertiban serta menghindarkan adanya kekacauan berpikir.
Dengan adanya penyembahan-penyembahan berhala dalam Ka'bah,
ini merupakan jaminan bagi Mekah sebagai pusat keagamaan dan
perdagangan. Dan memang demikianlah sebenarnya, dibalik
kedudukan ini Mekah dapat juga menikmati kemakmuran dan
hubungan dagangnya. Akan tetapi itu tidak akan mengubah
hilangnya pemujaan berhala-berhala dalam hati penduduk Mekah.

Ada beberapa keterangan yang menyebutkan, bahwa pada suatu
hari masyarakat Quraisy sedang berkumpul di Nakhla merayakan
berhala 'Uzza; empat orang di antara mereka diam-diam
meninggalkan upacara itu. Mereka itu ialah: Zaid b. 'Amr,
Usman bin'l-Huwairith, 'Ubaidullah b. Jahsy dan Waraqa b.
Naufal.

Mereka satu sama lain berkata: "Ketahuilah bahwa masyarakatmu
ini tidak punya tujuan; mereka dalam kesesatan. Apa artinya
kita mengelilingi batu itu: memdengar tidak, melihat tidak,
merugikan tidak, menguntungkanpun juga tidak. Hanya darah
korban yang mengalir di atas batu itu. Saudara-saudara,
marilah kita mencari agama lain, bukan ini."

Dari antara mereka itu kemudian Waraqa menganut agama Nasrani.
Konon katanya dia yang menyalin Kitab Injil ke dalam bahasa
Arab. 'Ubaidullah b. Jahsy masih tetap kabur pendiriannya.
Kemudian masuk Islam dan ikut hijrah ke Abisinia. Di sana ia
pindah menganut agama Nasrani sampai matinya. Tetapi isterinya
- Umm Habiba bint Abi Sufyan - tetap dalam Islam, sampai
kemudian ia menjadi salah seorang isteri Nabi dan
Umm'l-Mu'minin.

Zaid b. 'Amr malah pergi meninggalkan isteri dan al-Khattab
pamannya. Ia menjelajahi Syam dan Irak, kemudian kembali lagi.
Tetapi dia tidak mau menganut salah satu agama, baik Yahudi
atau Nasrani. Juga dia meninggalkan agama masyarakatnya dan
menjauhi berhala. Dialah yang berkata, sambil bersandar ke
dinding Ka'bah: "Ya Allah, kalau aku mengetahui, dengan cara
bagaimana yang lebih Kausukai aku menyembahMu, tentu akan
kulakukan. Tetapi aku tidak me ngetahuinya."

Usman bin'l-Huwairith, yang masih berkerabat dengan Khadijah,
pergi ke Rumawi Timur dan memeluk agama Nasrani. Ia mendapat
kedudukan yang baik pada Kaisar Rumawi itu. Disebutkan juga,
bahwa ia mengharapkan Mekah akan berada di bawah kekuasaan
Rumawi dan dia berambisi ingin menjadi Gubernurnya. Tetapi
penduduk Mekah mengusirnya. Ia pergi minta perlindungan Banu
Ghassan di Syam. Ia bermaksud memotong perdagangan ke Mekah.
Tetapi hadiah-hadiah penduduk Mekah sampai juga kepada Banu
Ghassan. Akhirnya ia mati di tempat itu karena diracun.

Selama bertahun-tahun Muhammad tetap bersama-sama penduduk
Mekah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia menemukan
dalam diri Khadijah teladan wanita terbaik; wanita yang subur
dan penuh kasih, menyerahkan seluruh dirinya kepadanya, dan
telah melahirkan anak-anak seperti: al-Qasim dan Abdullah yang
dijuluki at-Tahir dan at-Tayyib, serta puteri-puteri seperti
Zainab, Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatimah. Tentang al-Qasim dan
Abdullah tidak banyak yang diketahui, kecuali disebutkan bahwa
mereka mati kecil pada zaman Jahiliah dan tak ada meninggalkan
sesuatu yang patut dicatat. Tetapi yang pasti kematian itu
meninggalkan bekas yang dalam pada orangtua mereka. Demikian
juga pada diri Khadijah terasa sangat memedihkan hatinya.

Pada tiap kematian itu dalam zaman Jahiliah tentu Khadijah
pergi menghadap sang berhala menanyakannya: kenapa berhalanya
itu tidak memberikan kasih-sayangnya, kenapa berhala itu tidak
melimpahkan rasa kasihan, sehingga dia mendapat kemalangan,
ditimpa kesedihan berulang-ulang!? Perasaan sedih karena
kematian anak demikian sudah tentu dirasakan juga oleh
suaminya. Rasa sedih ini selalu melecut hatinya, yang hidup
terbayang pada istennya, terlihat setiap ia pulang ke rumah
duduk-duduk di sampingnya

Tidak begitu sulit bagi kita akan menduga betapa dalamnya rasa
sedih demikian itu, pada suatu zaman yang membenarkan
anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan
laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan
lebih lagi dan itu. Cukuplah jadi contoh betapa besarnya
kesedihan itu, Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan
tersebut, sehingga ketika Zaid b. Haritha didatangkan
dimintanya kepada Khadijah supaya dibelinya kemudian
dimerdekakannya. Waktu itu orang menyebutnya Zaid bin
Muhammad. Keadaan ini tetap demikian hingga akhirnya ia
menjadi pengikut dan sahabatnya yang terpilih. Juga Muhammad
merasa sedih sekali ketika kemudian anaknya, Ibrahim meninggal
pula. Kesedihan demikian ini timbul juga sesudah Islam
mengharamkan menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan
sesudah menentukan bahwa sorga berada di bawah telapak kaki
ibu.

Sudah tentu malapetaka yang menimpa Muhammad dengan kematian
kedua anaknya berpengaruh juga dalam kehidupan dan
pemikirannya. Sudah tentu pula pikiran dan perhatiannya
tertuju pada kemalangan yang datang satu demi satu itu
menimpa, yang oleh Khadijah dilakukan dengan membawakan
sesajen buat berhala-berhala dalam Ka'bah, menyembelih hewan
buat Hubal, Lat, 'Uzza dan Manat, ketiga yang terakhir.4

Ia ingn menebus bencana kesedihan yang menimpanya. Akan
tetapi, semua kurban-kurban dan penyembelihan itu tidak
berguna sama sekali.

Terhadap anak-anaknya yang perempuan juga Muhammad memberikan
perhatian, dengan mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya
memenuhi syarat (kufu'). Zainab yang sulung dikawinkan dengan
Abu'l-'Ash bin'r-Rabi' b.'Abd Syams - ibunya masih bersaudara
dengan Khadijah - seorang pemuda yang dihargai masyarakat
karena kejujuran dan suksesnya dalam dunia perdagangan.
Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah
datangnya Islam - ketika Zainab akan hijrah dan Mekah ke
Medinah - mereka terpisah, seperti yang akan kita lihat lebih
terperinci nanti. Ruqayya dan Umm Kulthum dikawinkan dengan
'Utba dan 'Utaiba anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri
ini sesudah Islam terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab
menyuruh kedua anaknya itu menceraikan isteri mereka, yang
kemudian berturut-turut menjadi isteri Usman.5

Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali
baru sesudah datangnya Islam.

(bersambung ke bagian 2/2)
====================================================

BAGIAN KEEMPAT: DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (2/2)
Muhammad Husain Haekal

Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu ternyata tenteram
adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu
itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah,
yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah-bunda yang
bahagia dan rela. Oleh karena itu wajar sekali apabila
Muhammad membiarkan dirinya berjalan sesuai dengan bawaannya,
bawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan
masyarakatnya tentang berhala-berhala, serta apa pula yang
dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang diri mereka
itu. Ia berpikir dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya
dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa
yang kuat dan berbakat ini, jiwa yang sudah mempunyai
persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat
manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang
hakiki, jiwa demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat
manusia yang sudah hanyut ke dalam lembah kesesatan. Sudah
seharusnya ia mencari petunjuk dalam alam semesta ini,
sehingga Tuhan nanti menentukannya sebagai orang yang akan
menerima risalahNya. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan
rohani yang ada padanya, ia tidak ingin menjadikan dirinya
sebangsa dukun atau ingin menempatkan diri sebagai ahli pikir
seperti , dilakukan oleh Waraqa b. Naufal dan sebangsanya.
Yang dicarinya hanyalah kebenaran semata. Pikirannya penuh
untuk itu, banyak sekali ia bermenung. Pikiran dan renungan
yang berkecamuk dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan
kepada orang lain.

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa
golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun
menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan
mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan
berdoa, mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan.
Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan
tahannuf dan tahannuth.6

Di tempat ini rupanya Muhammad mendapat tempat yang paling
baik guna mendalami pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam
dirinya. Juga di tempat ini ia mendapatkan ketenangan dalam
dinnya serta obat penawar hasrat hati yang ingin menyendiri,
ingin mencari jalan memenuhi kerinduannya yang selalu makin
besar, ingin mencapai ma'rifat serta mengetahui rahasia alam
semesta.

Di puncak Gunung Hira, - sejauh dua farsakh7 sebelah utara
Mekah -terletak sebuah gua yang baik sekali buat tempat
menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun
ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan
bekal sedikit yang dibawanya. Ia tekun dalam renungan dan
ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan
manusia. Ia mencari Kebenaran, dan hanya kebenaran semata.

Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu,
sehingga lupa ia akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang
ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam
kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran. Di
situ ia mengungkapkan dalam kesadaran batinnya segala yang
disadarinya. Tambah tidak suka lagi ia akan segala prasangka
yang pernah dikejar-kejar orang.

Ia tidak berharap kebenaran yang dicarinya itu akan terdapat
dalam kisah-kisah lama atau dalam tulisan-tulisan para
pendeta, melainkan dalam alam sekitarnya: dalam luasan langit
dan bintang-bintang, dalam bulan dan matahari, dalam padang
pasir di kala panas membakar di bawah sinar matahari yang
berkilauan. Atau di kala langit yang jernih dan indah,
bermandikan cahaya bulan dan bintang yang sedap dan lembut,
atau dalam laut dan deburan ombak, dan dalam segala yang ada
di balik itu, yang ada hubungannya dengan wujud ini, serta
diliputi seluruh kesatuan wujud. Dalam alam itulah ia mencari
Hakekat Tertinggi. Dalam usaha mencapai itu, pada saat-saat ia
menyendiri demikian jiwanya membubung tinggi akan mencapai
hubungan dengan alam semesta ini, menembusi tabir yang
menyimpan semua rahasia. Ia tidak memerlukan permenungan yang
panjang guna mengetahui bahwa apa yang oleh masyarakatnya
dipraktekkan dalam soal-soal hidup dan apa yang disajikan
sebagai kurban-kurban untuk tuhan-tuhan mereka itu, tidak
membawa kebenaran samasekali. Berhala-berhala yang tidak
berguna, tidak menciptakan dan tidak pula mendatangkan rejeki,
tak dapat memberi perlindungan kepada siapapun yang ditimpa
bahaya. Hubal, Lat dan 'Uzza, dan semua patung-patung dan
berhala-berhala yang terpancang di dalam dan di sekitar
Ka'bah, tak pernah menciptakan, sekalipun seekor lalat, atau
akan mendatangkan suatu kebaikan bagi Mekah.

Tetapi! Ah, di mana gerangan kebenaran itu! Gerangan di mana
kebenaran dalam alam semesta yang luas ini, luas dengan
buminya, dengan lapisan-lapisan langit dan bintang-bintangnya?
Adakah barangkali dalam bintang yang berkelip-kelip, yang
memancarkan cahaya dan kehangatan kepada manusia, dari sana
pula hujan diturunkan, sehingga karenanya manusia dan semua
makhluk yang ada di muka bumi ini hidup dari air, dari cahaya
dan kehangatan udara? Tidak! Bintang-bintang itu tidak lain
adalah benda-benda langit seperti bumi ini juga. Atau
barangkali di balik benda-benda itu terdapat eter yang tak
terbatas, tak berkesudahan?

Tetapi apa eter itu? Apa hidup yamg kita alami sekarang, dan
besok akan berkesudahan? Apa asalnya, dan apa sumbernya?
Kebetulan sajakah bumi ini dijadikan dan dijadikan pula kita
di dalamnya? Tetapi, baik bumi atau hidup ini sudah mempunyai
ketentuan yang pasti yang tak berubah-ubah, dan tidak mungkin
bila dasarnya hanya kebetulan saja. Apa yang dialami manusia,
kebaikan atau keburukan, datang atas kehendak manusia sendiri,
ataukah itu sudah bawaannya sendiri pula sehingga tak kuasa ia
memilih yang lain?

Masalah-masalah kejiwaan dan kerohanian serupa itu, itu juga
yang dipikirkan Muhammad selama ia mengasingkan diri dan
bertekun dalam Gua Hira'. Ia ingin melihat Kebenaran itu dan
melihat hidup itu seluruhnya. Pemikirannya itu memenuhi
jiwanya, memenuhi jantungnya, pribadinya dan seluruh wujudnya.
Siang dan malam hal ini menderanya terus menerus. Bilamana
bulan Ramadan sudah berlalu dan ia kembali kepada Khadijah,
pengaruh pikiran yang masih membekas padanya membuat Khadijah
menanyakannya selalu, karena diapun ingin lega hatinya bila
sudah diketahuinya ia dalam sehat dan afiat.

Dalam melakukan ibadat selama dalam tahannuth itu adakah
Muhammad menganut sesuatu syariat tertentu? Dalam hal ini
ulama-ulama berlainan pendapat. Dalam Tarikh-nya Ibn Kathir
menceritakan sedikit tentang pendapat-pendapat mereka mengenai
syariat yang digunakannya melakukan ibadat itu: Ada yang
mengatakan menurut syariat Nuh, ada yang mengatakan menurut
Ibrahim, yang lain berkata menurut syariat Musa, ada yang
mengatakan menurut Isa dan ada pula yang mengatakan, yang
lebih dapat dipastikan, bahwa ia menganut sesuatu syariat dan
diamalkannya. Barangkali pendapat yang terakhir ini lebih
tepat daripada yang sebelumnya. Ini adalah sesuai dengan dasar
renungan dan pemikiran yang menjadi kedambaan Muhammad.

Tahun telah berganti tahun dan kini telah tiba pula bulan
Ramadan. Ia pergi ke Hira', ia kembali bermenung, sedikit demi
sedikit ia bertambah matang, jiwanyapun semakin penuh. Sesudah
beberapa tahun jiwa yang terbawa oleh Kebenaran Tertinggi itu
dalam tidurnya bertemu dengan mimpi hakiki yang memancarkan
cahaya kebenaran yang selama ini dicarinya Bersamaan dengan
itu pula dilihatnya hidup yang sia-sia, hidup tipu-daya dengan
segala macam kemewahan yang tiada berguna.

Ketika itulah ia percaya bahwa masyarakatnya telah sesat dari
jalan yang benar, dan hidup kerohanian mereka telah rusak
karena tunduk kepada khayal berhala-berhala serta
kepercayaan-kepercayaan semacamnya yang tidak kurang pula
sesatnya. Semua yang sudah pernah disebutkan oleh kaum Yahudi
dan kaum Nasrani tak dapat menolong mereka dari kesesatan itu.
Apa yang disebutkan mereka itu masing masing memang benar;
tapi masih mengandung bermacam-macam takhayul dan pelbagai
macam cara paganisma, yang tidak mungkin sejalan dengan
kebenaran sejati, kebenaran mutlak yang sederhana, tidak
mengenal segala macam spekulasi perdebatan kosong, yang
menjadi pusat perhatian kedua golongan Ahli Kitab itu. Dan
Kebenaran itu ialah Allah, Khalik seluruh alam, tak ada tuhan
selain Dia. Kebenaran itu ialah Allah Pemelihara semesta alam.
Dialah Maha Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu ialah bahwa
manusia dinilai berdasarkan perbuatannya. "Barangsiapa
mengerjakan kebaikan seberat atompun akan dilihatNya. Dan
barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat atompun akan
dilihatNya pula." (Qur'an, 99:7-8) Dan bahwa surga itu benar
adanya dan nerakapun benar adanya. Mereka yang menyembah tuhan
selain Allah mereka itulah menghuni neraka, tempat tinggal dan
kediaman yang paling durhaka.

Muhammad sudah menjelang usia empatpuluh tahun. Pergi ia ke
Hira' melakukan tahannuth. Jiwanya sudah penuh iman atas
segala apa yang telah dilihatnya dalam mimpi hakiki itu. Ia
telah membebaskan diri dari segala kebatilan. Tuhan telah
mendidiknya, dan didikannya baik sekali. Dengan sepenuh kalbu
ia menghadapkan diri ke jalan lurus, kepada Kebenaran yang
Abadi. Ia telah menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh
jiwanya agar dapat memberikan hidayah dan bimbingan kepada
masyarakatnya yang sedang hanyut dalam lembah kesesatan.

Dalam hasratnya menghadapkan diri itu ia bangun tengah malam,
kalbu dan kesadarannya dinyalakan. Lama sekali ia berpuasa,
dengan begitu renungannya dihidupkan. Kemudian ia turun dari
gua itu, melangkah ke jalan-jalan di sahara. Lalu ia kembali
ke tempatnya berkhalwat, hendak menguji apa gerangan yang
berkecamuk dalam perasaannya itu, apa gerangan yang terlihat
dalam mimpi itu? Hal serupa itu berjalan selama enam bulan,
sampai-sampai ia merasa kuatir akan membawa akibat lain
terhadap dirinya. Oleh karena itu ia menyatakan rasa
kekuatirannya itu kepada Khadijah dan menceritakan apa yang
telah dilihatnya. Ia kuatir kalau-kalau itu adalah gangguan
jin.

Tetapi isteri yang setia itu dapat menenteramkan hatinya.
dikatakannya bahwa dia adalah al-Amin, tidak mungkin jin akan
mendekatinya, sekalipun memang tidak terlintas dalam pikiran
isteri atau dalam pikiran suami itu, bahwa Allah telah
mempersiapkan pilihanNya itu dengan memberikan latihan rohani
sedemikian rupa guna menghadapi saat yang dahsyat, berita yang
dahsyat, yaitu saat datangnya wahyu pertama. Dengan itu ia
dipersiapkan untuk membawakan pesan dan risalah yang besar.

Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, ketika
itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata
kepadanya: "Bacalah!" Dengan terkejut Muhammad menjawab: "Saya
tak dapat membaca". Ia merasa seolah malaikat itu
mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi seraya katanya lagi:
"Bacalah!" Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad
menjawab: "Apa yang akan saya baca." Seterusnya malaikat itu
berkata: "Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan.
Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu
Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada
manusia apa yang belum diketahuinya ..." (Qur'an 96:1-5)

Lalu ia mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah
kata-kata itu terpateri dalam kalbunya.8

Tetapi kemudian ia terbangun ketakutan, sambil bertanya-tanya
kepada dirinya: Gerangan apakah yang dilihatnya?! Ataukah
kesurupan yang ditakutinya itu kini telah menimpanya?! Ia
menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat apa-apa. Ia
diam sebentar, gemetar ketakutan. Kuatir ia akan apa yang
terjadi dalam gua itu. Ia lari dari tempat itu. Semuanya serba
membingungkan. Tak dapat ia menafsirkan apa yang telah
dilihatnya itu.

Cepat-cepat ia pergi menyusuri celah-celah gunung, sambil
bertanya-tanya dalam hatinya: siapa gerangan yang menyuruhnya
membaca itu?! Yang pernah dilihatnya sampai saat itu sementara
dia dalam tahannuth, ialah mimpi hakiki yang memancar dari
sela-sela renungannya, memenuhi dadanya, membuat jalan yang di
hadapannya jadi terang-benderang, menunjukkan kepadanya, di
mana kebenaran itu. Tirai gelap yang selama itu menjerumuskan
masyarakat Quraisy ke dalam lembah paganisma dan penyembahan
berhala, jadi terbuka.

Sinar terang-benderang yang memancar di hadapannya dan
kebenaran yang telah menunjukkan jalan kepadanya itu, ialah
Yang Tunggal Maha Esa. Tetapi siapakah yang telah memberi
peringatan tentang itu, dan bahwa Dia yang menicptakan manusia
dan bahwa Dia Yang Maha Pemurah, Yang mengajarkan kepada
manusia dengan pena, mengajarkan apa yang belum diketahuinya?

Ia memasuki pegunungan itu masih dalam ketakutan, masih
bertanya-tanya. Tiba-tiba ia mendengar ada suara memanggilnya.
Dahsyat sekali terasa. Ia melihat ke permukaan langit.
Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam bentuk manusia.
Dialah yang memanggilnya. Ia makin ketakutan sehingga tertegun
ia di tempatnya. Ia memalingkan muka dari yang dilihatnya itu.
Tetapi dia masih juga melihatnya di seluruh ufuk langit.
Sebentar melangkah maju ia, sebentar mundur, tapi rupa
malaikat yang sangat indah itu tidak juga lalu dari depannya.
Seketika lamanya ia dalam keadaan demikian. Dalam pada itu
Khadijah telah mengutus orang mencarinya ke dalam gua tapi
tidak menjumpainya.

Setelah rupa malaikat itu menghilang Muhammad pulang sudah
berisi wahyu yang disampaikan kepadanya. Jantungnya berdenyut,
hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya Khadijah sambil
ia berkata: "Selimuti aku!" Ia segera diselimuti. Tubuhnya
menggigil seperti dalam demam. Setelah rasa ketakutan itu
berangsur reda dipandangnya isterinya dengan pandangan mata
ingin mendapat kekuatan.

"Khadijah, kenapa aku?" katanya. Kemudian diceritakannya apa
yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa kekuatirannya
akan teperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti juru
nujum saja.

Seperti juga ketika dalam suasana tahannuth dan dalam suasana
ketakutannya akan kesurupan Khadijah yang penuh rasa
kasih-sayang, adalah tempat ia melimpahkan rasa damai dan
tenteram kedalam hati yang besar itu, hati yang sedang dalam
kekuatiran dan dalam gelisah. Ia tidak memperlihatkan rasa
kuatir atau rasa curiga. Bahkan dilihatnya ia dengan pandangan
penuh hormat, seraya berkata:

"O putera pamanku.9 Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi
Dia Yang memegang hidup Khadijah,10 aku berharap kiranya
engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah
takkan mencemoohkan kau; sebab engkaulah yang mempererat tali
kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul
beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang
dalam kesulitan atas jalan yang benar."

Muhammad sudah merasa tenang kembali. Dipandangnya Khadijah
dengan mata penuh terimakasih dan rasa kasih. Sekujur badannya
sekarang terasa sangat letih dan perlu sekali ia tidur. Ia pun
tidur, tidur untuk kemudian bangun kembali membawa suatu
kehidupan rohani yang kuat, yang luarbiasa kuatnya. Suatu
kellidupan yang sungguh dahsyat dan mempesonakan. Tetapi
kehidupan yang penuh pengorbanan, yang tulus-ikhlas semata
untuk Allah, untuk kebenaran dan untuk perikemanusiaan. Itulah
Risalah Tuhan yang akan diteruskan dan disampaikan kepada umat
manusia dengan cara yang lebih baik, sehingga sempurnalah
cahaya Allah, sekalipun oleh orang-orang kafir tidak disukai.

Catatan kaki:

1 Berdasarkan pada sebagian besar ahli genekologi,
bahwa putera-putera Nabi s.a.w. dari Khadijah dua
orang: al-Qasim dan Abdullah, yang diberi julukan
at-Tahir dan at-Tayyib. Ada juga yang mengatakan tiga,
ada pula yang mengatakan empat orang.

2 Mungkin nama ini sudah diarabkan (A)

3 Bangunan itu terdiri dari empat sudut dikenal dengan
nama-nama sudut utara, ar-rukn'l-iraqi (Irak), sudut
selatan, ar-rukn'l-yamani, sudut barat, ar-rukn'l-syami
dan sudut timur, ar-rukn'l-aswad (A)

4 Hubal, Lat, 'Uzza dan Manat adalah berhala-berhala
sembahan Arab pagan. Konon kabarnya Hubal berhala
terbesar yang tinggal dalam Ka'bah, dibuat dari batu
akik dalam bentuk manusia (lihat halaman 21-22).
Keterangan tentang tuhan-tuhan wanita Lat. 'Uzza dan
Manat berbeda-beda mengenai bentuknya. Katanya Lat
dalam bentuk manusia juga, 'Uzza berhala kaum Thaqif.
'Uzza pada mulanya adalah pohon suci, terletak di
antara Mekah dengan Ta'if. Manat merupakan batu putih,
berhala kaum Hudhail dan Khuza'a. Ketiga-tiganya itu
berbentuk wanita. (A)

5 Usman b. 'Affan, Khalifah ketiga. Setelah Ruqayya
diceraikan oleh 'Utba diambil isteri oleh Usman b.
'Affan. Setelah Umm Kulthum dewasa kawin dengan
'Utaiba, lalu diceraikan pula. Sesudah dalam tahun ke-2
H. Ruqayya wafat, Usman kawin dcngan Umm Kulthum. Ia
meninggal dalam tahun ke-9 H. di Medinah (A).

6 Tahannuf atau tahannafa, mungkin asal katanya seakar
dengan hanif, yang berarti 'cenderung kepada kebenaran'
'meninggalkan berhala dan beribadat kepada Allah' (LA)
atau sebaliknya dari perbuatan syirik. (Bandingkan
Qur'an, 2: 135; 10: 105). Tahannuth atau tahannatha,
beribadat dan menjauhi dosa; mendekatkan diri kepada
Tuhan' (N). 'Beribadat dan menjauhi berhala, seperti
tahannatha (LA). Dalam terjemahan selanjutnya kedua
kata ini tidak diterjemahkan (A).

7 Bahasa Persia, parsang, ukuran panjang dahulu kala,
kira-kira 3.5 mil atau hampir 6 km. (A).

8 Demikian buku-buku sejarah yang mula-mula
menceritakan. Ibn Ishaq juga ke sana dasarnya. Demikian
juga yang datang kemudian banyak yang menceritakan
begitu. Hanya saja sebagian mereka berpendapat bahwa
permulaan wahyu itu datang ia dalam keadaan jaga dan di
waktu siang, dengan menyebutkan sebuah keterangan
melalui Jibril yang menenteramkan hati Muhammad ketika
dilihatnya dalam ketakutan. Ibn Kathir dalam Tarikh-nya
menyebutkan sumber yang dibawa oleh al-Hafiz Abu Na'im
al-Ashbahani dalam bukunya Dala'il'n-Nubawa dari
'Alqama bin Qais, bahwa "Yang mula-mula didatangkan
kepada para nabi itu mereka dalam keadaan tidur (dengan
maksud) supaya hati mereka tenteram. Sesudah itu
kemudian wahyu turun. Dan ditambahkan: "Ini yang
dikatakan 'Alqama ibn Qais sendiri, suatu keterangan
yang baik, diperkuat oleh yang datang sebelum dan
sesudahnya."

9 Suatu kebiasaan orang Arab memanggil orang yang
dianggap seturunan. Muhammad dan Khadijah dari nenek
moyang yang sama, yakni Qushayy (A).

10 Suatu pernyataan sumpah yang biasa diucapkan pada
masa itu, maksudnya "Demi Allah" (A)

---------------------------------------------
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1
agamaislam wrote on Mar 25
Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal




BAGIAN KEEMPAT: DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (1/2)
Muhammad Husain Haekal

Perawakan dan sifat-sifat Muhammad - Penduduk Mekah
membangun Ka'bah - Putusan Muhammad tentang Hajar Aswad
- Pemikir-pemikir Quraisy dan paganisma - Putera-puteri
Muhammad - Kematian putera-puterinya - Perkawinan
putera-puterinya - Kecenderungan Muhammad menyendiri -
Menjauhi dosa ke Gua Hira'- Mimpi Hakiki - Wahyu
pertama.

DENGAN duapuluh ekor unta muda sebagai mas kawin Muhammad
melangsungkan perkawinannya itu dengan Khadijah. Ia pindah ke
rumah Khadijah dalam memulai hidup barunya itu, hidup
suami-isteri dan ibu-bapa, saling mencintai cinta sebagai
pemuda berumur duapuluh lima tahun. Ia tidak mengenal nafsu
muda yang tak terkendalikan, juga ia tidak mengenal cinta buta
yang dimulai seolah nyala api yang melonjak-lonjak untuk
kemudian padam kembali. Dari perkawinannya itu ia beroleh
beberapa orang anak, laki-laki dan perempuan. Kematian kedua
anaknya, al-Qasim dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib1 telah
menimbulkan rasa duka yang dalam sekali. Anak-anak yang masih
hidup semua perempuan. Bijaksana sekali ia terhadap
anak-anaknya dan sangat lemah-lembut. Merekapun sangat setia
dan hormat kepadanya.

Paras mukanya manis dan indah, Perawakannya sedang, tidak
terlampau tinggi, juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang
besar, berambut hitam sekali antara keriting dan lurus.
Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung
lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di
tepi-tepi putih matanya agak ke merah-merahan, tampak lebih
menarik dan kuat: pandangan matanya tajam, dengan bulu-mata
yang hitam-pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan
gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebar sekali, berleher
panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang
bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak
tangan dan kakinya yang tebal.

Bila berjalan badannya agak condong kedepan, melangkah
cepat-cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan
penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan,
membuat orang patuh kepadanya.

Dengan sifatnya yang demikian itu tidak heran bila Khadijah
cinta dan patuh kepadanya, dan tidak pula mengherankan bila
Muhammad dibebaskan mengurus hartanya dan dia sendiri yang
memegangnya seperti keadaannya semula dan membiarkannya
menggunakan waktu untuk berpikir dan berenung.

Muhammad yang telah mendapat kurnia Tuhan dalam perkawinannya
dengan Khadijah itu berada dalam kedudukan yang tinggi dan
harta yang cukup. Seluruh penduduk Mekah memandangnya dengan
rasa gembira dan hormat. Mereka melihat karunia Tuhan yang
diberikan kepadanya serta harapan akan membawa turunan yang
baik dengan Khadijah. Tetapi semua itu tidak mengurangi
pergaulannya dengan mereka. Dalam hidup hari-hari dengan
mereka partisipasinya tetap seperti sediakala. Bahkan ia lebih
dihormati lagi di tengah-tengah mereka itu. Sifatnya yang
sangat rendah hati lebih kentara lagi. Bila ada yang
mengajaknya bicara ia mendengarkan hati-hati sekali tanpa
menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan kepada yang
mengajaknya bicara, bahkan ia rnemutarkan seluruh badannya.
Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak ia mendengarkan. Bila
bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguhpun begitu iapun
tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda-gurau, tapi
yang dikatakannya itu selalu yang sebenarnya. Kadang ia
tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah
sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya
tampak sedikit berkeringat. Ini disebabkan ia menahan rasa
amarah dan tidak mau menampakkannya keluar. Semua itu terbawa
oleh kodratnya yang selalu lapang dada, berkemauan baik dan
menghargai orang lain. Bijaksana ia, murah hati dan mudah
bergaul. Tapi juga ia mempunyai tujuan pasti, berkemauan
keras, tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam tujuannya.
Sifat-sifat demikian ini berpadu dalam dirinya dan
meninggalkan pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang
bergaul dengan dia. Bagi orang yang melihatnya tiba-tiba,
sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang bergaul
dengan dia akan timbul rasa cinta kepadanya.

Alangkah besarnya pengaruh yang terjalin dalam hidup
kasih-sayang antara dia dengan Khadijah sebagai isteri yang
sungguh setia itu.

Pergaulan Muhammad dengan penduduk Mekah tidak terputus, juga
partisipasinya dalam kehidupan masyarakat hari-hari. Pada
waktu itu masyarakat sedang sibuk karena bencana banjir besar
yang turun dari gunung, pernah menimpa dan meretakkan
dinding-dinding Ka'bah yang memang sudah rapuk. Sebelum itupun
pihak Quraisy memang sudah memikirkannya. Tempat yang tidak
beratap itu menjadi sasaran pencuri mengambil barang-barang
berharga di dalamnya. Hanya saja Quraisy merasa takut; kalau
bangunannya diperkuat, pintunya ditinggikan dan diberi
beratap, dewa Ka'bah yang suci itu akan menurunkan bencana
kepada mereka. Sepanjang zaman Jahiliah keadaan mereka
diliputi oleh pelbagai macam legenda yang mengancam
barangsiapa yang berani mengadakan sesuatu perubahan. Dengan
demikian perbuatan itu dianggap tidak umum.

Tetapi sesudah mengalami bencana banjir tindakan demikian itu
adalah suatu keharusan, walaupun masih serba takut-takut dan
ragu-ragu. Suatu peristiwa kebetulan telah terjadi sebuah
kapal milik seorang pedagang Rumawi bernama Baqum2 yang datang
dari Mesir terhempas di laut dan pecah. Sebenarnya Baqum ini
seorang ahli bangunan yang mengetahui juga soal-soal
perdagangan. Sesudah Quraisy mengetahui hal ini, maka
berangkatlah al-Walid bin'l-Mughira dengan beberapa orang dari
Quraisy ke Jidah. Kapal itu dibelinya dari pemiliknya, yang
sekalian diajaknya berunding supaya sama-sama datang ke Mekah
guna membantu mereka membangun Ka'bah kembali. Baqum
menyetujui permintaan itu. Pada waktu itu di Mekah ada seorang
Kopti yang mempunyai keahlian sebagai tukang kayu. Persetujuan
tercapai bahwa diapun akan bekerja dengan mendapat bantuan
Baqum.

Sudut-sudut Ka'bah itu oleh Quraisy dibagi empat bagian tiap
kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun
kembali. Sebelum bertindak melakukan perombakan itu mereka
masih ragu-ragu, kuatir akan mendapat bencana. Kemudian
al-Walid bin'l-Mughira tampil ke depan dengan sedikit
takut-takut. Setelah ia berdoa kepada dewa-dewanya mulai ia
merombak bagian sudut selatan.3 Tinggal lagi orang
menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan Tuhan nanti terhadap
al-Walid. Tetapi setelah ternyata sampai pagi tak terjadi
apa-apa, merekapun ramai-ramai merombaknya dan memindahkan
batu-batu yang ada. Dan Muhammad ikut pula membawa batu itu.

Setelah mereka berusaha membongkar batu hijau yang terdapat di
situ dengan pacul tidak berhasil, dibiarkannya batu itu
sebagai fondasi bangunan. Dan gunung-gunung sekitar tempat itu
sekarang orang-orang Quraisy mulai mengangkuti batu-batu
granit berwarna biru, dan pembangunanpun segera dimulai.
Sesudah bangunan itu setinggi orang berdiri dan tiba saatnya
meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di
sudut timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy,
siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu
di tempatnya. Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga
hampir saja timbul perang saudara karenanya. Keluarga
Abd'd-Dar dan keluarga 'Adi bersepakat takkan membiarkan
kabilah yang manapun campur tangan dalam kehormatan yang besar
ini. Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga
Abd'd-Dar membawa sebuah baki berisi darah. Tangan mereka
dimasukkan ke dalam baki itu guna memperkuat sumpah mereka.
Karena itu lalu diberi nama La'aqat'd-Dam, yakni 'jilatan
darah.'

Abu Umayya bin'l-Mughira dari Banu Makhzum, adalah orang yang
tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi. Setelah
melihat keadaan serupa itu ia berkata kepada mereka:

"Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama
sekali memasuki pintu Shafa ini."

Tatkala mereka melihat Muhammad adalah orang pertama memasuki
tempat itu, mereka berseru: "Ini al-Amin; kami dapat menerima
keputusannya."

Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Iapun
mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa
berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu
katanya: "Kemarikan sehelai kain," katanya. Setelah kain
dibawakan dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu
diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya;
"Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini."

Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu
akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu dari kain
dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan
itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan.

Quraisy menyelesaikan bangunan Ka'bah sampai setinggi
delapanbelas hasta (± 11 meter), dan ditinggikan dari tanah
sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang
orang masuk. Di dalam itu mereka membuat enam batang tiang
dalam dua deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang
sebuah tangga naik sampai ke teras di atas lalu meletakkan
Hubal di dalam Ka'bah. Juga di tempat itu diletakkan
barang-barang berharga lainnya, yang sebelum dibangun dan
diberi beratap menjadi sasaran pencurian.

Mengenai umur Muhammad waktu membina Ka'bah dan memberikan
keputusannya tentang batu itu, masih terdapat perbedaan
pendapat. Ada yang mengatakan berumur duapuluh lima tahun. Ibn
Ishaq berpendapat umurnya tigapuluh lima tahun. Kedua pendapat
itu baik yang pertama atau yang kemudian, sama saja; tapi yang
jelas cepatnya Quraisy menerima ketentuan orang yang pertama
memasuki pintu Shafa, disusul dengan tindakannya mengambil
batu dan diletakkan di atas kain lalu mengambilnya dari kain
dan diletakkan di tempatnya dalam Ka'bah, menunjukkan betapa
tingginya kedudukannya dimata penduduk Mekah, betapa besarnya
penghargaan mereka kepadanya sebagai orang yang berjiwa besar.

Adanya pertentangan antar-kabilah, adanya persepakatan
La'aqat'd-Dam ('Jilatan Darah'), dan menyerahkan putusan
kepada barangsiapa mula-mula memasuki pintu Shafa, menunjukkan
bahwa kekuasaan di Mekah sebenarnya sudah jatuh.

Kekuasaan yang dulu ada pada Qushayy, Hasyim dan
Abd'l-Muttalib sekarang sudah tak ada lagi. Adanya
pertentangan kekuasaan antara keluarga Hasyim dan keluarga
Umayya sesudah matinya Abd'l-Muttalib besar sekali
pengaruhnya.

Dengan jatuhnya kekuasaan demikian itu sudah wajar sekali akan
membawa akibat buruk terhadap Mekah, kalau saja tidak karena
adanya rasa kudus dalam hati semua orang Arab terhadap Rumah
Purba itu. Dan jatuhnya kekuasaan itupun membawa akibat secara
wajar pula, yakni menambah adanya kemerdekaan berpikir dan
kebebasan menyatakan pendapat, dan menimbulkan keberanian
pihak Yahudi dan kaum Nasrani mencela orang-orang Arab yang
masih menyembah berhala itu - suatu hal yang tidak akan berani
mereka lakukan sewaktu masih ada kekuasaan. Hal ini berakhir
dengan hilangnya pemujaan berhala-berhala itu dalam hati
penduduk Mekah dan orang-orang Quraisy sendiri, meskipun
pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Mekah masih memperlihatkan
adanya pemujaan dan penyembahan demikian itu. Sikap mereka ini
sebenamya berasalan sekali; sebab mereka melihat, bahwa agama
yang berlaku itu adalah salah satu alat yang akan menjaga
ketertiban serta menghindarkan adanya kekacauan berpikir.
Dengan adanya penyembahan-penyembahan berhala dalam Ka'bah,
ini merupakan jaminan bagi Mekah sebagai pusat keagamaan dan
perdagangan. Dan memang demikianlah sebenarnya, dibalik
kedudukan ini Mekah dapat juga menikmati kemakmuran dan
hubungan dagangnya. Akan tetapi itu tidak akan mengubah
hilangnya pemujaan berhala-berhala dalam hati penduduk Mekah.

Ada beberapa keterangan yang menyebutkan, bahwa pada suatu
hari masyarakat Quraisy sedang berkumpul di Nakhla merayakan
berhala 'Uzza; empat orang di antara mereka diam-diam
meninggalkan upacara itu. Mereka itu ialah: Zaid b. 'Amr,
Usman bin'l-Huwairith, 'Ubaidullah b. Jahsy dan Waraqa b.
Naufal.

Mereka satu sama lain berkata: "Ketahuilah bahwa masyarakatmu
ini tidak punya tujuan; mereka dalam kesesatan. Apa artinya
kita mengelilingi batu itu: memdengar tidak, melihat tidak,
merugikan tidak, menguntungkanpun juga tidak. Hanya darah
korban yang mengalir di atas batu itu. Saudara-saudara,
marilah kita mencari agama lain, bukan ini."

Dari antara mereka itu kemudian Waraqa menganut agama Nasrani.
Konon katanya dia yang menyalin Kitab Injil ke dalam bahasa
Arab. 'Ubaidullah b. Jahsy masih tetap kabur pendiriannya.
Kemudian masuk Islam dan ikut hijrah ke Abisinia. Di sana ia
pindah menganut agama Nasrani sampai matinya. Tetapi isterinya
- Umm Habiba bint Abi Sufyan - tetap dalam Islam, sampai
kemudian ia menjadi salah seorang isteri Nabi dan
Umm'l-Mu'minin.

Zaid b. 'Amr malah pergi meninggalkan isteri dan al-Khattab
pamannya. Ia menjelajahi Syam dan Irak, kemudian kembali lagi.
Tetapi dia tidak mau menganut salah satu agama, baik Yahudi
atau Nasrani. Juga dia meninggalkan agama masyarakatnya dan
menjauhi berhala. Dialah yang berkata, sambil bersandar ke
dinding Ka'bah: "Ya Allah, kalau aku mengetahui, dengan cara
bagaimana yang lebih Kausukai aku menyembahMu, tentu akan
kulakukan. Tetapi aku tidak me ngetahuinya."

Usman bin'l-Huwairith, yang masih berkerabat dengan Khadijah,
pergi ke Rumawi Timur dan memeluk agama Nasrani. Ia mendapat
kedudukan yang baik pada Kaisar Rumawi itu. Disebutkan juga,
bahwa ia mengharapkan Mekah akan berada di bawah kekuasaan
Rumawi dan dia berambisi ingin menjadi Gubernurnya. Tetapi
penduduk Mekah mengusirnya. Ia pergi minta perlindungan Banu
Ghassan di Syam. Ia bermaksud memotong perdagangan ke Mekah.
Tetapi hadiah-hadiah penduduk Mekah sampai juga kepada Banu
Ghassan. Akhirnya ia mati di tempat itu karena diracun.

Selama bertahun-tahun Muhammad tetap bersama-sama penduduk
Mekah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia menemukan
dalam diri Khadijah teladan wanita terbaik; wanita yang subur
dan penuh kasih, menyerahkan seluruh dirinya kepadanya, dan
telah melahirkan anak-anak seperti: al-Qasim dan Abdullah yang
dijuluki at-Tahir dan at-Tayyib, serta puteri-puteri seperti
Zainab, Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatimah. Tentang al-Qasim dan
Abdullah tidak banyak yang diketahui, kecuali disebutkan bahwa
mereka mati kecil pada zaman Jahiliah dan tak ada meninggalkan
sesuatu yang patut dicatat. Tetapi yang pasti kematian itu
meninggalkan bekas yang dalam pada orangtua mereka. Demikian
juga pada diri Khadijah terasa sangat memedihkan hatinya.

Pada tiap kematian itu dalam zaman Jahiliah tentu Khadijah
pergi menghadap sang berhala menanyakannya: kenapa berhalanya
itu tidak memberikan kasih-sayangnya, kenapa berhala itu tidak
melimpahkan rasa kasihan, sehingga dia mendapat kemalangan,
ditimpa kesedihan berulang-ulang!? Perasaan sedih karena
kematian anak demikian sudah tentu dirasakan juga oleh
suaminya. Rasa sedih ini selalu melecut hatinya, yang hidup
terbayang pada istennya, terlihat setiap ia pulang ke rumah
duduk-duduk di sampingnya

Tidak begitu sulit bagi kita akan menduga betapa dalamnya rasa
sedih demikian itu, pada suatu zaman yang membenarkan
anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan
laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan
lebih lagi dan itu. Cukuplah jadi contoh betapa besarnya
kesedihan itu, Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan
tersebut, sehingga ketika Zaid b. Haritha didatangkan
dimintanya kepada Khadijah supaya dibelinya kemudian
dimerdekakannya. Waktu itu orang menyebutnya Zaid bin
Muhammad. Keadaan ini tetap demikian hingga akhirnya ia
menjadi pengikut dan sahabatnya yang terpilih. Juga Muhammad
merasa sedih sekali ketika kemudian anaknya, Ibrahim meninggal
pula. Kesedihan demikian ini timbul juga sesudah Islam
mengharamkan menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan
sesudah menentukan bahwa sorga berada di bawah telapak kaki
ibu.

Sudah tentu malapetaka yang menimpa Muhammad dengan kematian
kedua anaknya berpengaruh juga dalam kehidupan dan
pemikirannya. Sudah tentu pula pikiran dan perhatiannya
tertuju pada kemalangan yang datang satu demi satu itu
menimpa, yang oleh Khadijah dilakukan dengan membawakan
sesajen buat berhala-berhala dalam Ka'bah, menyembelih hewan
buat Hubal, Lat, 'Uzza dan Manat, ketiga yang terakhir.4

Ia ingn menebus bencana kesedihan yang menimpanya. Akan
tetapi, semua kurban-kurban dan penyembelihan itu tidak
berguna sama sekali.

Terhadap anak-anaknya yang perempuan juga Muhammad memberikan
perhatian, dengan mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya
memenuhi syarat (kufu'). Zainab yang sulung dikawinkan dengan
Abu'l-'Ash bin'r-Rabi' b.'Abd Syams - ibunya masih bersaudara
dengan Khadijah - seorang pemuda yang dihargai masyarakat
karena kejujuran dan suksesnya dalam dunia perdagangan.
Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah
datangnya Islam - ketika Zainab akan hijrah dan Mekah ke
Medinah - mereka terpisah, seperti yang akan kita lihat lebih
terperinci nanti. Ruqayya dan Umm Kulthum dikawinkan dengan
'Utba dan 'Utaiba anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri
ini sesudah Islam terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab
menyuruh kedua anaknya itu menceraikan isteri mereka, yang
kemudian berturut-turut menjadi isteri Usman.5

Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali
baru sesudah datangnya Islam.

(bersambung ke bagian 2/2)

---------------------------------------------
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1
agamaislam wrote on Mar 25
142 Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata:` Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? `Katakanlah:` Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. `(QS. 2:142)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 142
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142)
Ayat ini diturunkan di Madinah berkenaan dengan pemindahan kiblat kaum muslimin dari Baitul Makdis (Masjidil Aqsa) ke Baitullah (Masjidil Haram). Nabi Muhammad saw. serta kaum muslimin ketika masih berada di Mekah bersembahyang menghadap Baitul Makdis sebagaimana yang dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya, akan tetapi beliau mempunyai keinginan dan harapan agar kiblat tersebut pindah ke Kakbah yang berada di Masjidil Haram di Mekah. Sebab itu, beliau berusaha menghimpun kedua kiblat itu dengan cara menghadap ke Kakbah dan Baitul Makdis sekaligus, dengan mengerjakan salat di sebelah selatan Kakbah menghadap ke utara, karena Baitul Makdis juga terletak di utara.
Setelah beliau berhijrah ke Madinah tentulah tidak mungkin lagi untuk berbuat demikian karena Kakbah tidak terletak di utara kota Madinah, tidak lagi dalam satu arah dengan Baitul Makdis. Dengan demikian beliau setelah berada di Madinah hanyalah menghadap Baitul Makdis saja ketika salat hal itu berlangsung selama 16 bulan; dan beliau berdoa agar Allah menetapkan Kakbah menjadi kiblat sebagai pengganti Baitul Makdis. Beliau menengadahkan wajahnya ke langit menantikan wahyu dari Alah swt. dengan penuh harapan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai salah seorang hamba Allah yang berbudi luhur dan berserah diri kepada-Nya. Tidak lama kemudian, turunlah ayat ini yang memerintahkan perpindahan kiblat dari Baitul Makdis ke Kakbah. Dan ayat ini diturunkan pada bulan Rajab tahun kedua hijriah. Ayat ini sekaligus merupakan jawaban terhadap ejekan kaum musyrikin dan terhadap keingkaran orang-orang Yahudi, dan kaum munafik atas kepindahan kiblat tersebut.
Orang-orang yang mengingkari dan mengejek perpindahan kiblat tersebut, oleh ayat ini dinamakan sebagai "orang-orang yang kurang akal" karena tidak mengetahui persoalan-persoalan yang pokok dalam masalah perpindahan kiblat itu namun mereka telah mencelanya. Mereka tidak menginsafi bahwa arah yang empat, yaitu timur, barat, utara dan selatan semuanya adalah kepunyaan Allah swt. tidak ada keistimewaan yang satu terhadap yang lain. Dengan demikian, apabila Allah memerintahkan hamba-Nya menghadap ke salah satu arah dalam salat, maka hal ini bukanlah disebabkan karena arah tersebut lebih mulia dari yang lain, melainkan semata-mata untuk menguji kepatuhan mereka kepada perintah dan peraturan-Nya.
Kaum Yahudi, musyrikin dan munafikin yang perpindahan mengingkari perpindahan kiblat tersebut, oleh Tuhan disebut sebagai "orang-orang yang kurang akal (sufaha)". Mereka menanyakan alasan-alasan perpindahan itu. Dan Nabi Muhammad saw. diperintahkan Allah untuk memberikan jawaban kepada mereka dengan mengatakan bahwa semua arah kepunyaan Allah. Apabila Dia menentukan suatu kiblat bagi kaum muslimin, maka hal itu adalah untuk mempersatukan mereka dalam beribadah. Hanya saja orang-orang yang kurang akal telah menjadikan batu-batu dan bangunan-bangunan tersebut sebagai pokok dasar dari agama. Padahal kelebihan dan keutamaan sesuatu arah bukanlah karena zatnya sendiri, melainkan karena ia telah dipilih dan ditentukan Allah swt.
Pada akhir ayat ini, Allah swt. menegaskan bahwa Dia memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Maka siapa saja yang patuh dan menaati perintah Allah tentulah akan beroleh petunjuk-Nya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya orang-orang yang ingkar dan kufur terhadap agama-Nya tentulah tidak akan memperoleh petunjuk dan hidayah-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 142
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142)
(Orang-orang yang bodoh, kurang akalnya, di antara manusia) yakni orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin akan mengatakan, (Apakah yang memalingkan mereka) yakni Nabi saw. dan kaum mukminin (dari kiblat mereka yang mereka pakai selama ini) maksudnya yang mereka tuju di waktu salat, yaitu Baitulmakdis. Menggunakan 'sin' yang menunjukkan masa depan, merupakan pemberitaan tentang peristiwa gaib. (Katakanlah, "Milik Allahlah timur dan barat) maksudnya semua arah atau mata angin adalah milik Allah belaka, sehingga jika Dia menyuruh kita menghadap ke arah mana saja, maka tak ada yang akan menentang-Nya. (Dia memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya) sesuai dengan petunjuk-Nya (ke jalan yang lurus") yakni agama Islam. Termasuk dalam golongan itu ialah kamu sendiri dan sebagai buktinya ialah:


143 Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.(QS. 2:143)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 143
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (143)
Umat Islam adalah umat yang mendapat petunjuk dari Allah swt. sehingga mereka menjadi umat yang adil dan pilihan dan akan menjadi saksi atas keingkaran orang-orang yang kafir. Umat Islam harus senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran serta membela yang hak dan melenyapkan yang batil.
Mereka dalam segala aspek persoalan hidup berada di tengah-tengah antara orang-orang yang mementingkan kebendaan dalam penghidupannya seperti orang-orang Yahudi, musyrikin serta orang-orang yang tidak beragama, dan orang-orang yang hanya mementingkan kerohanian saja seperti orang-orang Nasrani, Sabi'in dan orang-orang Hindu.
Dengan demikian maka umat Islam menjadi saksi yang adil dan terpilih atas keterlaluan orang-orang yang bersandar pada kebendaan itu, yang melupakan hak-hak ketuhanan dan cenderung kepada memuaskan hawa nafsu dan jadi saksi pula terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam soal agama sehingga melepaskannya dari segala kenikmatan jasmani dengan menyiksa diri dan menahan dirinya dari kehidupan yang wajar. Maka umat Islam menjadi saksi atas mereka semuanya karena sifatnya yang adil dan terpilih dan dalam melaksanakan hidupnya sehari-hari selalu menempuh jalan tengah.
Demikian pula Rasulullah saw. menjadi saksi bagi umatnya bahwa umatnya itu sebaik-baik umat yang diciptakan untuk memberi petunjuk kepada manusia dengan amar makruf dan nahi mungkar. Kemudian Allah menjelaskan bahwa perubahan kiblat dari Baitul Makdis ke Kakbah itu adalah untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan mengikuti pedoman Rasul dan siapa pula yang lemah imannya serta membelok dari jalan yang lurus. Memang pemindahan kiblat itu dirasakan sangat berat oleh orang yang fanatik kepada kiblat yang pertama, karena manusia pada umumnya sulit untuk merubah dan meninggalkan kebiasaannya. Tetapi orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah dengan mengetahui hukum-hukum agamanya dan rahasia syariatnya, mereka insaf bahwa melaksanakan ibadat dengan menghadap kiblat itu adalah semata-mata karena perintah Allah bukan karena sesuatu rahasia yang tersembunyi pada tempat itu sendiri dan bahwasanya penempatan kiblat itu untuk menghimpun manusia sehingga menjadi kesatuan yang bulat.
3. Untuk menghilangkan keragu-raguan dari sebagian kaum muslimin tentang pahala salatnya selama mereka menghadap ke Baitul Makdis dulu, maka Allah menerangkan bahwa Dia sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan iman dan amal orang-orang yang mematuhi Rasul karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.


144 Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(QS. 2:144)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 144
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144)
Sebagaimana telah diterangkan dalam riwayat tentang sebab turunnya ayat tersebut di atas, Nabi Muhammad saw. ingin sekali supaya kiblat itu ditetapkan Allah ke arah Kakbah, oleh sebab itu beliau sering menengadahkan mukanya ke langit menantikan wahyu yang akan memerintahkan perpindahan kiblat itu. Maka turunlah ayat ini menetapkan perpindahan kiblat tersebut dari Baitul Makdis ke Kakbah. Di sini disebutkan arah Masjidil Haram, bukan Kakbah sebagai isyarat yang membolehkan kita menghadap "ke arah Kakbah" pada waktu salat apabila Kakbah itu jauh letaknya dari kita dan tidak dapat dilihat.
Jadi tidak diwajibkan menghadap kepada bangunan Kakbah itu sendiri, kecuali orang-orang yang dapat melihatnya. Dengan demikian maka seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru bumi wajib menghadap "ke arah Kakbah" dalam salat dan untuk melaksanakan tugas itu mereka pun diwajibkan (wajib kifayah) mengetahui ilmu bumi sekedar untuk mengetahui arah kiblat dalam salat, dan sebagaimana mereka sebaiknya mengetahui ilmu falak untuk mengetahui jadwal waktu salat.
Pemindahan kiblat ke Kakbah itu adalah ketetapan yang benar dari Allah, tetapi mereka itu membantah kebenaran ini, bahkan mereka menimbulkan fitnah dan menyebarkan keragu-raguan di antara orang-orang Islam yang lemah imannya.


145 Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.(QS. 2:145)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 145
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)
Orang-orang yang berwatak demikian tidak dapat diharapkan bahwa mereka akan kembali kepada kebenaran. Mereka akan tetap dalam kesesatan meskipun diberi alasan dan keterangan serta bukti-bukti yang jelas. Oleh sebab itu mereka tidak akan mau mengikuti kiblat umat Islam. Terhadap sesama mereka pun kaum Yahudi dan Nasrani itu tetap mempertahankan kiblatnya masing-masing. Andaikata kaum muslimin mengikuti keinginan mereka itu, tentulah mereka akan termasuk orang-orang yang aniaya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 145
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)
(Dan sesungguhnya jika) lam untuk sumpah (kamu datangkan kepada orang-orang yang diberi Alkitab semua bukti) atas kebenaranmu tentang soal kiblat (mereka tidak mengikuti) maksudnya tidak akan mengikuti (kiblatmu) disebabkan keingkaran (dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka). Hal ini dipastikan Allah mengingat keinginan kuat dari Nabi agar mereka masuk Islam dan keinginan kuat mereka agar Nabi saw. kembali berkiblat ke Baitulmakdis. (Dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain) maksudnya orang-orang Yahudi terhadap kiblat orang-orang Kristen dan sebaliknya orang-orang Kristen terhadap kiblat orang-orang Yahudi. (Dan sekiranya kamu mengikuti keinginan mereka) yang mereka ajukan dan tawarkan kepadamu (setelah datang ilmu kepadamu) maksudnya wahyu, (maka kalau begitu kamu) apabila kamu mengikuti mereka (termasuk golongan orang-orang yang aniaya).


146 Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.(QS. 2:146)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 146
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (146)
Orang-orang Yahudi mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. itu benar, karena mereka telah mengenal Nabi Muhammad itu dari kitab-kitab mereka sendiri. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah swt.:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157)
Artinya:
Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Nabi itu menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka yang buruk-buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S Al A'raf: 157)
Orang-orang Yahudi itu mengenal Nabi Muhammad saw. karena telah disebut-sebut di dalam Kitab Taurat dengan sifat-sifatnya yang cocok dengan pribadi Nabi Muhammad saw. itu lebih daripada mengenal anaknya sendiri.
Diriwayatkan dari Umar, bahwa beliau berjumpa dengan seorang pendeta Yahudi yang telah masuk Islam bernama Abdullah bin Salam yang berkata demikian: "Saya lebih mengenal Nabi Muhammad daripada mengenal anak saya sendiri." Umar bertanya kepadanya: "Mengapa?" Ia menjawab: "Karena aku sedikit pun tidak meragukan bahwa Muhammad itu adalah nabi, sedangkan mengenai anakku, ada saja kemungkinan bahwa ibunya telah berkhianat." Maka Umar mencium kepala Abdullah bin Salam.
Sebagian orang-orang Yahudi mengingkari dan menyembunyikan kebenaran bahwa Nabi Muhammad saw. itu adalah nabi dan bahwa Kakbah itu adalah kiblat, tetapi sebagian lagi dari mereka ada yang mengakui kebenarannya serta mempercayai dan menerima petunjuknya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 146
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (146)
(Orang-orang yang Kami beri Alkitab mengenalnya) Muhammad (sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri) karena disebutkan ciri-cirinya dalam kitab-kitab suci mereka. Kata Ibnu Salam, "Sesungguhnya ketika aku melihatnya, maka aku pun segera mengenalnya, sebagaimana aku mengenal putraku sendiri, bahkan lebih kuat lagi mengenal Muhammad." (Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran) maksudnya ciri-cirinya itu (padahal mereka mengetahui) keadaanmu dan siapa kamu yang sebenarnya.


147 Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(QS. 2:147)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 147
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (147)
Yang benar itu adalah apa yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. bukan apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Dalam hal ini kaum muslimin tidak boleh ragu-iagu. Sebenarnya masalah kiblat ini bukanlah masalah prinsip sebagai asas agama seperti tauhid, iman kepada hari kiamat dan lain-lain, tetapi kiblat ini hanya merupakan suatu arah yang masing-masing umat diperintahkan untuk menghadap kepadanya dalam salat mereka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 147
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (147)
(Kebenaran itu) betapa pun (dari Tuhanmu, maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan) dalam kebimbangan, misalnya mengenai soal kiblat ini. Susunan kata seperti itu lebih kuat lagi daripada mengatakan, "Jangan kamu ragu!"


148 Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 2:148)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (148)
Setiap umat mempunyai kiblat masing-masing. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s. menghadap ke Kakbah. Bani Israil menghadap ke Baitul Makdis dan orang-orang Nasrani menghadap ke timur. Yang prinsip ialah beriman kepada Allah dan mematuhi segala perintah-Nya. Karena Allah telah memerintahkan supaya kaum muslimin menghadap ke Kakbah dalam salat, fitnahan dan cemoohan dari orang-orang yang ingkar itu tidak perlu dilayani, tetapi hendaklah kaum muslimin bekerja dengan giat, beramal, bertaubat dan berlomba-lomba membuat kebajikan. Allah nanti akan menghimpun sekalian manusia untuk menghitung dan membalas segala amal perbuatannya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu; tidak ada yang melemahkannya untuk mengumpulkan seluruh manusia pada hari pembalasan.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (148)
(Dan bagi masing-masing) maksudnya masing-masing umat (ada arah dan tujuan) maksudnya kiblat (tempat ia menghadapkan wajahnya) di waktu salatnya. Menurut suatu qiraat bukan 'muwalliihaa' tetapi 'muwallaahaa' yang berarti majikan atau yang menguasainya, (maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan) yakni segera menaati dan menerimanya. (Di mana saja kamu berada, pastilah Allah akan mengumpulkan kamu semua) yakni di hari kiamat, lalu dibalas-Nya amal perbuatanmu. (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu).
agamaislam wrote on Mar 25
Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota





BAGIAN KEDUAPULUH EMPAT: PEMBEBASAN MEKAH (1/3)
Muhammad Husain Haekal

Pengaruh Mu'ta - Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiya
- Khuza'a meminta bantuan Nabi - Utusan Abu Sufyan
kepada Nabi - Sepuluh ribu Muslimin siap ke Mekah -
Harapan Muhammad tanpa pertumpahan darah membebaskan
Mekah - Abbas berangkat menemui Abu Sufyan - Muslimin
datang membebaskan - Muhammad memaafkan musuhnya semua
- Ka'bah dibersihkan dari berhala - Islamnya penduduk
Mekah.

DI BAWAH pimpinan Khalid bin'l-Walid pasukan Muslimin kini
kembali pulang setelah terjadi peristiwa Mu'ta itu. Mereka
kembali tidak membawa kemenangan, juga tidak membawa
kekalahan. Mereka kembali pulang dengan senang hati.

Penarikan mundur ini setelah - Zaid b. Haritha, Ja'far b. Abi
Talib dan Abdullah b. Rawaha tewas - telah meninggalkan kesan
yang berlain-lainan sekali pada pihak Rumawi, pada pihak
Muslimin yang tinggal di Medinah dan pada pihak Quraisy di
Mekah. Rumawi merasa gembira sekali dengan penarikan mundur
pasukan Muslimin itu. Mereka sudah merasa bersyukur, sebab
pertempuran itu tidak sampai berlangsung lama, meskipun
tentara Rumawi terdiri dari seratus ribu menurut satu sumber,
- atau dua ratus ribu menurut sumber yang lain, - sementara
pasukan Muslimin terdiri dari tiga ribu orang. Kegembiraan
pihak Rumawi itu - baik disebabkan oleh ketangkasan Khalid
bin'l-Walid dalam bertahan mati-matian dengan kekuatannya
dalam mengadakan serangan, sehingga ia menghabiskan sembilan
pedang yang patah di tangannya ketika bertempur setelah
tewasnya tiga sahabatnya itu, atau disebabkan oleh
kecerdikannya dalam mengatur dan membagi-bagi pasukannya pada
hari kedua dan yang telah menimbulkan hiruk-pikuk sehingga
pihak Rumawi mengira bahwa bala bantuan telah didatangkan dari
Medinah - namun kabilah-kabilah Arab yang tinggal di
perbatasan dengan Syam sangat kagum sekali melihat tindakan
Muslimin ketika itu.

Karena peristiwa itu pula salah seorang pemimpin mereka (Farwa
b. 'Amr al-Judhami, seorang komandan pasukan Rumawi) langsung
menyatakan diri masuk Islam. Akan tetapi, atas perintah
Heraklius dia kemudian ditangkap dengan tuduhan berkhianat.
Sungguh pun begitu Heraklius masih bersedia membebaskannya
kembali asal saja ia mau kembali ke dalam pangkuan agama
Nasrani, bahkan ia bersedia mengembalikannya pada jabatan
semula sebagai komandan pasukan. Tetapi Farwa menolak dan
tetap menolak dengan tetap bertahan dalam keislamannya,
sehingga akhirnya ia dibunuh juga. Tetapi karena itu pula
Islam makin luas tersebar di kalangan kabilah-kabilah Najd
yang berbatasan dengan Irak dan Syam. Ketika itu di sana
Rumawi sedang berada dalam puncak kekuasaannya.

Dengan bertambah banyaknya orang masuk ke dalam agama baru ini
Kerajaan Bizantium makin goyah kedudukannya, sehingga ada
penguasa Heraklius, yang bertugas membayar gaji militer,
ketika itu berkata lantang kepada orang-orang Arab Syam yang
ikut dalam perang; "Lebih baik kalian menarik diri. Kerajaan
dengan susah payah baru dapat membayar gaji angkatan
perangnya. Untuk makanan anjingnya pun sudah tidak ada."

Tidak heran kalau mereka lalu meninggalkan kerajaan dan
meninggalkan angkatan perangnya. Sebaliknya, agama baru ini
makin cemerlang sinarnya memancar dihadapan mereka, yang akan
mengantarkan mereka kepada kebenaran yang lebih tinggi, yang
akan menjadi tujuan umat manusia. Itu pula sebabnya, selama
waktu itu saja ribuan orang telah masuk Islam, yang terdiri
dari kabilah Sulaim dengan pemimpinnya Al-'Abbas ibn Mirdas,
kabilah-kabilah Asyja' dan Ghatafan yang dahulu sudah
bersekutu dengan Yahudi sampai hancurnya Yahudi di Khaibar,
demikian juga kabilah-kabilah 'Abs, Dhubyan dan Fazara.
Peristiwa Mu'ta ini jugalah yang telah imemudahkan persoalan
bagi Muslimin di bagian utara Medinah sampai ke perbatasan
Syam itu, dan ini pula yang telah membuat Islam lebih
terpandang dan lebih kuat.

Akan tetapi buat Muslimin yang tinggal di Medinah pengaruhnya
lain lagi. Bilamana mereka melihat Khalid dan pasukannya
kembali dari perbatasan Syam tidak membawa kemenangan atas
pasukan Heraklius, mereka bersorak-sorak mengatakan: "He
orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!" Beberapa
orang anggota pasukan itu merasa demikian malu sampai ada yang
tidak berani keluar rumah, supaya jangan lagi diperolok-olok
oleh anak-anak dan pemuda-pemuda Muslimin dengan tuduhan
melarikan diri itu.

Sebaliknya di mata Quraisy, akibat Mu'ta itu dipandang oleh
mereka sebagai suatu kehancuran dan pukulan berat buat
Muslimin, sehingga tak ada lagi orang yang mau menghiraukan
mereka atau menganggap penting segala perjanjian dengan
mereka. Biarlah keadaan kembali seperti sebelum
'umrat'l-qadza'. Biarlah keadaan kembali seperti sebelum
Perjanjian Hudaibiya. Biarlah orang-orang Quraisy kembali lagi
menyerang kaum Muslimin dan siapa saja yang masih terikat
perjanjian dengan mereka tanpa harus merasa takut ada tindakan
hukum dari Muhammad.

Perdamaian Hudaibiya antara lain sudah menentukan, bahwa
barangsiapa yang ingin masuk kedalam persekutuan dengan
Muhammad boleh saja, dan barangsiapa ingin masuk kedalam
persekutuan dengan pihak Quraisy juga boleh. Ketika itu
Khuza'a masuk bersekutu dengan Muhammad sedang Banu Bakr
dengan pihak Quraisy. Sebenarnya antara Khuza'a dengan Banu
Bakr ini sudah lama timbul permusuhan yang baru reda setelah
ada perjanjian Hudaibiya, masing-masing kabilah menggabungkan
diri dengan pihak yang mengadakan perdamaian itu.

Dengan adanya peristiwa yang telah terjadi di Mu'ta itu,
sekarang terbayang oleh Quraisy bahwa Muslimin pasti mengalami
kehancuran. Sudah terbayang oleh Banu'd-Dil, sebagai bagian
dari Banu Bakr b. 'Abd Manat, bahwa sekarang sudah tiba
waktunya akan membalas dendam lamanya kepada Khuza'a, ditambah
lagi memang ada segolongan orang dari pihak Quraisy yang ikut
mendorong, diantaranya 'Ikrima b. Abi Jahl dan beberapa orang
pemimpin Quraisy lainnya yang sekalian memberikan bantuan
senjata.

Malam itu pihak Khuza'a sedang berada di tempat pangkalan air
milik mereka sendiri yang bernama al-Watir, oleh pihak Banu
Bakr mereka diserang dengan tiba-tiba sekali dan beberapa
orang dari pihak Khuza'a dibunuh. Sekarang Khuza'a lari ke
Mekah, berlindung kepada keluarga Budail b. Warqa, dengan
mengadukan perbuatan Quraisy dan Banu Bakr yang telah
melanggar perjanjian dengan Rasulullah itu. Untuk itu 'Amr b.
Salim dari Khuza'a cepat-eepat pula pergi ke Medinah. Dan bila
ia sudah menghadap Muhammad yang ketika itu sedang dalam
mesjid dengan beberapa orang, diceritakannya apa yang telah
terjadi itu dan ia meminta pertolongannya.

"'Amr b. Salim, mesti engkau dibela," kata Rasulullah.

Sesudah itu Budail b. Warqa, bersama beberapa orang dari pihak
Khuza'a kemudian berangkat pula ke Medinah. Mereka melaporkan
kepada Nabi mengenai nasib yang mereka alami itu serta adanya
dukungan Quraisy kepada Banu Bakr. Melihat apa yang telah
dilakukan Quraisy dengan merusak perjanjian itu, maka tak ada
jalan lain menurut Nabi, Mekah harus dibebaskan. Untuk itu ia
bermaksud mengutus orang kepada kaum Muslimin di seluruh
jazirah supaya bersiap-siap menantikan panggilan yang belum
mereka ketahui apa tujuannya panggilan demikian itu.

Sebaliknya orang-orang yang dapat berpikir lebih bijaksana di
kalangan Quraisy, mereka sudah dapat menduga bahaya apa yang
akan timbul akibat tindakan 'Ikrima dan kawan-kawannya dari
kalangan pemuda itu. Kini persetujuan Hudaibiya sudah
dilanggar, dan pengaruh Muhammad di seluruh jazirah sekarang
sudah bertambah kuat. Sekiranya apa yang telah terjadi itu
dipikirkan, bahwa pihak Khuza'a akan menuntut balas terhadap
penduduk Mekah, pasti Kota Suci itu akan sangat terancam
bahaya. Jadi apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Mereka mengutus Abu Sufyan ke Medinah, dengan maksud supaya
persetujuan itu diperkuat kembali dan diperpanjang waktunya.
Barangkali waktu yang sudah itu berlaku untuk dua tahun,
sekarang mereka mau supaya menjadi sepuluh tahun.

Abu Sufyan, sebagai pemimpin mereka dan sebagai orang yang
bijaksana di kalangan mereka kini berangkat menuju Medinah.
Ketika sampai di 'Usfan dalam perjalanannya itu ia bertemu
dengan Budail b. Warqa, dan rombongannya. Ia kuatir Budail
sudah menemui Muhammad dan melaporkan apa yang telah terjadi.
Hal ini akan lebih mempersulit tugasnya. Tetapi Budail
membantah bahwa ia telah menemui Muhammad. Sungguhpun begitu,
dari kotoran binatang tunggangan Budail itu ia mengetahui,
bahwa orang itu memang dari Medinah. Oleh karena itulah, ia
tidak akan langsung menemui Muhammad lebih dulu, melainkan
akan menuju ke rumah puterinya, Umm Habiba, isteri Nabi.

Mungkin ia (Umm Habiba) memang sudah mengetahui rasa kasih
sayang Nabi kepada Quraisy meskipun ia belum mengetahui apa
yang sudah menjadi keputusannya mengenai Mekah. Dan mungkin
juga semua Muslimin yang ada di Medinah demikian.

Waktu itu Abu Sutyan sudah akan duduk di lapik yang biasa
diduduki Nabi, tapi oleh Umm Habiba lapik itu segera
dilipatnya. Lalu oleh ayahnya ia ditanya, melipat lapik itu
karena ia sayang kepada ayah, ataukah karena sayang kepada
lapik.

"Ini lapik Rasulullah s.a.w.," jawabnya. "Ayah orang musyrik
yang kotor. Saya tidak ingin ayah duduk di tempat itu."

"Sungguh engkau akan mendapat celaka, anakku," kata Abu
Sufyan. Lalu ia keluar dengan marah.

Sesudah itu ia pergi menemui Muhammad, bicara mengenai
perjanjian serta perpanjangan waktunya. Tetapi Nabi tidak
memberikan jawaban samasekali. Selanjutnya ia pergi menemui
Abu Bakr supaya membicarakan maksudnya itu dengan Nabi. Tetapi
Abu Bakr juga menolak. Sekarang Umar bin'l-Khattab yang
dijumpainya. Tetapi Umar memberikan jawaban yang cukup keras:
"Aku mau menjadi perantara kamu kepada Rasulullah? Sungguh,
kalau yang ada padaku hanya remah, pasti dengan itu pun akan
kulawan engkau." Seterusnya ia menemui Ali b. Abi Talib, dan
Fatimah ada di tempat itu. Dikemukakannya maksud kedatangannya
itu dan dimintanya supaya ia menjadi perantaranya kepada
Rasul. Tetapi Ali mengatakan dengan lemah-lembut bahwa tak ada
orang yang akan dapat menyuruh Muhammad menarik kembali
sesuatu yang sudah menjadi keputusannya. Selanjutnya utusan
Quraisy itu meminta pertolongan Fatimah supaya Hasan - anaknya
- berusaha memintakan perlindungan di kalangan khalayak ramai.

"Tak ada orang akan berbuat demikian itu dengan maksud akan
dihadapkan kepada Rasulullah," jawab Fatimah.

Sekarang keadaannya jadi makin gawat buat Abu Sufyan. Ia
meminta pendapat Ali.

"Sungguh saya tidak tahu, apa yang kiranya akan berguna buat
kau," jawab Ali. "Tetapi engkau pemimpin Banu Kinana. Cobalah
minta perlindungan kepada orang ramai; sesudah itu, pulanglah
ke negerimu. Saya kira ini tidak cukup memuaskan. Tapi hanya
itu yang dapat saya usulkan kepadamu."

Abu Sufyan lalu pergi ke mesjid dan di sana ia mengumumkan
bahwa ia sudah meminta perlindungan khalayak ramai. Kemudian
ia menaiki untanya dan berangkat pulang ke Mekah dengan
membawa perasaan kecewa karena rasa hina yang dihadapinya dari
anaknya sendiri dan dari orang-orang - yang sebelum mereka
hijrah - pernah mengharapkan belas-kasihannya.

Abu Sufyan kembali ke Mekah. Kepada masyarakatnya ia
melaporkan segala yang dialaminya selama di Medinah serta
perlindungan yang dimintanya dari masyarakat ramai atas saran
Ali, dan bahwa Muhammad belum memberikan persetujuannya.

"Sial!" kata mereka. "Orang itu lebih-lebih lagi mempermainkan
kau."

Lalu mereka kembali lagi mengadakan perundingan.

Sebaliknya Muhammad, ia berpendapat tidak akan memberikan
kesempatan mereka mengadakan persiapan untuk memeranginya.
Oleh karena ia sudah percaya pada kekuatan sendiri dan pada
pertolongan Tuhan kepadanya, ia berharap akan dapat menyergap
mereka dengan tiba-tiba, sehingga mereka tidak lagi sempat
mengadakan perlawanan dan dengan demikian mereka menyerah
tanpa pertumpahan darah.

Oleh karena itu diperintahkannya supaya orang bersiap-siap.
Dan setelah persiapan selesai, diberitahukan kepada mereka,
bahwa kini ia siap berangkat ke Mekah, dan diperintahkan pula
supaya mereka cepat-cepat. Sementara itu ia berdoa kepada
Tuhan mudah-mudahan Quraisy tidak sampai mengetahui berita
perjalanan Muslimin itu.

Ketika tentara Muslimin sudah siap-siap akan berangkat, Hatib
b. Abi Balta'a mengirim sepucuk surat di tangan seorang wanita
dari Mekah, budak salah seorang Banu 'Abd'l-Muttalib bernama
Sarah dengan dlberi upah supaya surat itu disampaikan kepada
pihak Quraisy, yang isinya memberitahukan, bahwa Muhammad
sedang mengadakan persiapan hendak menghadapi mereka.
Sebenarnya Hatib orang besar dalam Islam. Tapi sebagai
manusia, dari segi kejiwaannya ia mempunyai beberapa
kelemahan, yang kadang cukup menekan jiwanya sendiri dan
menghanyutkannya kedalam suatu masalah yang memang tidak
dikehendakinya. Masalah ini oleh Muhammad segera pula
diketahui.

Cepat-cepat disuruhnya Ali b. Abi Talib dan Zubair
bin'l-'Awwam mengejar Sarah. Wanita itu disuruh turun, surat
dicarinya di tempat barang tapi tidak juga diketemukan. Wanita
itu diperingatkan, bahwa kalau surat itu tidak dikeluarkan,
merekalah yang akan membongkarnya. Melihat keadaan yang begitu
sungguh-sungguh, wanita itu berkata: Lalulah.

Kemudian ia membuka ikatan rambutnya dan surat itu pun
dikeluarkan, yang oleh kedua orang itu lalu dibawa kembali ke
Medinah.

Sekarang Hatib dipanggil oleh Muhammad dan ditanya kenapa ia
sampai berbuat demikian.

"Rasulullah," kata Hatib. "Demi Allah, saya tetap beriman
kepada Allah dan kepada Rasulullah. Sedikit pun tak ada
perubahan pada diri saya. Akan tetapi saya, yang tidak punya
hubungan keluarga atau kerabat dengan mereka itu, mempunyai
seorang anak dan keluarga di tengah-tengah mereka. Maka itu
sebabnya saya hendak menenggang mereka."

"Rasulullah," sela Umar bin'l-Khattab. "Serahkan kepada saya,
akan saya penggal lehernya. Orang ini bermuka dua."

"Dari mana engkau mengetahui itu, Umar," kata Rasulullall.
"Kalau-kalau Allah sudah menempatkan dia sebagai orang-orang
Badr ketika terjadi Perang Badr." Lalu katanya: "Berbuatlah
sekehendak kamu. Sudah kumaafkan kamu."

Dan Hatib memang orang yang ikut dalam Perang Badr. Ketika
itulah firman Tuhan datang:

"Orang-orang yang beriman! Janganlah musuhKu dan musuh kamu
dijadikan sahabat-sahabat kamu, dengan memperlihatkan
kasih-sayang kamu kepada mereka." (Qur'an, 60: 1)

Sekarang pasukan tentara Muslimin sudah mulai bergerak dari
Medinah menuju Mekah, dengan tujuan membebaskan kota itu serta
menguasai Rumah Suci, yang oleh Tuhan telah dijadikan tempat
berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Pasukan ini bergerak dalam suatu jumlah yang belum pernah
dialami oleh kota Medinah. Mereka terdiri dan kabilah-kabilah
Sulaim, Muzaina, Ghatafan dan yang lain, yang telah
menggabungkan diri, baik kepada Muhajirin atau pun kepada
Anshar. Mereka berangkat bersama-sama dengan mengenakan
pakaian besi. Mereka melingkar ke tengah-tengah padang sahara
yang membentang luas itu, sehingga apabila kemah-kemah mereka
sudah dikembangkan, tertutup belaka oleh debu pasir sahara
itu; sehingga karenanya orang takkan dapat melihatnya. Mereka
yang terdiri dari ribuan orang itu telah mengadakan gerak
cepat. Setiap mereka melangkah maju, kabilah-kabilah lain ikut
menggabungkan diri, yang berarti menambah jumlah dan menambah
kekuatan pula. Semua mereka berangkat dengan kalbu yang penuh
iman, bahwa dengan pertolongan Allah mereka akan mendapat
kemenangan. Perjalanan ini dipimpin oleh Muhammad dengan
pikiran dan perhatian tertuju hanya hendak memasuki Rumah Suci
tanpa akan mengalirkan darah setetes sekalipun.

Bila pasukan ini sudah sampai di Marr'z-Zahran1 dan jumlah
anggota pasukan sudah mencapai sepuluh ribu orang, pihak
Quraisy belum juga mendapat berita. Mereka masih dalam
silang-sengketa, bagaimana caranya akan menangkis serangan
dari Muhammad.

Oleh Abbas b. 'Abd'l-Muttalib - paman Nabi ditinggalkannya
mereka itu dalam perdebatan dan dia sendin sekeluarga
berangkat menemui Muhammad di Juhfa.2 Boleh jadi sudah ada
orang-orang dari Banu Hasyim yang sudah menerima berita atau
semacam berita tentang kebenaran Nabi. Lalu mereka bermaksud
menggabungkan diri tanpa akan mendapat sesuatu gangguan.

(bersambung ke bagian 2/3)

---------------------------------------------
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

==============================

BAGIAN KEDUAPULUH EMPAT: PEMBEBASAN MEKAH (2/3)
Muhammad Husain Haekal

Disamping Abbas, yang juga berangkat menyongsong ialah Abu
Sufyan bin'l-Harith b. 'Abd'l-Muttalib, sepupu Nabi, Abdullah
b. Abi Umayya bin'l-Mughira, anak bibinya. Mereka
menggabungkan diri dengan pasukan Muslimin di Niq'l-'Uqab.
Mereka berdua minta ijin akan menemui Nabi, tapi Nabi menolak.

"Tidak perlu aku kepada mereka," katanya kepada Umm Salama,
isterinya, ketika ia mencoba membicarakan masalah dua orang
itu. "Aku sudah banyak menderita karena anak pamanku itu.
Sedang anak bibiku, dan iparku pula, ia sudah mengatakan yang
bukan-bukan ketika ia di Mekah."

Keterangan ini disampaikan kepada Abu Sufyan, dan dia berkata:

"Demi Allah, bagiku hanyalah aku ingin diijinkan bertemu,
atau, dengan bantuan anakku ini, kami akan pergi ke mana saja,
sampai kami mati kehausan dan kelaparan."

Nabi merasa kasihan kepada mereka. Kemudian mereka pun
diijinkan masuk menemuinya, dan mereka menyatakan masuk Islam.

Menyaksikan pasukan Muslimin serta kekuatannya yang demikian
rupa, Abbas b. 'Abd'l-Muttalib sekarang merasa cemas dan
terkejut sekali. Sekalipun ia sudah masuk Islam, namun hatinya
selalu kuatir akan bencana yang akan menimpa Mekah jika
kekuatan pasukan yang belum pernah ada bandingannya di seluruh
jazirah Arab itu kelak menyerbu ke dalam kota. Bukankah baru
saja ia meninggalkan Mekah, meninggalkan keluarga dan
handai-tolan, yang belum lagi terputus pertalian mereka karena
Islam yang baru dianutnya itu? Boleh jadi ia menyatakan rasa
kekuatirannya itu kepada Rasul, dan ia bertanya apa yang akan
diperbuatnya kalau pihak Quraisy minta damai. Atau boleh jadi
juga sepupunya ini yang dengan senang hati membuka pembicaraan
dengan Abbas dalam hal ini, dan diharapkannya ia menjadi
seorang utusan yang akan memberi kesan yang menakutkan kepada
sekelompok orang di kalangan Quraisy itu, sehingga kelak dapat
memasuki Mekah tanpa sesuatu pertumpahan darah dan Mekah akan
tetap dalam kesuciannya seperti dulu dan seperti yang
seharusnya akan demikian.

Dengan duduk di atas seekor bagal3 putih kepunyaan Nabi, Abbas
berangkat pergi ke daerah Arak, dengan harapan kalau-kalau ia
akan berjumpa dengan orang mencari kayu, atau tukang susu atau
dengan manusia siapa saja yang sedang pergi ke Mekah. Ia akan
menitipkan pesan kepada penduduk kota itu tentang kekuatan
pasukan Muslimin yang sebenarnya supaya mereka kelak menemui
Rasulullah dan minta damai sebelum pasukan ini memasuki kota
dengan kekerasan.

Sejak pihak Muslimin berlabuh di Marr'z-Zahran, pihak Quraisy
sudah mulai merasakan adanya bahaya yang sedang mendekati
mereka. Maka diutusnya Abu Sufyan b. Harb, Budail b. Warqa'
dan Hakim b. Hizam - masih kerabat Khadijah - mencari-cari
berita serta mengajuk sampai seberapa jauh bahaya yang mungkin
mengancam mereka itu.

Sementara Abbas sedang di atas bagal Nabi yang putih itu,
tiba-tiba ia mendengar ada percakapan antara Abu Sufyan b.
Harb dengan Budail b. Warqa' sebagai berikut:

Abu Sufyan: "Aku belum pernah melihat api unggun dan pasukan
tentara seperti yang kita lihat malam ini."

Budail: "Tentu itu api unggun Khuza'a yang sudah dirangsang
perang."

Abbas sudah mengenal suara Abu Sufyan itu, lalu dipanggilnya
dengan nama julukannya:

"Abu Hanzala!"

"Abu'l-Fadzl!" gilir Abu Sufyan menyahut.

"Abu Sufyan, kasihan engkau!" kata Abbas. "Rasulullah berada
di tengah-tengah rombongan itu. Apa jadinya Quraisy kalau
mereka memasuki Mekah dengan kekerasan."

"Apa yang harus kita perbuat!" kata Abu Sufyan. "Kupertaruhkan
ibu-bapaku untukmu."4

Oleh Abbas ia dinaikkannya di belakang bagal dan diajaknya
berangkat bersama-sama, sedang kedua temannya disuruhnya
kembali ke Mekah. Oleh karena ketika melihat bagal itu mereka
sudah mengenalnya, dibiarkannya ia dengan penumpangnya itu
lalu di hadapan mereka, di tengah-tengah sepuluh ribu orang
yang sedang memasang api unggun, yang sengaja dipasang untuk
menimbulkan kegentaran dalam hati penduduk Mekah.

Akan tetapi ketika bagal itu lalu di depan api unggun Umar
bin'l-Khattab, dan Umar melihatnya, sekaligus ia mengenal Abu
Sufyan dan diketahuinya pula bahwa Abbas hendak melindunginya.
Cepat-cepat ia pergi ke kemah Nabi dan dimintanya kepada Nabi
supaya batang leher orang itu dipenggal.

"Rasulullah," kata Abbas. "Saya sudah melindunginya."

Menghadapi situasi semacam itu dan waktu sudah malam pula, dan
setelah terjadi perdebatan yang kadang sengit juga antara Umar
dan Abbas, Muhammad berkata:

"Bawalah dia dulu ke tempatmu, Abbas. Pagi-pagi besok bawa ke
mari."

Keesokan harinya, bilamana Abu Sufyan sudah dibawa lagi
menghadap Nabi dan disaksikan oleh pembesar-pembesar dari
kalangan Muhajirin dan Anshar - terjadi dialog demikian ini:

Nabi: "Kasihan kamu Abu Sufyan! Bukankah sudah tiba waktunya
sekarang engkau harus mengetahui, bahwa tak ada Tuhan selain
Allah!?"

Abu Sufyan: "Demi ibu-bapaku! Sungguh bijaksana engkau!
Sungguh pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga!
Aku memang sudah menduga, bahwa tak ada tuhan selain Allah,
itu sudah mencukupi segalanya."

Nabi: "Kasihan engkau Abu Sufyan! Bukankah sudah tiba waktunya
engkau harus mengetahui, bahwa aku Rasulullah!?"

Abu Sufyan: "Demi ibu-bapaku! Sungguh bijaksana engkau!
Sungguh pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga!
Tetapi mengenai hal ini, sungguh sampai sekarang masih ada
sesuatu dalam hatiku."

Sekarang Abbas campur tangan. Ia bicara dengan ditujukan
kepada Abu Sufyan, supaya ia mau menerima Islam dan bersaksi
bahwa tak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad pesuruhNya
- sebelum batang lehernya dipenggal. Menghadapi hal ini buat
Abu Sufyan tak ada jalan lain ia harus menerima. Sekarang
Abbas menghadapkan pembicaraannya kepada Nabi 'alaihissalam:

"Rasulullah," katanya. "Abu Sufyan orang yang gila hormat.
Berikanlah sesuatu kepadanya."

"Ya," kata Rasulullah "Barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan,
orang itu selamat, barangsiapa menutup pintu rumahnya orang
itu selamat dan barangsiapa masuk ke dalam mesjid orang itu
juga selamat."

Ahli-ahli sejarah dan penulis-penulis riwayat hidup Nabi semua
sepakat tentang terjadinya peristiwa-peristiwa itu. Hanya
sebagian mereka masih ada yang bertanya-tanya: Adakah semua
itu terjadi karena kebetulan saja? Kepergian Abbas kepada Nabi
dengan maksud hendak pergi ke Medinah, tiba-tiba bertemu
dengan pasukan tentara Muslimin di Juhfa, begitu juga
kepergian Budail b. Warqa' dan Abu Sufyan b. Harb yang hanya
sekedar mau mengintai, padahal sebelum itu Budail sendiri
sudah ke Medinah dan melaporkan kepada Nabi apa yang telah
terjadi terhadap Khuza'a dan dari Nabi diketahuinya bahwa Nabi
akan membelanya. Adakah dalam kepergiannya ini Abu Sufyan
tidak menyadari bahwa Muhammad juga telah berangkat hendak
menyerbu Mekah? Ataukah karena sesuatunya itu - sedikit banyak
- dengan suatu persepakatan yang sudah diatur lebih dulu, dan
karena persepakatan itu pula, telah mempertemukan Abbas dengan
Abu Sufyan, dan bahwa Abu Sufyan sudah yakin - sejak ia pergi
ke Medinah hendak meminta perpanjangan waktu Perjanjian
Hudaibiya dan kembali dengan tangan kosong - bahwa tak ada
jalan lain buat Quraisy akan dapat menahan Muhammad dan yakin
pula ia bahwa kalau ia membukakan jalan untuk pembebasan itu
ia akan tetap memegang pimpinan dan mempertahankan
kedudukannya yang penting di Mekah, dan bahwa apa yang telah
menjadi persepakatan mereka itu tidak sampai pula kepada
Muhammad dan kepada orang-orang yang berkepentingan dengan
soal itu, dengan kenyataan bahwa Umar sendiri pun telah
bermaksud hendak membunuh Abu Sufyan? Besar sekali risikonya
kita akan menjatuhkan vonis. Tetapi rasanya kita sudah akan
dapat memastikan - untuk memuaskan hati kita - bahwa baik
karena suatu kebetulan saja yang telah menyebabkan semua
peristiwa itu, atau karena memang sudah ada semacam suatu
persepakatan, tapi yang terang kedua kejadian itu menunjukkan,
betapa cermat dan pandainya Muhammad dapat menguasai suatu
peperangan terbesar dalam sejarah Islam tanpa pertempuran dan
tanpa pertumpahan darah.

Islamnya Abu Sufyan itu tidak akan mengurangi kewaspadaan dan
kesiap-siagaan Muhammad dalam menyiapkan diri hendak memasuki
Mekah. Kalau kemenangan yang di tangan Tuhan itu memang
diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya, tapi Tuhan
akan memberikan pertolongan hanya kepada orang yang sudah
mengadakan persiapan, dan dalam segala hal dan setiap saat
berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Oleh karena itu
diperintahkannya supaya Abu Sufyan ditahan dulu di sela wadi,
pada sebuah jalan masuk gunung ke Mekah, sehingga bila nanti
pasukan Muslimin lewat, ia akan melihatnya sendiri, dan dapat
pula dengan jelas ia melaporkan kepada golongannya, supaya
jangan timbul perlawanan yang bagaimanapun bentuknya, apabila
ia dapat cepat-eepat kembali kepada mereka kelak.

Bilamana kemudian kabilah-kabilah itu lewat di hadapan Abu
Sufyan, yang sangat mempesonakan hatinya ialah batalion serba
hijau yang mengelilingi Muhammad, yang terdiri dari kaum
Muhajirin dan Anshar, dan yang tampak hanyalah pakaian besi.
Setelah mengetahui keadaan itu Abu Sufyan berkata:

"Abbas, kiranya takkan ada orang yang sanggup menghadapi
mereka itu. Abu'l-Fadzl, kerajaan kemenakanmu ini kelak akan
menjadi besar!"

Sesudah itu kemudian ia dibebaskan pergi menemui golongannya
dan dengan suara keras ia berteriak kepada mereka:

"Saudara-saudara Quraisy! Muhammad sekarang datang dengan
kekuatan yang takkan dapat kamu lawan. Tetapi barangsiapa
datang ke rumah Abu Sufyan orang itu selamat, barangsiapa
menutup pintu rumahnya, orang itu selamat dan barangsiapa
masuk ke dalam mesjid orang itu juga selamat!"

Muhammad sudah berangkat bersama pasukannya sampai ke
Dhu-Tuwa. Setelah dilihatnya dari tempat itu tak ada
perlawanan dari pihak Mekah, pasukannya dihentikan. Ia
membungkuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan, yang telah
membukakan pintu Lembah Wahyu dan tempat Rumah Suci itu
kepadanya dan kepada kaum Muslimin, sehingga mereka dapat
masuk dengan aman, dengan tenteram.

Dalam pada itu Abu Quhafa (ayah Abu Bakr) - yang belum lagi
masuk Islam waktu itu - meminta kepada cucunya yang perempuan
supaya ia dibawa mendaki gunung Abu Qubais. Sesampainya di
atas gunung, orang yang sudah buta itu bertanya kepada cucunya
apa yang dilihatnya. Oleh cucunya dijawab bahwa ia melihat
sesuatu serba hitam berkelompok "ltu pasukan berkuda", kata
orang tua itu.

"Sekarang yang serba hitam itu sudah terpencar," kata cucunya
lagi.

"Kalau begitu pasukan berkuda itu sedang bertolak ke Mekah.
Cepat-cepatlah bawa aku pulang ke rumah."

Tetapi sebelum ia sampai ke rumahnya pasukan berkuda itu sudah
lebih dulu sampai.

Muhammad merasa bersyukur kepada Tuhan karena pintu Mekah kini
telah terbuka. Tetapi sungguhpun demikian ia tetap selalu
waspada dan berhati-hati. Diperintahkannya pasukannya supaya
dipecah menjadi empat bagian. Diperintahkan kepada mereka
semua supaya jangan melakukan pertempuran, jangan sampai
meneteskan darah, kecuali jika sangat terpaksa sekali. Zubair
bin'l-'Awwam dalam memimpin pasukan itu ditempatkan pada sayap
kiri dan diperintahkan memasuki Mekah dari sebelah utara.
Khalid bin'l-Walid ditempatkan pada sayap kanan dan
diperintahkan supaya memasuki Mekah dari jurusan bawah. Sa'd
b. 'Ubada yang memimpin orang Medinah supaya memasuki Mekah
dari sebelah barat, sedang Abu 'Ubaida bin'l-Jarrah oleh
Muhammad ditempatkan ke dalam barisan Muhajirin dan
bersama-sama memasuki Mekah dari bagian atas, di kaki gunung
Hind.

Sementara mereka sedang dalam persiapan demikian itu,
tiba-tiba terdengar Said b. 'Ubada berkata:

"Hari ini adalah hari perang. Hari dibolehkannya segala yang
terlarang ..."

Dalam hal ini ia telah melanggar perintah Nabi, bahwa kaum
Muslimin tidak boleh membunuh penduduk Mekah. Oleh karena itu,
ketika Nabi mengetahui apa yang dikatakan oleh Sa'd itu,
terpikir olehnya akan mengambil bendera yang ada di tangannya
dan menyerahkannya kepada anaknya, Qais. Qais adalah laki-laki
yang bertubuh besar, tapi ia lebih tenang dari ayahnya.

Ketika pasukan sudah memasuki kota, dari pihak Mekah tidak ada
perlawanan, kecuali pasukan Khalid bin'l-Walid yang berhadapan
dengan perlawanan dari mereka yang tinggal di daerah bagian
bawah Mekah. Mereka ini terdiri dari orang-orang Quraisy yang
paling keras memusuhi Muhammad dan yang ikut serta dengan Banu
Bakr melanggar Perjanjian Hudaibiya dengan mengadakan serangan
terhadap Khuza'a. Mereka ini tidak mau memenuhi seruan Abu
Sufyan. Bahkan mereka telah menyiapkan diri hendak berperang,
sementara yang lain dari golongan mereka ini juga telah
bersiap-siap pula hendak melarikan diri. Mereka dipimpin oleh
Safwan, Suhail dan 'Ikrima b. Abi Jahl. Bilamana pasukan
Khalid ini datang, mereka menghujaninya dengan serangan panah.
Tetapi secepat itu pula Khalid berhasil meneerai-beraikan
mereka. Sungguhpun begitu dua orang dari anak buahnya tewas,
karena mereka ini ternyata sesat jalan dan terpisah dari induk
pasukannya, sementara pihak Quraisy kehilangan tigabelas
orang, menurut satu sumber, atau duapuluh delapan orang,
menurut sumber yang lain.

Melihat malapetaka yang sekarang sedang menimpa mereka ini,
Shafwan, Suhail dan 'Ikrima cepat-cepat angkat kaki melarikan
diri, dengan meninggalkan orang-orang yang tadinya mereka
kerahkan mengadakan perlawanan menghadapi kekuatan dan pukulan
Khalid yang heroik itu. Dalam pada itu Muhammad dengan pasukan
Muhajirin yang kini di atas sebuah dataran tinggi itu, sedang
menyusur turun menuju ke Mekah, dengan keyakinan hati hendak
membebaskannya dalam keadaan aman dan damai. Dilihatnya kota
itu dengan segala isinya, dilihatnya pula kilatan pedang di
bagian bawah kota serta pasukan Khalid yang sedang
mengejar-ngejar mereka yang menyerangnya itu. Disini ia merasa
sedih sekali dan berteriak geram dengan mengingatkan kembali
akan perintahnya untuk tidak mengadakan pertempuran. Setelah
diketahuinya kemudian apa yang telah terjadi, teringat ia
bahwa yang sudah dikehendaki Tuhan itulah yang baik.

Sekarang Muhammad berhenti di hulu kota Mekah, di hadapan
Bukit Hind. Di tempat itu dibangunnya sebuah kubah (kemah
lengkung), tidak jauh dari makam Abu Talib dan Khadijah.
Ketika ia ditanya, maukah ia beristirahat di rumahnya,
dijawabnya: "Tidak. Tidak ada rumah yang mereka tinggalkan
buat saya di Mekah," katanya. Kemudian ia masuk ke dalam kemah
lengkung itu, ia beristirahat dengan hati penuh rasa syukur
kepada Tuhan, karena ia telah kembali dengan terhormat, dengan
membawa kemenangan ke dalam kota, kota yang dulu telah
mengganggunya menyiksanya dan mengusirnya dari keluarga dan
kampung halamannya. Ia melepaskan pandang ke sekitar tempat
itu, ke lembah wadi dan gunung-gunung yang ada di
sekelilingnya. Gunung-gunung, tempat ia dahulu tinggal di
celah-celahnya, ketika tindakan Quraisy sudah begitu memuncak,
begitu keras mengasingkan dia. Di pegunungan itulah, yang juga
di antaranya Gua Hira, tempat ia menjalankan tahannuth ketika
datang kepadanya wahyu: 'Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah.
Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena.
Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya..."
(Qur'an, 96: 1-5)

Ke sekitar gunung-gunung itu ia melepaskan pandang, ke
lembah-lembah, dengan rumah-rumah Mekah yang bertebaran, dan
di tengah-tengah adalah Rumah Suci. Begitu rendah hati ia
kepada Tuhan, sehingga airmata menitik dari matanya, setitik
airmata Islam dan rasa syukur demi Kebenaran Yang Mutlak, yang
dalam segala soal kepadaNya jua akan kembali.

Saat itu juga terasa olehnya bahwa tugasnya sebagai komandan
sudah selesai. Tidak lama tinggal dalam kemah itu, ia segera
keluar lagi. Dinaikinya untanya Al-Qashwa, dan ia pergi
meneruskan perjalanan ke Ka'bah. Ia bertawaf di Ka'bah tujuh
kali dan menyentuh sudut (hajar aswad) dengan sebatang
tongkat5 di tangan. Selesai ia melakukan tawaf, dipanggilnya
Uthman b. Talha dan pintu Ka'bah dibuka. Sekarang Muhammad
berdiri di depan pintu, orang pun mulai berbondong-bondong. Ia
berkhotbah di hadapan mereka itu serta membacakan firman
Tuhan: "Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Tetapi orang
yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah
orang yang paling takwa (menjaga diri dari kejahatan). Allah
Maha mengetahui dan Maha mengerti." (Qur'an, 49: 13)

Kemudian ia menanya kepada mereka:

"Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan
kuperbuat terhadap kamu sekarang?"

"Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah."
jawab mereka.

"Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!" katanya.

Dengan ucapan itu maka kepada Quraisy dan seluruh penduduk
Mekah ia telah memberikan pengampunan umum (amnesti).

Alangkah indahnya pengampunan itu dikala ia mampu! Alangkah
besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran,
melampaui segala rasa dengki dan dendam di hati! Jiwa yang
telah dapat menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai
segala yang diatas kemampuan insani! Itu orang-orang Quraisy,
yang sudah dikenal betul oleh Muhammad, siapa-siapa mereka
yang pernah berkomplot hendak membunuhnya, siapa-siapa yang
telah menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dahulu,
siapa-siapa yang memeranginya di Badr dan di Uhud, siapa yang
dahulu mengepungnya dalam perang Khandaq? Dan siapa-siapa yang
telah menghasut orang-orang Arab semua supaya melawannya, dan
siapa pula, kalau berhasil, yang akan membunuhnya, akan
mencabiknya sampai berkeping-keping kapan saja kesempatan itu
ada!? Mereka itu, orang-orang Quraisy itu sekarang dalam
genggaman tangan Muhammad, berada di bawah telapak kakinya.
Perintahnya akan segera dilaksanakan terhadap mereka itu.
Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan
pada wewenangnya atas ribuan balatentara yang bersenjatakan
lengkap, yang akan dapat mengikis habis Mekah dengan seluruh
penduduknya dalam sekejap mata!
(bersambung ke bagian 3/3)
=======================================================

BAGIAN KEDUAPULUH EMPAT: PEMBEBASAN MEKAH (3/3)
Muhammad Husain Haekal

Tetapi Muhammad, tetapi Nabi, tetapi Rasulullah, bukanlah
manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan
permusuhan di kalangan umat manusia! Dia bukan seorang tiran,
bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah
memberi keringanan kepadanya dalam menghadapi musuh, dan dalam
kemampuannya itu ia memberi pengampunan. Dengan itu, kepada
seluruh dunia dan semua generasi ia telah memberi teladan
tentang kebaikan dan keteguhan menepati janji, tentang
kebebasan jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun!

Apabila Muhammad kemudian memasuki Ka'bah, dilihatnya
dinding-dinding Ka'bah sudah penuh dilukis dengan
gambar-gambar malaikat dan para nabi. Dilihatnya lbrahim yang
dilukiskan sedang memegang azlam6 yang diperundikan,
dilihatnya sebuah patung burung dara dari kayu. Dihancurkannya
patung itu dengan tangannya sendiri dan dicampakkannya ke
tanah. Ketika melihat gambar Ibrahim agak lama Muhammad
memandangnya, lalu katanya: Mudah-mudahan Tuhan membinasakan
mereka! Orang tua kita digambarkan mengundi dengan azlam! Apa
hubungannya Ibrahim dengan azlam'? Ibrahim bukan orang Yahudi,
juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang
murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Sedang
malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita
cantik, gambar-gambar itu oleh Muhammad disangkal samasekali,
sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan
perempuan. Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu
dihancurkan. Berhala-berhala sekeliling Ka'bah yang disembah
oleh Quraisy selain Allah, telah dilekatkan dengan timah di
sekeliling Ka'bah. Demikian juga berhala Hubal yang berada
didalamnya. Dengan tongkat di tangan Muhammad menunjuk kepada
berhala-berhala itu semua seraya berkata:

"Dan katakanlah : yang benar itu sudah datang, dan yang palsu
segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap."
(Qur'an, 17: 81)

Berhala-berhala itu kemudian disungkurkan dan dengan demikian
Rumah Suci itu dapat dibersihkan. Pada hari pertama
dibebaskannya mereka itu, Muhammad telah dapat menyelesaikan
apa yang dianjurkannya sejak duapuluh tahun itu, dan yang
telah ditentang oleh Mekah dengan mati-matian. Dihancurkannya
berhala-berhala dan dihapuskannya paganisma dalam Rumah Suci
itu disaksikan oleh Quraisy sendiri. Mereka melihat
berhala-berhala yang mereka sembah dan disembah oleh
nenek-moyang mereka itu samasekali tidak dapat memberi
kebaikan atau bahaya buat mereka sendiri.

Pihak Anshar dari Medinah telah menyaksikan semua kejadian
itu. Mereka melihat Muhammad yang berdoa di atas gunung Shafa.
Terbayang oleh mereka sekarang bahwa ia pasti akan
meninggalkan Medinah dan kembali ke tempat tumpah darahnya
semula yang kini telah dibukakan Tuhan. Mereka berkata satu
sama lain: "Menurut pendapat kamu, adakah Rasulullah s.a.w.
akan menetap di negerinya sendiri?" Mungkin kekuatiran mereka
itu beralasan sekali. Ini adalah Rasulullah, dan di Mekah ini
Rumah Suci Baitullah dan di Mekah ini pula Mesjid Suci.

Tetapi setelah selesai berdoa Muhammad bertanya kepada mereka:
Apa yang mereka katakan itu. Setelah diketahuinya akan
kekuatiran mereka yang mereka sampaikan dengan agak maju
mundur itu, ia berkata: "Berlindunglah kita kepada Allah!
Hidup dan matiku akan bersama kamu." Dengan itu ia telah
memberikan teladan kepada orang tentang keteguhannya memegang
janji pada Ikrar 'Aqaba serta kesetiannya kepada
sahabat-sahabatnya yang seiring sepenanggungan di kala
menderita, teladan yang takkan dapat dilupakan, baik oleh
tanah air, oleh penduduk atau pun oleh Mekah sebagai Tanah
Suci.

***

Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Ka'bah, Nabi
menyuruh Bilal menyerukan azan dari atas Ka'bah. Sesudah itu
orang melakukan sembahyang bersama dan Muhammad sebagai imam.
Sejak saat itu, sampai masa kita sekarang ini, selama
empatbelas abad, tiada pernah terputus Bilal dan
pengganti-pengganti Bilal terus menyerukan azan, lima kali
setiap hari, dari atas mesjid Mekah. Sejak saat itu, selama
empatbelas abad sudah, kaum Muslimin menunaikan kewajiban
salat kepada Allah dan selawat kepada Rasul, dengan
menghadapkan wajah, kalbu dan seluruh pikiran kepada Allah
semata, dengan menghadap Rumah Suci ini, yang pada hari
pembebasannya itu oleh Muhammad telah dibersihkan dari
patung-patung dan berhala-berhala.

Atas apa yang telah terjadi itu baru sekarang Quraisy mau
menerima, dan mereka pun sudah yakin pula akan pengampunan
yang telah diberikan Muhammad kepada mereka. Mereka melihat
Muhammad dan Muslimin yang ada di sekitarnya sekarang dengan
mata penuh takjub bercampur cemas dan hati-hati sekali. Namun
sungguhpun begitu ada sekelompok manusia terdiri dari
tujuhbelas orang, oleh Muhammad telah dikecualikan dari
pengampunannya itu. Sejak ia memasuki Mekah, sudah dikeluarkan
perintah supaya mereka itu, golongan laki-lakinya dibunuh,
meskipun mereka sudah berlindung ke tirai Ka'bah. Diantara
mereka itu ada yang bersembunyi dan ada pula yang sudah lari.
Keputusan Muhammad supaya mereka dibunuh bukan didorong oleh
rasa dengki atau karena marah kepada mereka, melainkan karena
kejahatan-kejahatan besar yang mereka lakukan. Ia tidak pernah
mengenal rasa dengki. Diantara mereka itu terdapat Abdullah b.
Abi's-Sarh, orang yang dulu sudah masuk Islam dan menuliskan
wahyu, kemudian berbalik murtad menjadi musyrik di pihak
Quraisy dengan menggembor-gemborkan bahwa dia telah memalsukan
wahyu itu waktu ia menuliskannya. Juga Abdullah b. Khatal,
yang dulu sudah masuk Islam kemudian sesudah ia membunuh salah
seorang bekas budak ia berbalik menjadi musyrik dan menyuruh
kedua budaknya yang perempuan - Fartana dan temannya -
menyanyi-nyanyi mengejek Muhammad. Dia dan kedua orang itu
juga dijatuhi hukuman mati. Di samping itu 'Ikrimah b. Abi
Jahl, orang yang paling keras memusuhi Muhammad dan kaum
Muslimin dan sampai waktu Khalid bin'l-Walid datang memasuki
Mekah dari jurusan bawah itu pun tiada henti-hentinya ia
mengadakan permusuhan.

Sesudah memasuki Mekah pun Muhammad sudah mengeluarkan
perintah jangan sampai ada pertumpahan darah dan jangan ada
seorang pun yang dibunuh, kecuali kelompok itu saja. Oleh
karena itu, mereka suami isteri lalu menyembunyikan diri, ada
pula yang lari. Tetapi setelah keadaan kembali aman dan
tenteram, dan orang melihat betapa Rasulullah berlapang dada
dan memberikan pengampunan yang begitu besar kepada mereka,
ada beberapa orang sahabat yang minta supaya mereka yang sudah
dijatuhi hukuman mati itu juga diberi pengampunan. Usman bin
'Affan - yang masih saudara susuan dengan Abdullah b.
Abi's-Sarh - juga datang kepada Nabi, memintakan jaminan
pengampunan. Seketika lamanya Nabi diam. Kemudian katanya:
"Ya" Dan dia pun diampuni. Sedang Umm Hakim (bint'l-Harith b.
Hisyam) telah pula memintakan kepada Muhammad jaminan
pengampuhan buat suaminya, 'Ikrima b. Abi Jahl yang telah lari
ke Yaman. Dia ini pun diampuni. Wanita itu kemudian pergi
menyusul suaminya dan dibawanya kembali menghadap Nabi.
Demikian juga Muhammad telah memaafkan Shafwan b. Umayya,
orang yang telah menemani 'Ikrima lari ke jurusan laut dengan
tujuan hendak ke Yaman. Kedua orang itu dibawa kembali tatkala
perahu yang hendak membawa mereka sudah siap akan berangkat.
Juga Hindun, isteri Abu Sufyan, yang telah mengunyah hati
Hamzah - paman Rasul sesudah gugur dalam perang Uhud - telah
dimaafkan, disamping orang-orang lain yang tadinya sudah
dihukum mati, semuanya dimaafkan. Yang dibunuh hanya empat,
yaitu Huwairith yang telah menggangu Zainab puteri Nabi
sepulangnya dari Mekah ke Medinah, serta dua orang yang sudah
masuk Islam lalu melakukan kejahatan dengan mengadakan
pembunuhan di Medinah dan kemudian melarikan diri ke Mekah
berbalik meninggalkan agamanya menjadi musyrik dan dua orang
budak perempuan Ibn Khatal, yang selalu mengganggu Nabi dengan
nyanyian-nyanyiannya. Yang seorang dari mereka ini lari, dan
yang seorang lagi diberi pengampunan.

Keesokan harinya setelah hari pembebasan itu ada seseorang
dari pihak Hudhail yang masih musyrik oleh Khuza'a dibunuh.
Nabi marah sekali karena perbuatan itu, dan dalam khotbahnya
di hadapan orang banyak ia berkata:

"Wahai manusia sekalian! Allah telah menjadikan Mekah ini
tanah suci sejak Ia menciptakan langit dan bumi. Ia suci sejak
pertama, kedua dan ketiga, sampai hari kiamat. Oleh karena
itu, orang yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian
tidak dibenarkan mengadakan pertumpahan darah atau menebang
pohon di tempat ini. Tidak dibenarkan kepada siapa pun sebelum
aku, dan tidak dibenarkan kepada siapa pun sesudah aku ini.
Juga aku pun tidak dibenarkan marah kepada penghuni daerah ini
hanya untuk saat ini saja, kemudian ia kembali dihormati
seperti sebelum itu. Hendaklah kamu yang hadir ini
memberitahukan kepada yang tidak hadir. Kalau ada orang yang
mengatakan kepadamu bahwa Rasulullah telah berperang di tempat
ini, katakanlah bahwa Allah telah membolehkan hal itu kepada
RasulNya, tapi tidak kepada kamu sekalian, wahai orang-orang
Khuza'a! Lepaskanlah tangan kamu dari pembunuhan, sebab sudah
terlalu banyak; itu pun kalau ada gunanya. Kalau kamu sudah
membunuh orang, tentu aku juga yang akan menebusnya.
Barangsiapa ada yang dibunuh sesudah ucapanku ini; maka
keluarganya dapat memilih satu dari dua pertimbangan ini:
kalau mereka mau, dapat menuntut darah pembunuhnya; atau
dengan jalan diat."

Sesudah itu kemudian ia mendiat (memampas) keluarga orang yang
dibunuh oleh Khuza'a itu. Dengan khotbah itu serta sikapnya
yang begitu lapang dada dan suka memaafkan, hati penduduk
telah begitu tertarik kepada Muhammad yang tadinya di luar
dugaan mereka. Dengan demikian pula orang telah beramai-ramai
masuk Islam.

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian setiap
berhala dalam rumahnya hendaknya dihancurkan," demikian
kemudian suara orang menyerukan.

Kemudian dikirimnya serombongan orang dari Khuza'a untuk
memperbaiki tiang-tiang sekitar Tanah Suci itu, suatu hal yang
menunjukkan betapa besar penduduk Mekah itu menghormati tempat
ini, dan yang menambah pula kecintaan mereka kepadanya.
Setelah diberitahukan bahwa mereka adalah masyarakat yang
patut dicintai dan bahwa ia tidak akan membiarkan atau
meninggalkan mereka, kalau tidak karena mereka yang
mengusirnya, kecintaan mereka terasa makin besar kepadanya.

Ketika itu Abu Bakr datang membawa ayahnya - yang dulu pernah
mendaki gunung Abu Qubais waktu ada pasukan berkuda - ke
hadapan Nabi. Melihat orang itu Muhammad berkata:

"Kenapa orang tua ini tidak tinggal saja di rumah; biar saya
yang datang kesana."

"Rasulullah," kata Abu Bakr, "sudah pada tempatnya dia yang
datang kepadamu daripada engkau yang mendatanginya."

Orang tua itu oleh Nabi dipersilakan duduk dan dielus-elusnya
dadanya; kemudian katanya:

"Sudilah menerima Islam."

Kemudian ia pun menyatakan diri masuk Islam dan menjadi orang
Islam yang baik. Akhlak Nabi yang tinggi dan cemerlang inilah
yang banyak menawan hati bangsa itu. Bangsa yang tadinya
begitu keras melawan Muhammad, sekarang mereka sangat
mencintai dan menghormatinya. Kini orang-orang Quraisy itu,
laki-laki dan perempuan, sudah menerima Islam dan sudah pula
memberikan ikrarnya.

Limabelas hari Muhammad tinggal di Mekah. Selama itu pula
keadaan Mekah dibangunnya dan penduduk diajarnya mendalami
hukum agama. Dan selama itu pula regu-regu dakwah dikirimkan
untuk mengajarkan Islam, bukan untuk berperang, dan untuk
menghancurkan berhala-berhala tanpa pertumpahan darah. Khalid
bin'l-Walid waktu itu sudah berangkat ke Nakhla untuk
menghancurkan 'Uzza - berhala Banu Syaiban. Tetapi setelah
berhala itu dihancurkan dan Khalid berada di Jadhima, begitu
mereka melihatnya, mereka pun segera mengangkat senjata. Oleh
Khalid mereka diminta supaya meletakkan senjata, orang semua
sudah masuk Islam. Salah seorang dari Banu Jadhima berkata
kepada golongannya: "Hai Banu Jadhima! Celaka kamu! Itu
Khalid. Sesudah perletakan senjata tentu kita ditawan dan
sesudah penawanan potong leher."

Tetapi golongannya itu menjawab:

"Maksudmu kita akan menumpahkan darah kita? Orang semua sudah
masuk Islam, perang sudah tidak ada, orang sudah aman."

Sesudah itu terjadi perletakan senjata. Ketika itulah dengan
perintah Khalid mereka dibelenggu, kemudian dibawai pedang dan
sebagian mereka ada yang dibunuh.

Apabila kemudian berita itu sampai kepada Nabi ia mengangkat
tangan ke langit seraya berdoa:

"Allahumma ya Allah! Aku bermohon kepadaMu lepas tangan dari
apa yang telah diperbuat oleh Khalid bin'l-Walid itu."

Sesudah itu Ali b. Abi Talib yang diutus dengan pesan:

"Pergilah kepada mereka dan lihat bagaimana keadaan mereka.
Cara-cara jahiliah harus kauletakkan di bawah telapak kakimu."

Ali segera berangkat dengan membawa harta yang oleh Nabi
diserahkan kepadanya. Sesampainya di tempat itu diat dan
pampasan sebagai tebusan darah dan harta-benda yang telah
dirusak, diserahkan kepada mereka, sehingga semua tebusan
darah dan pampasan harta-benda itu selesai dilaksanakan.
Sedang uang selebihnya yang diserahkan Rasulullah kepadanya
itu, semua diserahkan juga kepada mereka, untuk menjaga maksud
Rasulullah, kalau-kalau ada yang belum diketahuinya.

Dalam waktu dua minggu selama Muhammad tinggal di Mekah semua
jejak paganisma sudah dapat dibersihkan. Jabatan dalam Rumah
Suci yang sudah pindah kepada Islam sampai pada waktu itu
ialah kunci Ka'bah, yang oleh Nabi diserahkan kepada Uthman b.
Talha dan sesudah dia kepada anak-anaknya, yang tidak boleh
berpindah tangan, dan barangsiapa mengambilnya orang itu
aniaya adanya. Sedang pengurusan Air Zamzam pada musim haji di
tangan pamannya Abbas.

Dengan demikian seluruh Mekah sudah beriman, panji dan menara
tauhid sudah menjulang tinggi dan selama berabad-abad dunia
sudah pula disinari cahayanya yang berkilauan.

Catatan kaki:

1 Sejauh empat farsakh dan Mekah.

2 Beberapa penulis sejarah Nabi berpendapat, bahwa
Abbas menemui pasukan itu di Rabiqh. Yang lain
mengatakan, bahwa ia pergi ke Medinah sebelum ada
keputusan membebaskan Mekah. kemudian ia berangkat
bersama-sama pasukan pembebas itu. Tetapi banyak orang
membantah sumber ini dan diduga itu dibuat untuk
menyenangkan hati dinasti Abbasiya, yang penulisannya
pertama dilakukan pada masa mereka. Alasan ini mereka
perkuat bahwa Abbas - yang membela saudara sepupunya
selama di Mekah itu - tidak juga menganut agamanya,
sebab Abbas adalah seorang pedagang dan juga
menjalankan riba, dikuatirkan Islam akan mengganggu
perdagangannya. Ditambah lagi, bahwa dialah orang
pertama yang akan dijumpai oleh Abu Sufyan untuk diajak
bicara mengenai perpanjangan perjanjian Hudaibiya,
mengingat ia belum seberapa lama meninggalkan Mekah.

3 Sebangsa keledai, turunan kuda dengan keledai. Di
sini baghla, bagal betina (A).

4 Lihat halaman 326.

5 Asalnya: mihjan sebatang tongkat yang hulunya
berkeluk.

6 Al-azlam (jamak zalam dan zulam) yaitu qid-h (atau
anak panah tanpa kepala dan bulu) suatu kebiasaan yang
berlaku pada zaman jahiliah. Pada anak panah itu
tertulis kata perintah dan larangan: "kerjakan!" dan
"Jangan dikerjakan!" Benda itu dimasukkan orang ke
dalam sebuah tabung. Apabila orang hendak melakukan
perjalanan, perkawinan atau sesuatu yang penting
lainnya, ia memasukkan tangannya kedalam tabung itu
setelah diperkenankan dan dikocok, dan sebuah zalam
dicabutnya. Kalau yang keluar berisi "perintah" ia
boleh terus melaksanakan; kalau yang keluar berisi
"larangan" ia harus membatalkan maksudnya. Mengundi
dengan anak panah ini ialah guna mengetahui baik
buruknya nasib seseorang.

---------------------------------------------
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1
agamaislam wrote on Mar 25
poddie said
Tiada muncikari selain Owloh, dan Muhammad adalah tukang pukulnya! (merangkap tukang test pelacur)
Tiada muncikari selain poddie, dan poddie adalah tukang pukulnya! (merangkap tukang test pelacur)
agamaislam wrote on Mar 25, edited on Mar 25
poddie said
si dongo serbuiff ternyata masih hidup!!! ngga pernah lagi ke soangsoang.multiply.com, abis disana ditabok bolak balik sih!!! Xi xi xixi!!!
lu yg dongo...hi,hi,hi...soang2 itu mah pengecut luaaar biasa.....kemaren...tuh mpnya di tutup + comment pade didelete...takut ditangkap polisi trus postingan /comment gue di blogny dg jududl ..SEORANG MUSLIM DG NICKNAME : SERBUIFF.didelete.......juga comment yg lain di blognya pade didelete.....benerkan omongan gue ...gembong iff itu punya rudal andalan yaitu rudal DELETE !!! dasaaar pengecut......lu soangsoang ya alias si ceprot ...ngaku aja...
poddie wrote on Mar 25
Tiada muncikari selain Owloh, dan Muhammad adalah tukang pukulnya! (merangkap tukang test pelacur)
poddie wrote on Mar 25
si dongo serbuiff ternyata masih hidup!!! ngga pernah lagi ke soangsoang.multiply.com, abis disana ditabok bolak balik sih!!! Xi xi xixi!!!
.
..
.
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help